Gerak!

Cukup banyak sepertinya individu yang memberikan komentar negatif pada aksi unjuk rasa mahasiswa yang diselenggarakan pada 21 Mei 2015 silam. Melalui media sosial, banyak pengguna yang merasa bahwa gerakan mahasiswa tidak lagi murni bahkan cenderung ‘melempem’ pasca reformasi. Belum lagi suara-suara yang menyatakan bahwa perwakilan mahasiswa dapat dibeli idealismenya hanya melalui undangan makan malam Presiden Joko Widodo yang diadakan beberapa hari sebelumnya. Jujur saja, saya agak jengah membaca komentar-komentar tersebut.

Saya tidak dibesarkan oleh keluarga pergerakan. Sangat sedikit (atau bahkan tidak ada) anggota keluarga saya yang merupakan mantan aktivis reformasi atau pegiat gerakan sosial di level mahasiswa. Saya pun memilih untuk tidak terjun ke dunia pergerakan ketika belajar di UGM. Namun saya tahu bahwa rekan-rekan mahasiswa memiliki hak yang diatur oleh hukum positif untuk mengemukakan pendapat mereka melalui jalur demonstrasi. Hak berpendapat teman-teman mahasiswa dilindungi oleh hukum; sama seperti hak bersuara milik saya dan anda. Maka adalah sah ketika mereka menggunakan hak tersebut.

Seringkali pula saya berpendapat bahwa saya tidak terlalu suka terhadap gerakan yang menuntut perubahan instan, terlalu dependen terhadap peranan pemerintah, dan meminta sesuatu yang tidak masuk akal (seperti isu penggulingan Presiden Joko Widodo misalnya). Saya pun mengutarakan hal ini kepada beberapa rekan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Indonesia bahwa memimpin Indonesia tidaklah mudah, bung! Namun saya pun menyadari betul bahwa teman-teman BEM adalah golongan cendikia yang telebih dahulu melakukan kajian atas aksi yang akan mereka jalankan. Teman-teman mahasiswa tidak serta merta turun ke jalan, merapatkan barisan, dan bertiak dengan lantang tanpa membawa modal apapun sebagai ‘senjata’ mereka. Memobilisasi ribuan massa, konsolidasi internal mahasiswa, mempercayai sebuah ide, dan mengkaji fakta-fakta yang ada juga tidak mudah, bung!

Ketika perbedaan metode terjadi, itupun merupakan sesuatu yang sudah sepantasnya kita apresiasi. Ketika teman-teman mahasiswaa melakukan aksi unjuk rasa melalui media mimbar terbuka, hal tersebut adalah mekanisme yang sah. Ketika teman-teman mahasiswa pun melakukan pendekatan yang lebih diplomatis melalui kehadiran mereka dalam undangan makan malam dari Presiden, itu pun adalah mekanisme yang sah. Tidak semata-mata dengan hadirnya mahasiswa di dalam undangan makan malam tersebut ekuivalen dengan impotensi pergerakan kaum muda kontemporer. Hal tersebut hanya menunjukkan bagaimana rekan-rekan mahasiswa memaksimalkan berbagai lorong yang tersedia untuk mengartikulasikan kepentingan mereka. Ketika mahasiswa mengadakan konferensi akademik, menyelenggarakan program pengabdian masyarakat, atau sesederhana menulis artikel di dalam media, maka hal-hal inipun juga merupakan lorong yang sah untuk dilalui sebagai bentuk mengekspresikan ide.

Sudah barang tentu anda dapat mengambil banyak referensi akan filosofi pergerakan mahasiswa, motif, tuntutan, bentuk, metode, dan lain-lain diberbagai sumber. Namun melalui tulisan singkat ini saya hanya ingin menyampaikan bahwa setiap individu memiliki hak untuk mengekspresikan kepentingan masing-masing selama hal tersebut tidak melanggar nilai, norma, dan hukum yang berlaku.

Ditulis pada 26 Mei 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s