‘Kepentok sistem’

Sore ini saya menyempatkan diri untuk berbincang dengan seorang teman yang saat ini sedang menempuh pendidikan untuk menjadi seorang diplomat. Demi keberlangsungan karirnya saya memutuskan untuk tidak menyebutkan identitasnya. Kami berbincang cukup lama dan membahas berbagai hal, hingga sampailah kami pada titik dimana teman saya ini bertanya perihal pandangan saya tentang berbagai isu yang sedang terjadi di Indonesia, salah satunya isu perihal global maritime fulcrum.

“Your view on global maritime fulcrum?”, tanya rekan saya.

Saya pun sesungguhnya agak bingung untuk menjawabnya. Saya pada awalnya menawarkan untuk menjawab pertanyaan tersebut dari perspektif liberalisme. Awalnya saya berpikir bahwa mungkin teman saya sedang membutuhkan bantuan untuk menjawab suatu pertanyaan yang diberikan oleh pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sebagai salah satu fase pendidikannya. Dengan asumsi tersebut, maka saya memutuskan untuk ‘membantu’ teman saya ini dari sudut pandang problem solving theory. Namun ternyata Ia tidak puas dengan jawaban saya karena jawaban yang ‘normatif dan diplomatis’ bisa Ia dapatkan di tempat kerjanya saat ini. Pernyataan yang agak berbahaya sebenarnya, namun saya harus sepakat. Akhirnya saya pun menawarkan pandangan dari perspektif critical theory.

Permasalahannya adalah bahwa saya menyadari betapa rumitnya ide yang akan saya sampaikan. Saya (untuk kesekian kalinya) meminjam pemisahan teori dari Robert Cox: problem solving theory dan critical theory. Sederhananya, problem solving theory menerima struktur yang sudah ada saat ini dan memilih untuk memperbaiki struktur tersebut. Sementara itu critical theory mempertanyakan asal mula struktur yang sudah ada, apa hal-hal ‘tidak kasat mata’ yang tersembunyi dibalik struktur, hingga potensi untuk perubahan total.

Sebagai pembuka untuk menjawab pertanyaan teman saya di atas, yang harus dipahami adalah bahwa sesungguhnya apapun kebijakan pemerintah – baik pemerintah Indonesia atau negara manapun – selama kebijakan tersebut masih meneruskan tradisi neo-liberalisme (sebagai struktur yang sudah ada saat ini) maka tidak seharusnya masyarakat mengharapkan akan terjadinya perubahan yang fundamental. Artinya, pemerintah memilih untuk menjadi problem solver dan memilih untuk menambal segala kebocoran yang telah terjadi (evident) selama ini. Dengan demikian yang saya maksud dari terminologi ‘fundamental’ disini adalah perubahan yang berasal dan ditujukan untuk masyarakat sebagai kumpulan manusia. Perubahan yang sifatnya kritis, menolak struktur yang sudah ada sebagai sesuatu yang diberikan oleh alam (as given), dan melihat lebih dalam untuk mencari eksploitasi yang diselimuti oleh struktur.

“Mau pendekatannya darat kek, mau laut kek, mau udara kek, mau tanah, semua ngga ada artinya kalau itu buat preserving the existing system”.

tumblr_inline_nkno7a5cQ81smsdyv

Ketika pembangunan jalan bebas hambatan yang menghubungkan berbagai pulau di Indonesia, peremajaan pelabuhan di berbagai kota, pembangunan infrastruktur kelautan di Indonesia bagian timur, dan berbagai kebijakan lain yang telah dicanangkan oleh pemerintah ditujukan untuk meningkatkan volume dagang, menekan angka kemiskinan, mempromosikan pertumbuhan, atau memperkaya saudara kita di Indonesia timur maka menurut saya hal tersebut hanya akan melanjutkan sifat (nature) dasar neo-liberalisme yakni kontradiksi: janji akan kesetaraan yang diraih melalu eksploitasi satu kelas terhadap kelas lainnya.

“It’s a politically fabricated system that made gap between the rich and the poor even wider”.

Untuk saat ini, hanya ini respon yang dapat saya berikan kepada teman saya. Semoga portofolio singkat ini bisa memberikan gambaran akan dasar argumen critical theory yang diadopsi oleh banyak orang; paling tidak oleh akademisi yang berada diluar sistem.

“Yg mana bikin makin menarik sebenernya, justru gue belom terpuaskan sama jawaban orang orang. … Minta jawaban ama org sini ya dapetnya diplomatis dan normatif”, sebutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s