Manchester Sore Hari

Waktu menunjukan pukul 17.09 saat saya memutuskan untuk menghabiskan sore di Manchester. Sambil menunggu waktu berbuka puasa alias ngabuburit katanya. Entah karena saya terlalu bosan di kamar, berkutat dengan disertasi dan Football Manager 2015, atau semata karena saya sudah terlalu gusar menghabiskan waktu tanpa melihat dan berintraksi dengan orang lain, namun pada akhirnya sore hari ini saya memutuskan untuk berjalan keluar Weston Hall. Rute yang saya pilih juga bukan ke pusat kota karena saya takut saya justru khilaf dan malah menghabiskan uang saya untuk membeli barang-barang yang tidak perlu. Saya juga khawatir saya akan berbuka puasa di China City jikalau saya melewatinya dan membayangkan menu Half Cantonese Duck yang begitu mengundang selera. Sehingga berbelok lah saya menuju ke arah barat gedung flat saya, menuju Oxford Road, belok ke selatan dan menyusuri jalan hingga ke Rusholme.

Pada awalnya saya tidak tahu apa yang saya cari dalam perjalanan sore ini. Tidak ada tujuan khusus yang mendasari perjalanan saya. Tidak ada motivasi, hasrat, atau pertanyaan yang ingin saya jawab dengan mengumpulkan pertanda dari sekitar; dari melihat Nando’s, melewati Archies, melihat bis nomor 197 berlalu, atau melihat kerumunan di dalam Tesco Express. Maka dengan hanya menggunakan setelan ‘rumahan’, saya menelusuri rute menuju kampus utama tersebut tanpa ekspektasi apapun. Sempat saya berpikir apakah sebaiknya saya menggunakan sisa bus pass saya yang akan habis pada 30 Juni 2015 mendatang untuk mengitari Greater Manchester area atau memaksimalkan saja tenaga di kedua kaki untuk berjalan tanpa arah? Namun akhirnya pilihan dijatuhkan kepada opsi kedua, karena sepertinya akan lebih cocok untuk memenuhi tujuan ngabuburit yang saya bayangkan di awal perjalanan. Akhirnya saya berjalan. SPAR saya lalui, Tesco Express saya lalui, Babylon saya lalui, Manchester Aquatic Center saya lalui, jembatan yang menjadi salah satu ciri khas Manchester Business School (MBS) saya lalui, hingga sampailah saya tepat di depan Whitworth Building, University of Manchester (UoM).

Bagi teman-teman yang belum familiar dengan gedung ini, Whitworth Building adalah salah satu ikon UoM. Gedung dengan arsitektur ala abad ke-17 atau yang biasa dikenal sebagai jaman Renaissance ini merupakan gedung serbaguna milik UoM yang seringkali digunakan untuk program-program kampus yang bersifat formal seperti wisuda. Mungkin hampir sama fungsinya seperti gedung Grha Sabha Pramana (GSP) di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang digunakan untuk menggelar wisuda, pernikahan, bahkan konser musik. Gedung ini saya anggap sebagai salah satu ikon UoM karena di bagian depan gedung tersebut terdapat tulisan ‘University of Manchester’ yang menghadap langsung ke jalan Oxford Road, sehingga memberikan kesan seakan gedung ini adalah gerbang terdepan dari UoM. Seringkali turis asing atau bahkan rekan-rekan sesama mahasiswa (terutama mahasiswa yang baru masuk) mengambil gambar tepat di depan gedung ini. Nah, di perjalanan sore tadi, saya berhenti tepat diseberang gedung ini dan memandanginya selama kurang lebih lima menit.

Saya yang notabene tidak pernah memiliki ketertarikan terhadap ilmu arsitektur – entah mengapa dan bagaimana – hari ini tercengang melihat bentuk bangunan Whitworth Building ini. Bentuknya mungkin sama saja (atau bahkan tidak lebih artistik) dibandingkan gedung-gedung dengan arsitektur serupa yang berada di kota lain di Britania Raya. Anda tentu saja dapat menemuinya diberbagai kota seperti Oxford, Nottingham, Glasgow, Edinburgh, York, dan lain-lain. Namun hari ini, sore tadi lebih tepatnya, saya merasakan suatu sensasi yang sangat kompleks. Saya tidak mengerti bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan apa yang saya rasakan, namun yang pasti terdapat berbagai kontradiksi dibalik sensasi tersebut. Dalam lima menit saya tertegun di depan Whitworth Building tersebut, saya mencoba merobohkan, menjebol, atau membongkar kerumunan pemikiran yang memadati kepala saya. Saya mencoba mencari tahu inti bumi dari sensasi yang saya rasakan tadi. Apakah sensasi tersebut merupakan reaksi kimiawi yang berujung pada apa yang orang awam sebut sebagai ‘perasaan’? Jika benar, perasaan apakah yang saya rasakan? Senang, sedih, gelisah, atau apa? Atau jangan-jangan sensasi tersebut hanyalah kerumunan pertanyaan (lagi) yang awalnya sangat sederhana namun kemudian berkembang tanpa tahu batas? Apa pertanyaannya kali ini?

Lalu saya mengeluarkan telepon genggam dari kantong celana saya. Lagi-lagi, entah mengapa saya memutuskan untuk mengambil gambar Whitworth Building dengan kualitas kamera yang pas-pasan dan dengan mode Panorama. Saya mengambil kurang lebih lima gambar, kemudian saya melihat hasilnya satu per satu. Dan saya mulai menemui intisari atas kepelikan yang berada di otak saya saat itu.

Sudah kurang lebih sepuluh bulan saya berada di Manchester, terhitung sejak 11 September 2014. September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret, April, Mei, dan Juni. Agar lebih adil, kurangilah jumlah tersebut dengan kurun waktu dua minggu ketika saya kembali ke Indonesia pada bulan Mei. Tidak terasa sepuluh bulan sudah saya beradaptasi dengan lingkungan yang baru, bergelut dengan tuntutan akademik yang sangat berat, merasa terjatuh ke dalam jurang kegagalan karenanya, bangkit, jatuh lagi, dan bangkit lagi. Sudah tujuh bulan saya terpilih menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK), mencari rekan kerja, dan melewati fase yang kurang lebih serupa dengan adaptasi akademik saya: merasa terjatuh ke dalam jurang kegagalan karenanya, bangkit, jatuh lagi, dan bangkit lagi. Namun, (mungkin) selama sepuluh bulan ini pula saya merasa bahwa Manchester adalah tujuan.

Terdapat dua tipe pelancong di dunia ini. Yang pertama adalah penjelajah (traveler). Menurut saya, tipe pelancong yang pertama ini adalah mereka yang cukup berani untuk berjalan tanpa tujuan, menggantungkan diri pada peta buta, terinspirasi dari ketersesatan, mendapatkan cerita dari perjalanan, dan menggantungkan asa pada kepercayaan yang altruis bahwa entah bagaimana, dimana, kapan, dan bersama siapa, Ia akan menemukan keindahan yang tak ada bandingannya. Penjelajah adalah mereka yang mampu menikmati langkah demi langkah dari perjalanannya tanpa tahu kemana tujuan yang sebenarnya. Mungkin jika anda pernah menyaksikan film Into the Wild karya Sean Penn yang menceritakan perihal perjalanan seorang Christopher McCandless (diperankan oleh Emile Hirsch) atau film Wild yang menceritakan tentang Cheryl Strayde (Reese Witherspoon), maka mereka adalah pelancong yang saya berikan predikat sebagai traveler. Sementara jenis kedua adalah yang saya sebut sebagai peziarah (pilgrim). Jangan dahulu diartikan secara harfiah makna dari ‘peziarah’ yang saya maksud ini. Peziarah yang saya maksud tidak hanya saya definisikan sebagai para suporter suatu kepercayaan tertentu yang melakukan napak tilas perjalanan suci ke suatu tempat, menjalankan ritual di tempat tersebut, dan berharap mendapatkan imbalan yang setimpal dari Tuhan. Bukan itu. Melainkan – tetap menggunakan logika yang sama dengan definisi ortodoks dari ‘peziarah’, saya mengartikan jenis ini sebagai mereka yang mengetahui betul kemana tujuan mereka, berjuang ­mati-matian untuk mencapai tujuan tersebut dengan harapan akan mendapatkan sesuatu disana. Yang terpenting adalah destinasi akhir dari perjalanannya, bukan cerita di perjalanan menuju tempat tersebut.

Dalam konteks ini, mungkin teman-teman mulai mendapatkan gambaran akan letak Manchester di hati saya. Ketika saya menuliskan bahwa Manchester adalah tujuan, makan yang tergambar di dalam kepala saya adalah bagaimana kurang lebih satu atau dua tahun yang lalu saya begitu mengimpikan untuk dapat melanjutkan studi di UoM setelah saya lulus dari UGM. Bagaimana saya berjuang setengah mati untuk dapat melanjutkan studi disini, di kota dimana Manchester United terlahir. Saya ingin mendapatkan gelar Master dari salah satu kampus terbaik di dunia sambil sesekali menyaksikan secara langsung Manchester United bertanding di Old Trafford.

Sesampainya disini, mungkin beberapa teman-teman sudah tahu pula, bahwa saya mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Mungkin, jika saya boleh jujur, hanya terdapat dua kegiatan yang bisa menjaga kewarasan saya: berinteraksi dengan orang Indonesia (yang baik) dan PPI UK.

Di dalam lima menit kesunyian tersebut, saya kemudian mencoba untuk menemui kembali alasan saya begitu tergila-gila dengan kota ini. Saya memperhatikan bangunan Whitworth Building yang begitu kompleks, penuh lika-liku, namun menyatu menjadi sesuatu yang indah dan abadi. Saya melihat orang-orang berjalan melewati saya, dihadapan saya, diseberang saya, dan menemukan keindahan atas langkah sigap mereka. Transportasi umum seperti bis dan taksi ala Britania Raya yang berbentuk seperti kodok, para biker dengan sepeda dan atribut warna-warni mereka, hingga mereka yang menerapkan gaya hidup sehat (sekaligus hemat) dengan berlari sore sambil menancapkan earphone di telinga mereka masing-masing, mengingatkan saya akan kekaguman, ekspektasi, dan bayangan saya satu tahun yang lalu akan kehidupan di Manchester. Saya kemudian masuk ke dalam Holy Name Church, gereja yang berada tepat diseberang Student’s Union UoM. Saya mengingat kembali rasa kekaguman saya akan gereja Katolik ini ketika saya memasukinya pertama kali di masa orientasi terdahulu. Saya mencoba mengingat kembali sensasi ketenangan yang saya dapatkan dari gereja ini karena setiap saya memasukinya, gereja ini selalu tidak berpenghuni. Saya kemudian berjalan menuju Whitworth Park dan menyadari kehadiran graffiti yang menghiasi Big Hands Bar. Saya kemudian mengakhiri perjalanan sore saya di Rusholme, ‘Home of the Curry Mile’. Saya melihat lagi tempat makan kesukaan saya yakni Al-Jazeera, orang-orang keturunan Timur Tengah berlalu-lalang di daerah yang memang dikelilingi oleh pemukiman keturunan Timur Tengah, barisan tempat makanan halal, wanita berhijab dan pria berjenggot, serta kemacetan lalu lintas yang selalu mewarnai distrik ini ketika jam pulang kantor. Namun apa daya, karena sepertinya cinta memang tidak bisa dipaksakan.

Ketika saya aktif menjadi anggota Unit Berkuda UGM beberapa tahun silam, terdapat satu kuda yang selalu membuat saya penasaran untuk menguasai dan menungganinya. Kuda berpostur tinggi, besar, memiliki otot yang sangat bagus, dan berwarna hitam itu memang terkenal tempramental dan sulit dikendalikan. Hanya beberapa orang saja yang dapat menungganginya, salah satunya adalah mentor kami di Unit Berkuda yang bernama Darsim Arsa Santoso. Dahulu saya selalu memberanikan diri untuk memberinya makan, memandikannya, dan bahkan menungganginya. Walaupun ketika itu saya masih sangat awam, saya telah memberanikan diri untuk menaiki kuda ini. Lalu pernah di suatu hari, ketika saya menungganginya, saya menarik kendali (reins) terlalu kuat sehingga menyebabkan kuda berjalan mundur. Karena panik dan tanpa tahu bahwa ternyata di belakang kami terdapat lubang, saya akhirnya terjatuh. Raul – nama sang kuda – berusaha kembali berdiri dengan posisi dimana saya berada tepat di depan kaki belakangnya. Alhasil, dia menendang saya pada saat itu. Walaupun sejak saat itu saya tetap berusaha menunggangi Raul dan belajar untuk menguasainya, saya tahu bahwa hubungan kami tidak dapat bekerja melebihi seorang manusia dengan seekor kuda.

Alasan saya menceritakan pengalaman saya di Unit Berkuda UGM adalah sebagai bentuk analogi hubungan saya dengan Manchester saat ini. Akhir-akhir ini saya banyak melihat quote bergambar yang diantaranya terdapat figur Sujiwo Tejo, Najwa Shihab dan Anies Baswedan. Masing-masing dari mereka menyebutkan apa arti Yogyakarta untuk mereka. Sujiwo Tejo menganggap bahwa, “Pergi ke Jogja adalah caraku menertawakan kesibukan orang-orang Jakarta”; Najwa Shihab bilang, “Jogja adalah saksi mata, jutaan sarjana yang diwisuda”; dan Anies Baswedan berkata, “Bagi setiap orang yang pernah tinggal di Jogja pasti setuju, setiap sudut kota Jogja itu romantis”.

And here I am, left wondering whether I will ever give the same impression to Manchester (or the United Kingdom) or not. For now, Manchester is a pilgrimage undone.

Hiraeth

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s