Tepo Seliro

Sejak hari Jumat, 5 Juni 2015, hingga Minggu, 14 Juni 2015, yang lalu saya melakukan perjalanan ke tiga kota yaitu Nottingham, Bristol, dan Birmingham. Di masing-masing kota tersebut saya menghadiri beberapa program PPI Cabang dan juga mengorganisir beberapa program PPI UK. Perjalanan yang biasanya saya jalankan hanya sebagai suatu rutinitas, suatu obligasi moral dan tuntutan profesional, kini menyimpan pelajaran yang lebih banyak dari biasanya. Sudah beberapa kali saya melakukan kunjungan ke tiga kota tersebut, namun baru pada kunjungan minggu lalu saya mendapatkan begitu banyak pelajaran.

Perjalanan saya mulai pada hari Jumat malam menuju Nottingham. Tujuan utama saya mengunjungi kota ini adalah untuk membantu penyelenggaraan program tahunan PPI Nottingham yang bertajuk Indofest. Indofest merupakan kegiatan kultural terbesar yang diselenggarakan oleh mahasiswa Indonesia di Britania Raya. Setiap tahunnya, tidak kurang dari 2.000 pengunjung menghadiri kegiatan promosi kebudayaan Indonesia ini. Mengapa saya berani mengatakan bahwa Indofest merupakan kegiatan kultural terbesar yang diselenggarakan oleh mahasiswa Indonesia di Britania Raya? Karena selain dari jumlah pengunjung, Indofest juga memakan biaya yang sangat besar jika dibandingkan dengan program serupa yang diselenggarakan oleh PPI Cabang lainnya, serta atensi media pun juga sangat besar dalam program ini. Belum lagi jika melihat susunan kepanitiaan yang cukup besar terlihat dari komitmen para anggota PPI Nottingham untuk merealisasikan acara ini.

Ramai!
Ramai!

Pada hari Sabtu, 6 Juni 2015, atau satu hari sebelum penyelenggaraan, kami melakukan briefing akbar. Dipimpin oleh Hans Pribadi selaku Ketua Pelaksana Indofest 2015, briefing diikuti oleh cukup banyak panitia – walaupun tidak semuanya hadir – dan berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Pada kesempatan itu Hans menjelaskan segala detil penyelenggaraan mulai dari jadwal acara, mobilisasi panitia, pemasangan tenda dan panggung, dan hal-hal teknis lainnya. Saya sendiri lebih banyak mendengarkan instruksi dari rekan-rekan panitia. Setelah sesi briefing selesai, saya dan teman-teman saya pun langsung berjalan pulang ke rumah Benny Agus Prima untuk menyaksikan final Liga Champions Eropa antara Barcelona dengan Juventus.

Keesokan harinya kami sudah beranjak dari rumah Benny tepat pukul 5 pagi – sesuai dengan instruksi dari Hans pada briefing di hari Sabtu. Saya, Benny, Kukuh Wicaksono (mas Kukuh), Irwan Setyawan (mas Irwan), Adiwerti Sarahayu (Sarah), dan Rian berangkat serentak dari rumah menuju ke lokasi dan sesampainya di lokasi kami langsung memasang tenda yang dipinjamkan oleh pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Target awal kami adalah untuk dapat memasang 30 tenda dalam kurun waktu empat jam agar tepat pada jam 10.00 BST Indofest dapat segera dimulai. Dengan begitu banyaknya panitia di lokasi, awalnya saya pribadi merasa optimis target tersebut dapat terlaksana. Belum lagi strategi dari mas Kukuh untuk menyusun tenda berukuran besar terlebih dahulu ternyata lebih cepat dari waktu yang dialokasikan. Satu tenda berukuran 3×9 (3 meter x 9 meter) dapat kami selesaikan hanya dalam 15 menit! Saya dan Benny pun secara alamiah merasa sedikit jumawa dan over-optimistic bahwa pada pukul 09.00 BST seluruh tenda dapat didirikan.

Namun memang acapkali realita dan ekspektasi seringkali bertolak belakang. Kami justru menghadapi kesulitan saat ingin mendirikan tenda berukuran 3×3. Rangka tenda banyak yang hilang sehingga tidak memungkinkan tenda untuk berdiri sempurna. Belum lagi ternyata setiap tenda memiliki rangka dengan ukuran dan proses penyusunan yang berbeda pula. Tantangan lainnya adalah karena angina di Nottingham yang begitu besar menyebabkan seringkali tenda yang sudah didirikan nyaris terbang dan terjungkal. Kami harus memasak kaki-kaki tenda agar terus menempel di tanah. Tantangan terakhir adalah karena terdapat beberapa panitia yang (maaf) kurang memiliki inisiatif. Di tengah kesibukan mendirikan tenda dan mengalokasikan para pengisi bazaar, saya masih menemukan beberapa individu yang (kelihatannya) hanya duduk santai dan bermalas-malasan. Hal inilah yang terkadanag membuat saya geram, namun di satu sisi saya juga menyadari kapasitas saya yang hanya merupakan ‘pembantu umum’.

Alhasil jadwal acara pun mundur dari yang direncanakan. Indofest 2015 dibuka sekitar pukul 11.00 BST namun karena kejelian panitia, acara berhasil selesai tepat waktu yakni pada pukul 17.30 BST. Disinilah kinerja yang sebenarnya dimulai.

Pada awalnya, masih cukup banyak panitia yang berada di lokasi dan membantu membersihkan dan merapikan venue. Tim terbagi ke dalam beberapa pos yakni pembongkar tenda, pembongkar panggung, pembersih sampah, pengumpulan barang-barang pribadi milik pantia, dan lain-lain. Saya sendiri bersama dengan Benny, mas Irwan, dan beberapa panitia yang lain menjadi pembersih sampah. Kami membersihkan lokasi hingga kurang lebih pukul 19.00 BST. Kurang lebih 60 kantong sampah berhasil kami kumpulkan di satu tempat. Pihak venue sudah memberitahukan sebelumnya bahwa sampah tidak boleh ditinggalkan di lokasi dan harus dibuang ke tempat pembuangan sampah terdekat. Namun, saat Hans ingin mengumumkan perihal hal ini, panitia yang tersisa hanya tinggal delapan orang: saya, mas Irwan, Sarah, Benny, mas Ridwan, Suhendri, Ifan Irsyad (Ketua PPI Nottingham), dan Hans – dan satu buah mobil yang disewa oleh panitia. Bersama 60 kantong sampah dan masih banyak barang pribadi milik panitia yang tertinggal, kami bergantian menggunakan mobil membuang sampah tersebut. Alhasil kami baru benar-benar selesai membersihkan lokasi pada pukul 01.00 dini hari.

Selama kurang lebih enam jam kami di lokasi, saya sempat bertanya kepada Ifan dan Hans perihal keberadaan panitia yang lain. Dengan tenaga yang sudah hamper habis, jawaban yang keluar dari mulut mereka kurang lebih serupa: “Ngga tau”. Saya kurang tahu apakah mereka benar-benar tidak tahu, atau mereka menutupi sesuatu, atau mereka sudah tidak lagi antusias untuk menjawab dan berpikir karena efek kelelahan yang luar biasa. Namun satu hal yang saya ketahui adalah bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara kerja kita sebagai suatu kesatuan.

Uniknya, hal yang kurang lebih serupa terjadi di Birmingham. Saya sampai di Birmingham pada hari Rabu, 10 Juni 2015. Saya berangkat langsung dari Bristol bersama Hizrian Maladzan (Hizrian) dan Naufal Rahman (Naufal/Ketua PPI Bristol). Kami berangkat ke Birmingham untuk mengorganisir program PPI UK yang berjudul Volunteering for Indonesia 2015 (VFI 2015). Program yang kami lelang penyelenggaraannya kepada tiga PPI Cabang, yakni PPI Birmingham, PPI Coventry, dan PPI Warwick ini memiliki format seminar yang menekankan pada transfer ilmu akan atmosfer volunteering di Indonesia. Dengan mengundang seorang professor yang memiliki fokus kepada bidang pendidikan dan pembangunan, serta dua orang alumni Indonesia Mengajar, VFI 2015 bermaksud untuk melihat pendekatan multi-dimensional terkait bagaimana cara untuk menangani isu kesenjangan, terutama dibidang pendidikan, di Indonesia.

Rutinitas yang saya jalankan pun tidak jauh berbeda. Pada hari Rabu, sesampainya saya di Birmingham, saya bertemu dengan panitia inti yang terdiri dari ketiga PPI Cabang dan Divisi Pengabdian Masyarakat PPI UK untuk melakukan briefing. Sehari setelahnya kami mengadakan briefing akbar yang melibatkan seluruh panitia untuk melakukan run-through. Saya pun sangat bersemangat karena teman-teman panitia begitu antusias menyambut VFI 2015 ini.

Di hari pelaksanaan, yakni pada hari Jumat, 12 Juni 2015, kami sudah bersiap di lokasi pada pukul 09.00 BST. Dengan cepat kami menata lokasi sesuai instruksi dari Tiara Azarine (Tiara/Ketua Pelaksana) dan Banu (Koordinator Logistik). Mini-Museum, Crafting Corner, panggung, sound system, hingga ruangan pembicara pun berhasil kami tata dan selesai tepat waktu. Prediksi awal kami adalah tepat pada pukul 10.00 BST acara sudah dapat kita mulai. Namun pada pukul 10.00 BST tersebut, belum ada satupun pengunjung yang datang. Saya ingat hanya ada satu orang di luar panitia yang hadir di lokasi pada saat itu, namanya adalah Eldxon Laurenzi. Namun Eldxon adalah teman baik saya, sehingga saya tidak menghitungnya sebagai seorang tamu. Berdasarkan laporan dari teman-teman panitia, moral Tiara sempat meredup mengetahui kondisi bahwa VFI 2015 sepi pengunjung. Namun saya pun menyadari bahwa acara ini memiliki tema yang sangat spesifik yakni perihal relawan. Apabila seseorang memiliki ketertarikan dan ‘hati’ terhadap kegiatan volunteering, tentu saja Ia akan datang. Program ini tidak bisa disamakan dengan acara kebudayaan seperti Indofest karena budaya merupakan komoditas yang sudah diketahui oleh public dan sangat ditunggu-tunggu kehadirannya. Lain halnya dengan volunteering yang didalamnya tidak terdapat sesuatu yang bisa di jual selain altruisme. Saya pun membesarkan hati Tiara dengan argument ini, bahwa tidak perlu bersedih karena sedikitnya pengunjung, namun berbanggalah karena kita adalah salah satu orang yang mau menyisihkan perhatian kita, secara sukarela, untuk membangun Indonesia.

Singkat cerita, sampailah kami ke penghujung acara. Hal yang kurang lebih serupa dengan pengalaman di Nottingham kembali terjadi. Begitu banyak panitia yang sesungguhnya masih berada di lokasi pada saat itu. Namun sepertinya mereka begitu sibuk untuk menentukan lokasi rumah makan yang akan mereka tuju sepulangnya mereka dari VFI 2015. Hanya terlihat beberapa orang yang bekerja untuk membereskan venue seperti Evraim Sitepu (Dodo/Ketua PPI Birmingham), Banu, Hizrian, Naufal, Pandu Narendradewo (Pandu), Aida Azhar, beberapa orang lain yang (jujur) saya lupa namanya, dan Divisi Pengabdian Masyarakat PPI UK.

Kedua pengalaman yang saya dapatkan di Nottingham dan Birmingham membuat saya bertanya, “Apa iya ini ‘penyakit’ orang Indonesia? Begitu acara kelar, mereka bubar?”

Saya tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan. Saya juga tidak ingin mengeneralisasi fenomena ini dengan membuat ‘orang Indonesia’ sebagai objek karena bisa saja ternyata ini hanyalah perilaku pelajar Indonesia di Britania Raya semata, atau bahkan lebih spesifik lagi, yakni pelajar Indonesia di Nottingham dan Birmingham semata, atau skenario lain yang lebih spesifik. Namun dalam pengalaman tersebut kita tentu saja dapat merasakan adanya sesuatu yang tidak benar dalam mekanisme berjalannya kepanitiaan. Alhasil, beban akhir suatu acara, terutama beban dalam konteks membenahi venue saat hari pelaksanaan berakhir, menjadi tanggung jawab segelintir orang saja. Saya menuliskan kekhwatiran ini bukan karena saya merasa lelah karena beban kerja yang tidak seberapa. Saya menuliskan kekhawatiran ini atas landasan bahwa saya selalu diajari bahwa masyarakat Indonesia dibesarkan melalui tradisi gotong royong. Namun, benarkah demikian?

Advertisements

3 thoughts on “Tepo Seliro

  1. Kalo ga salah, pas lagi jalan kaki berangkat ke venue, kita sempet ngobrol tentang pelajaran PPKn. Mungkin, mereka (dan kita) kurang memahami ajaran tenggang rasa yang diajarin di pelajaran PPKn pas SD, sehingga mereka bisa lenggang kangkung pulang ke rumah masing-masing tanpa rasa bersalah, dan kita tetep bantuin dengan rasa ikhlas ngga ikhlas.

    Atau mungkin itu cuma gua doang yang masih kesel bahkan sampai sekarang :p

    Like

  2. Mas Aldo, terima kasih sudah menulis tentang Indofest di blog ini 🙂 Juga, terima kasih sekali, karena sudah sangatttt membantu Indofest ketika hari H terutama acara dan panggung. Benar-benar bersyukur dan sangat merasa terbantu 😀 Maafkan menulisnya di media sosial begini.

    Tentang tulisan Mas Aldo, terima kasih, sebagai orang yang tidak ikut membantu ketika urusan sampah ini, saya jadi malu sekali dan baru benar-benar sadar seberapa riweuhnya teman-teman yang lain mengurusi ini. Benar-benar pengingat.
    Di lain sisi, hm, mengenai tulisan tentang beban membereskan venue yang pada akhirnya menjadi tanggung jawab hanya beberapa orang saja, dan kemudian kalimat kesimpulan bahwa ini juga ada kaitannya dengan keraguan Mas Aldo bahwa apakah benar orang Indonesia dibesarkan dengan tradisi gotong royong, dari sini, terkesan bahwa ada korelasi antara kedua pernyataan ini 🙂 Seperti halnya studi kasus yang tidak bisa digeneralisasi, dan akan lebih menarik jika suatu kasus dilihat dari berbagai sisi sehingga pelajaran yang diambil dari kasus ini akan lebih menyeluruh (maafkan, masih bahasa ala dissertation begini :D), ada baiknya juga melihat kenapa ini bisa terjadi. Akan lebih adil, jika melihat ketidakhadiran membantu dari berbagai skenario yang mungkin ada. Karena asumsi saya tulisan ini adalah untuk pelajaran bersama, maka saya pikir, tantangan utama untuk evaluasi bersama adalah komunikasi.
    Ada banyaaaaak sekali teman-teman yang juga berkontribusi, meski mungkin tidak hadir dan tidak terlihat, dengan cara terbaik mereka, mulai dari desain ini itu, merancang ini itu, belanja ini itu, merencanakan ini itu, mengurusi orang A, B, C, menghubungi ini itu, mengahadapi pertanyaan A, B dan C, juga mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Dan mungkin ketika hari H, malah justru tidak bisa datang penuh – ya karena memang ini maksimalnya mereka. Hanya ingin mengapresiasi mereka di tulisan ini, tepo selira dengan kontribusi teman-teman yang macam ini, yang mungkin sering terlupakan pula.

    Like

  3. Sepertinya kurang bijaksana ya kalau Anda men-judge kinerja panitia hanya berdasarkan performa mereka di hari-h. Apalagi jika Anda hanya terlibat di 3 hari terakhir pelaksanaan. Anda tidak tahu bagaimana proses keseluruhan hingga acara tersebut bisa terlaksana. Anda juga tidak tahu bagaimana perjuangan para panitia inti dari beberapa bulan sebelum acara terlaksana. Mungkin perlu diketahui bahwa setelah technical meeting (saat Anda dan teman-teman Anda pergi meninggalkan ESLC utuk menonton final liga champion), hampir semua panitia inti bekerja hingga dini hari untuk finalisasi technical acara dan logistik.

    Mengenai masalah sampah yang Anda persoalkan dalam postingan ini, perlu diketahui bahwa panitia selain dari nama yang Anda sebut diatas bukanlah tidak memiliki jiwa tepo seliro dan tenggang rasa namun memang mereka tidak mendapatkan info yang jelas mengenai teknis pembuangan sampah setelah event berlangsung. Perlu digarisbawahi bahwa jika panitia diberitahu tentang masalah ini semua akan bersedia untuk membantu dan mungkin akan menawarkan solusi lainnya.

    Sangat disayangkan, Anda sebagai ketua PPI membuat postingan di media sosial yang bersifat sangat subjektif dan judgemental tanpa disertai observasi yang mendalam. Dengan postingan ini Anda seolah-olah menganggap bahwa panitia lain (yang namanya tidak anda sebutkan) tidak bekerja dan tidak tenggang rasa.

    Untuk saudara Adiwerti Sarahayu, bisa Anda jelaskan apa yang Anda maksud dengan tenggang rasa? Saya rasa dengan membuat komentar di atas, Anda sudah tidak tenggang rasa terhadap panitia lain. Komentar Anda seperti mendiskreditkan kinerja panitia lain yang telah bekerja sangat keras hingga terlaksananya acara Indofest ini. Dan apakah Anda merasa bahwa dengan membuang sampah hingga jam 1, kontribusi Anda menjadi lebih besar dibandingkan panitia lain? Jika memang Anda merasa tidak ikhlas, mengapa Anda tidak menghubungi panitia lain yang memang tidak mengetahui perihal sampah tersebut.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s