What a Difference a Day Makes

Bukan masakan Indonesia yang membuat saya senang pulang ke Tanah Air. Bukan pula kemacetan Ibu Kota yang membuat saya bersemangat menginjakan kaki disana. Bukan hanya keluarga, sahabat, dan atmosfer ‘rumah’ yang menenggelamkan saya dalam euforia, namun perasaan untuk menjadi berguna bagi orang lain lah yang membuat saya merasa lebih segar ketika kembali ke Manchester.

Perasaan tersebut saya dapatkan dari tiga pengalaman yang berbeda, namun semuanya berhubungan dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK). Saya mohon maaf apabila dalam beberapa paragraf ke depan tulisan ini terlihat sangat propagandis dan terkesan ‘politically related’ dengan PPI UK, namun percayalah bahwa tulisana ini jujur dan sangat jauh dari nilai-nilai pencitraan. Alasan saya menuliskan keseluruhan artikel ini bukan untuk mempromosikan PPI UK dan/atau menunjukkan kebanggaan saya (kebanggaan dalam konteks pamer atau bragging) sebagai salah satu anggotanya. Bukan itu.

Pengalaman pertama berkaitan dengan kegiatan Simposium PPI Kawasan Amerika-Eropa (PPI Amerop) yang diselenggarakan di Moskow pada tanggal 6-8 Mei 2015. Bersama dengan dua orang staff PPI UK yang lain yakni Luthfilaudri Nadhira (Ketua Sub-Divisi Eksternal) dan Talitha (Staff Sub-Divisi Seni), kami melenggang ke Moskow untuk bertemu dengan perwakilan PPI negara lain di kawasan Amerika dan Eropa. Tujuan dari kegiatan ini salah satunya adalah untuk membawa kajian masing-masing PPI negara untuk kemudian dibentuk menjadi sebuah rekomendasi kepada pemerintah Indonesia. Pada kesempatan ini, saya membawa kajian yang telah disiapkan oleh tim PPI UK serta kajian bertema Good Governance yang direkomendasikan oleh Ervan Arumsyah, Ketua PPI Hull. Simposium kemudian dibagi ke dalam tiga komisi yakni komisi politik, komisi keamanan, dan komisi ekonomi. Saya sendiri dialokasikan ke dalam komisi politik. Anggota lain di dalam komisi tersebut adalah perwakilan dari PPI Austria, PPI Belanda, PPI Kanada, PPI Perancis, dan tuan rumah, Pemira Rusia. Namun, karena berbagai keterbatasan yang bersifat sangat struktural seperti waktu yang sangat sempit, ketiadaan tolak ukur format penulisan rekomendasi, hingga begitu banyaknya perdebatan saat sesi rapat paripurna, usulan yang komisi politik lahirkan pun kurang komprehensif. Jujur saja, produk akhir dari komisi kami adalah murni buah pemikiran tuan rumah. Terdapat nilai-nilai yang sebenarnya masih bisa digali secara lebih mendalam dan juga masih banyak aspek-aspek lain yang sesungguhnya masih dapat diberi perhatian. Namun sayangnya, lagi-lagi, waktu kami habis hanya untuk membahas rekomendasi yang telah disiapkan oleh rekan-rekan Pemira Rusia. Upaya saya memasukkan hasil kajian dari PPI UK selalu terbentur dengan halangan struktural yang ada. Menyadari hal ini, maka ketika hasil akhir rekomendasi dibacakan dan setiap perwakilan PPI Negara dimintai tanda tangan sebagai bukti dukungan, saya – dalam kapasitas saya sebagai Ketua PPI UK – memutuskan untuk tidak membubuhkan tanda tangan saya di dalam rekomendasi tersebut.

(ouch)
(ouch)

Terlepas dari substansi rekomendasi dan sistematika penulisan yang saya rasa masih bisa dimaksimalkan, saya cukup bersyukur karena saya telah memperjuangkan kajian yang dibuat secara maksimal oleh saudara Ervan dan rekan-rekan PPI UK. Saya merasa senang telah melemparkan argumen yang sesungguhnya dapat meningkatkan substansi pembuatan rekomendasi ini. Namun apa daya perjuangan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dalam kurun waktu dua hari saja. Saya pun bersyukur karena saya diberikan kesempatan untuk bertemu individu-individu yang luar biasa dari berbagai negara. Simposium PPI Amerop ini memberikan saya kesempatan untuk bertemu duo PPI Italia yang berasal dari kota Calibria yakni Samuel Ampudan dan Ignasius Anjar; Indah Tridiyanti dan Nadya Kaitjily yang mewakili PPI Perancis; Avi Amerta sang undergrad yang berani mewakili PPI Kanada dan menjadi satu-satunya perwakilan dari benua Amerika; PPI Belanda yang diwakili oleh Hapsari Cinantya, Hariadi ‘Jejey’ Aji, dan Wirawan Agahari; trisula maut PPI Jerman yakni Sugih Abraham, Alavi Ali, dan Anggit Prasidha; serta teman-teman Pemira Rusia yang ternyata memiliki potensi-potensi unik seperti Mario Djabbar, Dedy Simatupang, Aji Said Qardhawi, Musdaliva Hardinas, hingga Suci Puti Melati. Setidaknya dua hari penuh argumentasi dan perdebatan saya lalui dengan manusia-manusia menyenangkan ini.

Pengalaman kedua yang membuat saya merasa berguna berkaitan erat dengan tujuan kepulangan saya ke Indonesia yakni mencari dana untuk kegiatan PPI UK. Kegiatan yang saya maksud adalah ISIC 2015, Palapa Project 2015, dan Volunteer for Indonesia (VFI) 2015. Ketiga program ini adalah program-program PPI UK yang berskala paling besar mulai dari keuangan, lingkup isu, hingga target peserta. Utamanya lingkup isu, dimana ketiga program ini menyentuh ranah akademik, kewirausahaan, serta pengabdian masyarakat sebagai landasan pelaksanaannya. Kami membutuhkan dana sekitar £98.000 untuk merealisasikan kegiatan tersebut. Alhasil saya membagi tugas dengan rekan-rekan PPI UK yang lain, dimana saya akan berusaha mencari sponsor di Indonesia dan mereka memfokuskan perhatian di kawasan Britania Raya.

Awalnya saya merencanakan untuk berada di Indonesia hingga saya mendapatkan target minimal. Saya sudah menyiapkan daftar perusahaan potensial yang bisa saya kunjungi. Strategi utama saya adalah saya akan memprioritaskan terlebih dahulu jejaring personal yang saya miliki, baru kemudian saya akan melebarkan sayap berdasarkan rekomendasi jejaring pribadi saya tersebut. Alhasil daftar yang saya buat berisikan nama-nama yang sangat familiar, yang sebagian besar merupakan anggota keluarga saya. Namun mohon maaf kepada teman-teman sekalian karena daftar tersebut tidak akan saya publikasikan disini. Dibantu oleh sahabat saya, Dara Ninggarwati, di awal kami menyiapkan setidaknya dua belas daftar panjang sponsor potensial. Kami mempersiapkan janji temu setiap harinya agar waktu saya di Indonesia tidak sia-sia. Ketika sahabat saya bekerja, saya mempresentasikan secara maraton ketiga program PPI UK tersebut setiap harinya, dari hari Senin hingga hari Jumat. Saya hanya memiliki waktu ‘luang’ pada akhir minggu serta saat saya harus ke Yogyakarta untuk melaksanakan salah satu program PPI UK. Saya juga dibantu oleh saudari Widia Jessti yang merupakan Kepala Divisi Sponsorship ISIC 2015 serta Megan Abigail. Kedua wanita ini memberikan saya rekomendasi perusahaan berdasarkan jejaring personal mereka dan puji Tuhan saya berhasil menunaikan amanah dari keduanya untuk mempresentasikan ISIC, PALAPA, dan VFI. Dari dua belas, daftar tersebut bertambah menjadi enam belas, dan pada akhirnya kami berhasil mengunjungi sembilan belas perusahaan dalam kurun waktu dua minggu. Namun sungguh disayangkan karena saya harus segera kembali ke Manchester karena pihak universitas memberikan notifikasi bahwa mahasiswa harus mengisi census form terkait Visa para pelajar.

Selama dua minggu ke belakang, saya bekerja dengan sangat keras untuk mencari dana. Saya bahkan tidur lebih larut dibandingkan ketika saya menghadapi deadline tugas di Manchester. Saya pulang lebih larut dibandingkan ketika saya mempersiapkan diri untuk menulis tugas akhir di Manchester. Saya mempersiapkan bahan presentasi secara lebih serius, menata apa yang harus saya sampaikan ketika presentasi, mengatur rute perjalanan agar lebih efisien, dan lain-lain. Saya merasa bahwa tanggung jawab saya terhadap 2.000 mahasiswa Indonesia di Britania Raya akan tercermin dari kerja keras saya di Jakarta. Visi dan misi yang saya usung ketika menjadi calon Ketua PPI UK hanya akan tuntas ketika saya berhasil membantu teman-teman saya untuk merealisasikan program-program ini. Dan saya tahu, bahwa dengan saya berusaha semaksimal mungkin, sekeras tenaga, tidak akan ada yang bisa mencibir saya dan rekan-rekan PPI UK dan bertanya dengan intonasi sarkastik, “PPI UK kerjanya apa sih?”. Lagi-lagi, saya menuliskan hal-hal ini bukan untuk memamerkan kerja keras saya, namun agar teman-teman tahu detail pelaksanaan pencarian dana ini. Agar teman-teman mengerti mengapa pada akhirnya saya merasa berguna.

Dari sembilan belas sponsor potensial yang saya hampiri tersebut, setidaknya lima perusahaan langsung menolak tawaran saya. Dan saya tidak akan bohong kepada anda dengan menghembuskan angin optimisme dan utopia – karena pada kenyataannya saya merasa hancur seketika di tempat! Pada satu minggu pertama, saya menghampiri berbagai sponsor potensial dengan menjadi seorang ‘Fundraiser Aldo’: dengan ratusan basa-basi, raut wajah dikendalikan sedemikian rupa agar selalu melempar senyum, dan lain-lain. Namun lima perusahaan menolak saya! Dan saya tidak bisa menerima hal tersebut. Pendekatan saya pun lama kelamaan berubah. Entah apakah ini adalah mekanisme biologi saya ketika menerima penolakan atau mungkin hal ini merupakan kalkulasi rasional dari otak saya untuk merubah pendekatan saya dalam melobi para sponsor potensial. Klimaksnya datang ketika saya dan sahabat saya bertemu dengan Sandiaga Uno. Pada hari itu, Jumat 22 Mei 2015, saya mendapatkan kabar bahwa beliau dapat ditemui di kediamannya sekitar pukul 11.30 WIB pasca beliau memberikan materi pada suatu seminar. Dalam pesan tersebut juga disampaikan bahwa waktu yang saya miliki sangat terbatas karena beliau harus melaksanakan ibadah Shalat Jumat dan pergi ke tempat lain. Singkat cerita, saya pada akhirnya mengikuti terlebih dahulu sesi seminar yang beliau isi dan kemudian saya menunggunya di suatu ruangan di belakang panggung. Saat beliau masuk, saya menjabat tangannya, kemudian kami duduk dan saya berucap, “Tadi om bilang bahwa value is a solution to a problem. Dan saya disini akan menawarkan value kepada om. And I will not go home empty-handed”, sambil saya menyerahkan proposal kegiatan PPI UK.

Tadi om bilang bahwa value is a solution to a problem. Dan saya disini akan menawarkan value kepada om. And I will not go home empty-handed.

Disitu saya hanya terfokus pada wajah poker face beliau. Yang ada di otak saya adalah pertanyaan akan mengapa saya berani-beraninya datang ke rumahnya, tanpa basa-basi sedikitpun, dan langsung melemparkan (bukan secara harfiah) agenda PPI UK. Ketika kami pulang pun, sahabat saya hanya dapat menghela nafas dan secara konstan mengingatkan bahwa budaya ketimuran Indonesia tidak dapat menerima pendekatan tersebut. Masuk akal memang, namun argumen saya adalah pada dasarnya seluruh perilaku manusia adalah eksperimen sosial yang kemungkinan berhasil dan gagalnya masing-masing adalah 50%. Maka apa yang terjadi, terjadilah.

Hell yeah I wasn't!
Hell yeah I wasn’t!

Hingga kini belum ada lagi yang memberikan balasan perihal apakah mereka bersedia untuk memberikan bantuan dana kepada PPI UK atau tidak. Yang jelas perjuangan saya belum berhenti disini. Saya dan teman-teman PPI UK masih akan silih berganti menghampiri berbagai sponsor potensial yang dapat membantu acara kami. Rekan-rekan saya pun akan menggantikan saya di Indonesia seperti Rahmi Jabir (Kepala Divisi Minat dan Bakat) yang akan pulang dalam waktu dekat.

Pengalaman ketiga berhubungan dengan kegiatan PPI UK di Yogyakarta pada 18 Mei 2015 yang lalu. Di Yogyakarta saya melaksanakan program ‘PPI UK Goes Back Home’ yang bertemakan tentang melanjutkan pendidikan tinggi di Britania Raya. Dalam kesempatan kali ini saya banyak dibantu oleh Rizky Danurwindo yang rela menjadi pembicara secara gratis dan adik-adik Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI) UGM yang rela menjadi tenaga-tenaga relawan dalam merealisasikan acara ini. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 150 orang ini menjadi sesi diskusi dan berbagi pengalaman yang sangat menarik menurut saya. Sesinya sangat informal, tidak kaku, dan berlangsung cukup intim karena kami memang meluangkan sangat banyak waktu untuk sesi tanya-jawab. Wajah para peserta diskusi mengingatkan saya akan diri saya beberapa bulan yang lalu, yang sangat terinspirasi dengan presentasi dari perwakilan PPI UK dalam acara yang diselenggarakan oleh British Council. Wajah yang sangat penasaran ingin mendengarkan pengalaman pribadi orang lain serta wajah yang sangat bersemangat untuk mengejar impian melanjutkan studi di luar negeri. Acara yang berlangsung selama tiga jam ini seakan membawa saya ke sebuah lorong waktu yang membawa saya ke titik awal perjuangan saya menjadi bagian dari PPI UK yakni berbagi inspirasi dengan sesama.

Dan sekarang sampailah saya ke Manchester. Dengan senyuman yang biasa saya berikan ketika menginjakkan kaki di Yogyakarta atau ketika saya sampai di bandara Soekarno-Hatta dua minggu yang lalu. Senyuman yang melambangkan kesegaran pikiran, ekspektasi akan kebahagiaan, dan perasaan akan kepulangan saya ke kenyamanan ‘rumah’. Semoga segala pelajaran yang saya dapatkan dari Indonesia dapat membuahkan hasil. Semoga juga kepulangan saya ke Indonesia dapat semakin mendekatkan mimpi teman-teman PPI UK untuk merealisasikan ISIC 2015, PALAPA Project 2015, dan VFI 2015. Niat yang baik niscaya akan melahirkan hasil yang baik pula. Semangat!

kanye-west-motivation-dope-inspiration-gif

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s