Initial Draft of Research Proposal Presentation

Saat ini saya sedang merasa sangat bersyukur untuk menjadi mahasiswa research route dalam program Magister International Politics di University of Manchester. Hal ini karena pada hari ini, Senin, 23 Februari 2015, saya (secara relatif) berhasil mempresentasikan proposal tesis saya.

Seperti yang sudah pernah saya jelaskan sebelumnya, di research route setiap mahasiswa diberikan beban yang lebih berat untuk memahami metodologi riset dan karena itulah mayoritas mata kuliah memiliki tema tata cara riset seperti Philosophy of Political Research, Elite Interviewing, Understanding Big Data, dan mata kuliah yang hari ini mewajibkan saya untuk mempresentasikan proposal tesis saya yakni Dissertation Research Design.

Mata kuliah Dissertation Research Design mewajibkan mahasiswa untuk berdiskusi secara intensif dengan pembimbing tesis mereka sebelum akhirnya mempresentasikan desain awal proposal tesis mereka di depan dosen pengampu dan mahasiswa lainnya. Sayangnya, pembimbing saya sedang berada di Amerika Serikat selama satu minggu terakhir sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk berkonsultasi dengannya terlebih dahulu. Namun saya memang telah menyiapkan proposal saya sejak beberapa bulan yang lalu untuk mempersiapkan diri menghadapi mata kuliah ini. Akhirnya saya pun mempresentasikan proposal riset saya tanpa ada revisi sedikitpun dari pembimbing.

Saya memilih untuk menjadi penyaji pertama di kelas saya, karena saya merasa masih cukup segar untuk mempresentasikan proposal saya di pagi hari dan juga dengan menjadi yang pertama artinya saya memiliki waktu yang sangat banyak untuk merivisi proposal saya. Presentasi berlangsung selama kurang lebih 15 menit dengan tambahan 15 menit untuk sesi tanya jawab.

Proposal tesis saya berjudul ‘Rethinking Indonesia’s Involvement in Forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC)’. Saya ingin membahas perihal peranan Indonesia di dalam FEALAC melalui perspektif neo-gramscian. Apa yang memotivasi Indonesia untuk turut serta di dalamnya? Apakah motivasi tersebut cukup kuat? Jika tidak, mengapa masih dilanjutkan? Apa yang dapat diperbaiki untuk memaksimalkan peranan Indonesia di FEALAC?

Presentasi saya buka dengan memaparkan latar belakang serta justifikasi mengapa saya memilih Indonesia dan FEALAC sebagai studi kasus. Menurut saya, FEALAC merupakan jembatan satu-satunya yang secara spesifik menghubungkkan negara-negara Asia Timur dan Amerika Latin. Melalui FEALAC, para negara anggota diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan marginalisasi melalui dialog ekonomi politik. Tujuan tersebut lah yang mungkin dahulu dijadikan landasan oleh Perdana Menteri Singapura dan Perdana Menteri Chile pada tahun 1998 dalam mendirikan FEALAC. Di beberapa artikel dan laporan juga disebutkan bahwa FEALAC telah meningkatkan volume perdagangan antara negara-negara Asia Timur dengan Amerika Latin, terutama saat memasuki milenium baru. Melalui FEALAC pula, negara-negara Asia Timur dan Amerika Latin dapat secara relatif mempertahankan diri dari krisis finansial global yang melanda di tahun 2008.

Justifikasi berikutnya adalah perihal mengapa saya memilih Indonesia sebagai suatu studi kasus. Saya menyampaikan kepada rekan-rekan saya bahwa setidaknya terdapat dua alasan sederhana (dan tidak memiliki argumentasi akademik) yang memotivasi saya untuk menulis tentang Indonesia: kontrak sosial dengan pemberi beasiswa serta rasa cinta. Saya menjelaskan bahwa saya adalah penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia. Melihat bahwa negara telah mempercayai saya untuk menimba ilmu di luar negeri, maka salah satu cara sederhana untuk membalas kepercayaan tersebut adalah dengan menuliskan sesuatu yang dapat berguna bagi kemajuan bangsa ke depannya. Kemudian, saya tidak bias memungkiri bahwa saya sangat mencintai Indonesia. Dari pernyataan inilah kemudian rekan-rekan saya mengklaim bahwa sesungguhnya saya lebih merupakan seorang realis daripada seorang neo-gramscian. Mereka menyatakan bahwa alasan saya ini menunjukkan bahwa saya menempatkan negara di atas segalanya. Namun saya tidak peduli. Lagipula, kedua alasan ini adalah alasan non-ilmiah.

Terdapat beberapa justifikasi ilmiah yang saya berikan kepada rekan-rekan saya. Pertama adalah karena masih sangat terbatasnya literatur yang membahas FEALAC, khususnya peranan Indonesia di dalamnya. Sejauh ini, berbagai berkas yang terdapat secara online masih merupakan dokumen-dokumen resmi FEALAC yang berisikan prinsip, tujuan,dan deskripsi umum forum tersebut. Terdapat beberapa literatur yang membahas FEALAC dari level analisa internasional yang mana secara keseluruhan menganalisa eksistensi FEALAC dari perspektif structural-fungsional organisasi. Sangat jarang yang membahas bagaimana suatu negara dapat memaksimalkan FEALAC untuk memenuhi kepentingan mereka. Kedua, walaupun FEALAC saat ini merupakan koridor satu-satunya yang menyatukan Asia Timur dengan Amerika Latin, namun implikasi yang dihasilkan masih sangat dapat diperdebatkan. Statistik yang dirilis oleh the Economic Commission for Latin America and the Caribbean (ECLAC) menunjukkan bahwa setelah didirikannya FEALAC, volume perdagangan antar kedua kawasan meningkat namun efek FEALAC di dalamnya masih sangat dapat dipertanyakan. Apakah peningkatan tersebut benar-benar karena FEALAC? Apakah tidak ada faktor lain yang lebih mainstream – seperti perkembangan transportasi udara misalnya – yang mendorong peningkatan tersebut? Ketiga adalah karena saya melihat, terutama pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia memiliki ambisi untuk menjadi suatu hagemon di kawasan Asia terutama Asia Tenggara. Berbagai literatur dapat ditemukan yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat prospektif, belum lagi bonus demografi yang sedang kita alami,, pertumbuhan yang cukup progresif, dan lain-lain. Belum lagi mempertimbangkan kebijakan luar negeri di era SBY yang dapat dengan mudah diinterpretasikan sebagai upaya untuk menggalang dukungan sebanyak-banyaknya melalui manifestasi ‘Million Friends, Zero Enemy’. Keempat, sesungguhnya peranan Indonesia di FEALAC sangat meningkat pada periode SBY jika dibandinkan tahun-tahun sebelumnya. Indonesia sempat menjadi Regional Coordinator (RC) pada tahun 2008 hingga 2013. Namun eksistensi Indonesia di kancah internasional tersebut tidak terasa hingga ke level akar rumput. Hal ini menandakan bahwa terdapat suatu kesalahan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut.

Or in my case, "Don't you know I'm an expert on Indonesian issues?"
Or in my case, “Don’t you know I’m an expert on Indonesian issues?”

Namun lagi-lagi, justifikasi saya di atas bukan tanpa kritik. Teman-teman saya menyatakan bahwa artinya peranan Indonesia tidak cukup signifikan di dalam FEALAC. Dengan itu, artinya Indonesia tidak bias dijadikan patokan sebagai trend setter akan segala fenomena yang terjadi di FEALAC. Menurut rekan-rekan saya, suatu studi kasus seharusnya dapat dijadikan sebagai salah satu titik keberangkatan untuk melihat fenomena global yang serupa. Jika keterlibatan suatu negara di FEALAC ingin dijadikan sebagai suatu studi kasus, artinya fenomena yang didaptkan dari studi kasus tersebut dapat pula dijadikan referensi eksplanasi bagi kasus lain seperti misalnya keterlibatan Italia di EU-Mercosur Agreement atau peranan Perancis dalam the Asia-Europe Meeting (ASEM). Namun salah satu persyaratannya adalah aktor yang akan dijadikan studi kasus memiliki peranan yang cukup signifikan di dalam perjanjian interregional tersebut.

Presentasi saya lanjutkan dengan penjelasan perihal metodologi yang akan saya gunakan. Saya menjelaskan bahwa saya akan menggunakan konsep kekuatan sosial (forces) neo-gramsci dalam menjelaskan keterlibatan Indonesia di dalam FEALAC. Artinya, saya akan mencari tahu peranan dari segitiga neo-gramscian yang mendasari keterlibatan Indonesia sejak 1999 hingga saat ini: ide, kemampuan material, dan institusi. Ide yang saya maksud disini adalah diskursus publik apa yang mendominasi pada masa awal keterlibatan Indonesia, hingga transformasi diskursus politik tersebut hingga era SBY. Saya juga akan mencari kiranya ‘bekal’ apa yang Indonesia miliki untuk terjun ke dalam komitmen multiregional ini. Apakah sumber daya alam merupakan pertimbangan utama? Atau kesadaran akan sumber daya manusia juga menjadi pertimbangan? Bagaimana peranan teknologi yang Indonesia kuasai disana? Dan yang terakhir saya akan melihat institusi apa yang mendukung keterlibatan ini sedari awal. Demi mendapatkan informasi yang menyuluruh pun saya berusaha untuk membandingkan peranan Indonesia di FEALAC dengan di ASEM. Eksplorasi akan similaritas motif dan tujuan menjadi penting dalam perbandingan ini. Demi melihat konsistensi keluaran dari kedua forum tersebut, maka bingkai teori yang saya gunakan pun sama yakni neo-gramscian. Kemudian, saya pun menyadari akan dibutuhkannya data primer demi mendapatkan hasil analisa yang mendalam. Dengan demikian saya merencanakan untuk mengadakan wawancara dengan beberapa pejabat pemerintah dan akademisi yang memiliki fokus dibidang ini.

Dalam hal metodologi terdapat setidaknya dua kekhawatiran dari rekan-rekan dan dosen saya: tertutupnya kemungkinan terhadap temuan-temuan baru dan visibilitas pengumpulan data primer. Jika saya ingin melakukan pengambilan data primer seperti wawancara ataupun observasi partisipasi, maka untuk dating ke dalam human setting – seperti halnya lingkungan magang (jika saya berencana untuk magang di suatu institusi) atau interaksi yang terjadi saat wawancara – dengan membawa suatu ide tertentu sangatlah tidak disarankan. Seorang peneliti harus memasuki human setting tersebut sebagai suatu ‘kertas kosong’ dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Dengan datang tanpa membawa ide apapun, kesempatan seorang peneliti untuk dapat meleburkan diri dan mendapatkan kepercayaan dari human setting pun akan lebih besar. Namun, implementasi pengumpulan data primer ini pun akan membawa saya ke kekhawatiran kedua, yakni akankah waktu yang disediakan oleh pihak universitas cukup memadai? Akankah human setting saya memaparkan data dan/atau informasi yang sebenarnya? Apakah human setting – terutama politisi – akan menjelaskan sesuatu yang sesungguhnya tentang kebijakan mereka? Jika pun mereka akan menyatakan yang sesungguhnya, bukankah mereka akan cenderung berkata, “Keep it off the record, would you?

Never!

Secara keseluruhan, dosen pengampu mata kuliah ini mengatakan bahwa walaupun proyek saya terlihat sangat ambisius, namun fondasi dari proposal saya sudah cukup kuat. Dosen saya sangat mengapresiasi justifikasi yang saya berikan dalam memilih Indonesia dan FEALAC sebagai studi kasus. Penguasaan terhadap landasan teori pun mendapatkan apresiasi yang tinggi dari rekan-rekan dan juga dosen saya. Namun memang penghalang utama adalah dari segi metodologi, dimana tesis saya sesungguhnya membutuhkan waktu setidaknya 18 bulan agar saya dapat mendapatkan data primer. Angka 18 tersebut didapatkan melalui standar minimal seorang antropolog untuk dapat menganalisa temuan-temuannya di lapangan. Secara keseluruhan saya merasa puas dengan presentasi proposal saya hari ini. Berbagai kekurangan memang sempat membuat saya mempertanyakan ke diri saya sendiri perihal visibilitas tesis ini. Namun semoga saja seiring berjalannya waktu, saya dapat mendapatkan lebih banyak feedback dari dosen pembimbing saya, serta inspirasi dari lingkungan sekitar. Semoga saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s