Something to talk about

Cuaca di Manchester beberapa hari terakhir sedang hangat-hangatnya. Matahari sedang bersahabat dengan orang-orang di kota ini yang hampir setiap hari memakai jaket dan menggigil kedinginan. Cuaca yang membuat saya hanya ingin pergi ke Whitworth Park dan menghabiskan waktu seharian dengan menjemur diri. Mungkin bulan ini adalah momen yang tepat bagi para wisatawan jika ingin berkunjung ke Britania Raya secara keseluruhan.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk berolahraga kemarin. Saya berlari dari tempat tinggal saya, mengarah ke selatan Manchester, tepatnya ke kawasan Anson Road melalui Upper Brook Street. Dengan kondisi fisik yang pas-pasan, saya hanya mampu berlari selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu saya hanya mampu berjalan sambal menahan rasa sakit. Saya pun mengarahkan diri saya ke Whitworth Park, salah satu taman yang cukup besar yang berada disekitar wilayah kampus University of Manchester. Saya menidurkan diri dihamparan rumput yang cukup luas tersebut dan secara tidak sadar saya tertidur.

Namun yang menarik bukanlah perihal deskripsi kegiatan yang saya lalui. Yang menarik bukanlah kenyataan bahwa selama 15 menit saya berlari, saya hanya berdiam diri dan menatap jalan raya karena saya tidak memiliki berkas music di telepon genggam saya. Yang menarik adalah bagaimana disaat saya terdiam tersebut, saya memiliki kesempatan untuk memikirkan berbagai hal yang cukup liar, aneh, namun sedikit filosofis. Diantaranya adalah:

  1. Yang bilang kalo lari itu gampang, ribut sama gua.

Saya merasa bahwa saya cukup familiar dengan dunia olahraga. Sejak Sekolah Dasar (SD) saya bermain sepakbola – walaupun mobilitas saya terhambat oleh lemak yang tertimbun di badan ini. Sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga kini pun saya masih sangat aktif bermain bola basket; olahraga yang saya sangat cintai. Rutinitas seperti pemanasan hingga pendinginan pun merupakan suatu hal yang lumrah untuk dijalankan. Pola makan yang diberikan oleh pelatih basket saya saat SMP pun selalu saya ingat: jika ingin makan, maka makanlah maksimal satu jam sebelum berolahraga.

Exercise-Gif

Maka, dengan bekal pengalaman dan kebiasaan saya berolahraga, saya pun sarapan satu jam sebelum saya berlari dan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Sebelum berlari, saya pun berjalan selama lima menit agar tubuh saya tidak kaget. Namun entah apa yang terjadi, saya hanya mampu berlari selama 15 menit – itupun hanya perkiraan kasar setelah melihat jam beberapa kali. Betis kaki kanan saya sakit luar biasa; tulang punggung saya merasa sangat pegal; diafragma saya seakan tidak meruang secara maksimal untuk menampung oksigen. Belum lagi pikiran (mental state) anda yang secara konstan menyuruh anda untuk menyerah, pulang, dan menonton YouTube. Ternyata berlari tidak semudah yang saya bayangkan.

  1. Orang tua memberi nama anaknya sesuai dengan bunyi yang familiar(!)

Saya sampai pada kesimpulan bahwa seseorang (tidak harus orang tua) memberikan nama kepada orang lainnya tidak hanya karena alasan-alasan klise yang selama ini kita dengar seperti memiliki pesan yang baik, sesuai dengan ajaran agama, mengadopsi nama figur publik, dan lain-lain, namun juga karena ketika nama tersebut dilafalkan maka suaranya terdengar tidak asing di telinga sang pemberi nama. Misalnya saja nama ‘Muhammad’ atau ‘Ben’. Kedua nama ini akan sangat familiar di telinga orang Indonesia karena mayoritas penduduknya secara turun temurun selalu digaungkan dengan nama-nama tersebut. Seandainya saja nama ‘Błaszczykowski’ diberikan kepada seseorang di Indonesia, bisakah anda membayangkan raut wajah seorang guru saat melakukan absensi?

confused

  1. Apa kabar ya pak Jokowi?

Tidak, saya tidak mengenal Bapak Joko Widodo secara personal. Melihat figurnya secara langsung pun tidak pernah. Tiba-tiba saja saya memikirkan beliau. Saya tidak memikirkan karir politik beliau, tidak pula saya memikirkan perihal segala permasalahan Negara yang Ia coba tangani. Saya tidak penasaran dengan hal-hal tersebut karena menurut saya beliau memiliki mekanisme yang canggih untuk menangani segala permasalahan tersebut. Saya juga menganggap perdebatan akan metode Ia memimpin tidaklah sepadan untuk dibahas di dalam otak saya yang saat itu sedang berlari.

Hal yang ingin saya ketahui adalah bagaimana sisi manusiawi dari seorang Joko Widodo, terutama dalam upayanya merespon kritik. Saat ini saya berada dititik dimana saya tidak percaya akan adanya manusia yang sama sekali dapat memisahkan kehidupan personal dengan wilayah profesional. Sedikit banyak pasti kedua dunia (realm) tersebut akan mempengaruhi satu sama lainnya. Dalam level personal, saya percaya bahwa setiap manusia memiliki nilai tersendiri. Nilai inilah yang Ia gunakan untuk menginterpretasikan apa yang Ia hadapi sehari-hari. Bagi seorang optimis, jatuh dari sepeda merupakan salah satu cara ‘alam’ untuk menunjukkan kepadanya bahwa ‘jatuh’ adalah salah satu proses kehidupan yang harus kita jalani. Dengan demikian, teruslah bersepeda. Namun bagi seorang pesimis, jatuh merupakan akhir dari segalanya. ‘Jatuh’ adalah pertanda dari Tuhan bahwa Ia harus berhenti bersepeda. Namun acapkali, pandangan personal seseorang berbeda dengan realita yang Ia dapati di dunia profesional.

Saat ini Bapak Joko Widodo sedang disorot habis-habisan oleh media massa – dan sayangnya mayoritas berita yang saya ikuti selalu menunjukkan sisi negatif dari metode kepemimpinan beliau. Mulai dari kasus KPK vs. Polri, uang muka mobil pejabat pemerintah, hingga barisan pimpinan negara di acara peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Saya membayangkan, apa yang Joko Widodo rasakan saat sepertinya seluruh pihak menyalahkan dirinya? Walaupun saya rasa Ia akan menjawab pertanyaan saya dengan “Saya ngga apa-apa”, saya menolak untuk percaya. Tidak mungkin Ia mati rasa akan cibiran orang-orang terhadapnya. Apa sebenarnya yang salah dari esensi ‘kritik’?

  1. Kebanyakan ngeluh jadi ngga bersyukur.

مَّا يَفْعَلُ اللَّـهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّـهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

What would Allah do with your punishment if you are grateful and believe? And ever is Allah Appreciative and Knowing”.

Advertisements

One thought on “Something to talk about

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s