Dream a Little, Dream of Me

Halo, Sahabat.

Sepertinya saya masih jet lag karena sedari pukul 03.30 saya tidak bisa kembali tertidur. Dan kini waktu telah menunjukkan pukul 05.38, sudah kurang lebih tiga jam sejak mata saya terbuka dan tiga jam sejak saya membaca dua lembar surat yang kamu tinggalkan di tasku. Surat yang dibuat secara terburu-buru namun tetap saya mengerti esensinya. Surat yang membangunkan saya baik secara harfiah maupun tidak.

Alasan saya menuliskan artikel ini sesungguhnya beragam. Namun tentu saja faktor terbesar adalah sebagai respon atas surat yang kamu berikan. Atau bisa saja karena dipengaruhi oleh material yang mengelilingi saya seperti fotomu yang saya gantung di jendela kamar, atau sejarah perbincangan kita di LINE dan Facebook, atau mungkin karena tumpukan baju yang saya letakkan di atas kursi dan bendera Manchester United yang terbentang luas di kamar saya – yang sesungguhnya tidak berkatian denganmu – namun tetap membuat saya ingin mendedikasikan sebuah tulisan khusus untuk kamu. Entahlah. Seperti yang sering kita tertawakan, dunia ini memiliki mekanisme kerja yang sangat lucu.

Sahabat, selama dua minggu ke belakang saya pun menyadari bahwa waktu yang kita miliki, berdua, dan untuk kebutuhan di luar pekerjaan masing-masing, sangatlah terbatas. Kamu terjerat di tengah kesibukanmu sebagai budak korporat yang mewajibkanmu untuk tergopoh-gopoh menemui klien kesana kemari, dan saya yang juga hanya memiliki sedikit ruang untuk melakukan aktivitas di luar pencarian dana. Kamu yang secara konstan berkomunikasi dengan puluhan orang per harinya sambil menunaikan kewajiban untuk menjadi tiang keluarga dan role model untuk adik-adikmu, dan aku yang memisahkan antara hubungan personal dengan hubungan profesional di dalam keseharianku. Segala batasan direct, struktural, maupun kultural harus membatasi (atau malah membendung) kerinduan kita akan satu sama lain yang telah berjuang untuk selalu berkomunikasi selama delapan bulan terakhir walaupun terpisahkan secara geografis. Prinsip ‘essence over presence’ yang kita terapkan selama saya di Manchester ternyata tidak serta menta runtuh ketika kita berada di satu kota yang sama. Hidup tidak sesederhana yang kita bayangkan tiga atau empat tahun yang lalu.

Namun seperti yang kamu bilang, saya menolak untuk melihat kesempatan yang Tuhan berikan melalui perspektif ketidakbersyukuran. Pada hari-hari awal saya menginjakkan kaki di Indonesia, kamu bilang,

If I could, if the circumstances are allowing, I will do everything I could to spend my time with you even for the tiniest bit.

Dan percayalah, sayang, we did. Di tengah segala kesibukan kita, di tengah segala hambatan yang ada, di tengah kerumunan pekerjaan dan tuntutan profesional yang masing-masing dari kita miliki, kita masih tetap memiliki waktu untuk berkumpul dan berkomunikasi secara langsung. Tuhan dan alam semesta memberikan kita porsi yang sempurna untuk sekedar menyapa di tengah kesibukan dan mengucapkan salam sebelum menghadapi kesibukan yang lain. Beberapa jam denganmu, menonton The Avengers sudah cukup bagi saya untuk menuntaskan secercah kerinduan saya sebenarnya. Namun pada kenyataannya kita masih diberikan kesempatan yang lain. Saya masih dapat mengenalkanmu kepada salah satu sahabat saya di Manchester yang bernama Anggara Pradhana saat kita makan siang di Plaza Senayan, kita masih bisa menghabiskan satu mangkok besar Bubur Alfa di Kebon Jeruk, dan kita bahkan masih menjadi tim yang sangat baik saat bertemu dengan seorang Sandiaga Uno – walaupun setelah pertemuan tersebut kamu tiada hentinya memberikan ‘tips dan trik’ tentang bagaimana cara menjadi seorang lobbyist yang baik. Kita benar-benar memaksimalkan kesempatan yang kita miliki, Sahabat.

original

Saya mungkin tidak ekspresif; sangat sulit bagi saya untuk menjadi sentimentil apalagi menangis di depanmu. Sepertinya air mata saya bahkan lebih sering saya alirkan untuk Grey’s Anatomy atau bahkan Running Man. Namun saya pun mengkalkulasi bahwa kepulangan saya ke Indonesia akan sangat sebentar. Saya tahu bahwa bertemu dengan keluarga saya, keluargamu, dan kamu akan seperti menikmati cahaya matahari di kesenduan Manchester: terang, hangat, memberi kenyamanan, membuatku bisa tertidur lelap di hamparan rumput hijau (not literally, in your case), namun sangat jarang terjadi dan juga memberikan potensi yang buruk ketika Ia terbenam. Kepulangan saya membuat saya takut akan perpisahan yang harus saya lakukan dua minggu setelahnya. Saya tahu bahwa keluarga saya, terutama Ibu saya, dan kamu adalah manusia yang sangat sensitif. Kalian berdua adalah manusia yang jika di televisi sedang disiarkan kisah tentang bagaimana seekor belalang betina akan memakan sang belalang jantan pasca proses reproduksi, maka kalian bisa jadi menangis. Apa lagi ketika menonton Pursuit of Happyness atau Emak Ingin Naik Haji. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka saya mencari cara agar kamu tidak terlalu over enthusiastic, agar kamu masih menyadari bahwa kehadiran saya hanya sementara. Saya pikir dengan demikian maka kamu akan lebih mudah untuk melepaskan kepergianku karena kamu menyadari bahwa cepat atau lambat, dalam kurun waktu dua minggu, saya akan pergi. Mungkin inilah yang kamu maksud dengan saya menjadi cenderung mendorong kamu keluar dari ‘arena’ bermain saya – “Ayang be good, be brave, take care, kita bertemu lagi nanti”, kata saya. Ini pula alasan saya mengapa saat waktu baru menunjukkan pukul 22.00 WIB saya sudah memutuskan untuk berpamitan dengan keluarga saya dan kamu padahal jadwal keberangkatan saya masih pukul 00.10 WIB. Inilah alasanku mengapa setelah saya berpamitan, saya memutuskan untuk langsung memasuki ruang tunggu dan tidak keluar lagi. Inilah alasan mengapa saat kamu bertanya,

Kamu ngga keluar lagi?,

Terdengar suaramu dari belakang punggungku.

Ngga,”

Jawabku tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.

Sahabat, seperti yang seringkali kita bicarakan, kita berdua menginginkan hubungan yang tidak hanya terjaga selama delapan tahun atau dua belas tahun namun selama mungkin. Dan untuk menghadapi hal tersebut, kita harus beradaptasi dengan segala perubahan yang ada. Kamu adalah perempuan yang sangat pintar dan cerdas, saya tahu hal itu, maka kamu tahu bahwa inti dari kehidupan adalah relativisme: bahwa terdapat jutaan skenario yang mungkin saja terjadi dan kita harus bergerak dan mengambil peran di dalamnya. Melihat satu setengah tahun ke belakang, kita masih merupakan pasangan yang baru, segar, dan tenggelam dalam euforia. Kita didukung pula oleh budaya Yogyakarta yang sangat nyaman serta support system lainnya yang membuat kita menjadi pasangan yang sangat sembrono. Kita bisa tiba-tiba pergi ke Solo padahal niatan awalnya hanya ingin mencari Nasi Liwet, berpegangan tangan dan berpelukan di tengah kerumunan manusia, dan hal-hal bodoh lainnya yang acap kali berada di luar dugaan. Namun saat ini skenarionya berevolusi, Sahabat. Skenario bahkan memiliki pola pikirnya tersendiri. Ia berjalan tanpa bertanya kita, selaku pemerannya, tentang apa yang terbaik untuk kita. Kini yang perlu kita lakukan adalah bagaimana bersama kita bermain di dalam skenario ini dan menjadi manusia yang tidak habis. Menjadi aktor yang tidak tenggelam ketika skenario menjadi semakin aneh dan rumit. Jadi, ketika skenario ini menjuru ke arah Ganteng-Ganteng Serigala daripada Ada Apa Dengan Cinta?, maka kita akan membuat Ganteng-Ganteng Serigala sebagai suatu skenario yang layak ditonton dan diingat oleh orang banyak! Dan saya membutuhkanmu untuk membuat hal tersebut menjadi nyata. Saya tidak bisa menjalankan peran ini sendirian karena saya tahu selama satu setengah tahun ke belakang saya memiliki seorang perempuan yang tidak berjalan di belakang saya, namun bergerak sejajar di samping saya. Saya tahu bahwa saya memiliki kamu sebagai Keripik Karuhun ketika saya bosan dan Old Trafford di tengah buruknya gedung-gedung di Manchester.

Sampai jumpa di bulan Desember.

tumblr_n5hr9gYEE21sgutzvo1_500

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s