Kritik, Nabi Muhammad, dan Perasaan

Selama kurang lebih satu bulan ke belakang, saya sedang fokus untuk mencicil disertasi saya. Saya mencoba memasang target yang realistis yakni untuk menulis paling tidak 500 kata setiap harinya dengan memberikan ruang istirahat pada hari Sabtu dan Minggu. Namun sudah tentu sebelum jari-jari saya dihentakkan ke atas keyboard, saya perlu membaca beberapa referensi literatur terlebih dahulu. Saya ingat ketika masih S1 dahulu, Eric Hiariej menyampaikan pada mata kuliah Metode Riset dalam Ilmu Hubungan Internasional (MRHI) bahwa untuk membuat suatu review maka hal yang harus dilakukan adalah,

Baca, ulang, baca, tutup, tulis”.

Literatur yang berkaitan dengan tema riset saya kebanyakan menggunakan Bahasa Inggris. Walaupun masih sangat sedikit literatur yang membahas perihal Forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC), namun saya berusaha keras untuk mencarinya. Mengumpulkan berbagai artikel di dunia maya, membuka kembali catatan saya sewaktu masih aktif di Sociedad Indonesia para America Latina (SIPAL) terdahulu, hingga meminta perpustakaan University of Manchester (UoM) untuk membeli beberapa buku pun saya lakukan demi mengumpulkan referensi sebanyak-banyaknya. Premis awalnya adalah,

Semakin banyak data, semakin banyak tahu, semakin ‘aman’ pula nulis disertasinya”.

Alhasil saya berhasil menemukan dua buah buku textbook yang kini selalu menemani saya kemanapun. Buku pertama berjudul ‘Interregionalism and International Relations’ karya Heiner Hänggi, Ralf Roloff, dan Jürgen Rüland. Buku ini saya beli dari Ebay dengan harga yang cukup terjangkau. Buku kedua adalah karya Jörn Dosch dan Olaf Jacob yang berjudul ‘Asia and Latin America: Political, Economic and Multilateral Relations’.

I'll get to the point soon!
I’ll get to the point soon!

Buku pertama menurut saya memberikan gambaran deskriptif-analitis perihal fenomena kemunculan interregionalisme. Secara keseluruhan, melihat arus globalisasi yang begitu deras, Hänggi, Roloff, dan Rüland berpendapat bahwa kawasan (region) telah muncul sebagai aktor baru yang memiliki peranan penting dalam menanggapi globalisasi. Peran kawasan menjadi sangat penting karena dapat mempengaruhi perilaku suatu negara bangsa dalam menentukan kebijakan luar negerinya masing-masing ataupun bergerak bersama-sama sebagai suatu kelompok kawasan. Arah suatu kawasan untuk menyeimbangi peran kawasan lain (balancing) atau malah mengikuti arus kawasan lain yang lebih besar (bandwagoning), atau langkah kawasan untuk membangun identitas bersama (identity-building) atau malah membatasi arus globalisasi yang dianggap menyebabkan ketimpangan (stabilizing and development) merupakan bukti akan peningkatan peran kawasan dalam diskursus ilmu hubungan internasional.

Sementara buku kedua menaruh perhatian kepada kawasan yang lebih spesifik, yakni Asia dan Amerika Latin. Dosch dan Jacob mengawalinya dengan memberikan konteks historis dari hubungan antara kedua kawasan ini. Mereka bahkan menuliskan perihal bagaimana presiden pertama Indonesia, yakni Soekarno, sempat sangat begitu memperhatikan kawasan Amerika Latin pada masa Perang Dingin. Lebih jauh lagi, menurut Dosch dan Jacob, saat ini aktor terbesar yang mempersatukan kedua kawasan adalah Tiongkok. Akselerasi pendekatan kedua kawasan terjadi pada era Presiden Hu Jintao pada tahun 2004 saat presiden Tiongkok tersebut melakukan tour benua Amerika Selatan. Hal tersebut meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi para pemimpin Amerika Latin yang pada saat itu juga mencari rekan alternatif untuk melakukan perdagangan. Walaupun saat ini FEALAC hadir sebagai satu-satunya platform multilateral yang menyatukan kedua kawasan, namun proses institusionalisasi yang sangat cair menyebabkan kerjasama ini tidak begitu efektif.

Namun saya tidak menuliskan artikel ini untuk memberikan gambaran kepada teman-teman akan sejarah, peluang, atau tantangan atas hubungan Asia dan Amerika Latin. Tidak pula saya ingin ‘memamerkan’ intisari dari disertasi saya. Saya hanya ingin berbagi cerita perihal impresi yang saya dapatkan setelah membaca kedua buku tersebut dan beberapa artikel perihal disertasi saya.

Pertama, saya (lebih) menyadari bahwa untuk menjadi seorang akademisi, seseorang harus memiliki setidaknya satu keahlian: berpikir kritis. Seorang akademisi harus mempertanyakan berbagai hal atas dasar keingintahuan (of curiosity). Seperti halnya Hänggi, Roloff, dan Rüland atau Dosch dan Jacob. Satu kritik serupa ketika mereka membahas perihal FEALAC di buku mereka masing-masing adalah perihal minimnya niatan politik (political will) dari para negara anggota. Minimnya political will di dalam tubuh FEALAC tersebut terlihat dari tiadanya pertemuan puncak, atau yang biasa dikenal dengan istilah summit, yang mempertemukan pemimimpin masing-masing negara seperti Presiden, Perdana Menteri, Raja, atau Ratu. Lucunya adalah bab di masing-masing buku yang membahas FEALAC secara spesifik – bab 5 di buku Hänggi, Roloff, dan Rüland, dan bab 12 serta bab 13 di buku Dosch dan Jacob – tidak kemudian memberikan alternatif yang out of the liberalists’ box untuk menjawab kritik mereka sendiri. Dengan kata lain, tidak ada solusi baru yang mereka tawarkan.

giphy

Saya ingat pada semester lalu, di mata kuliah Critical Globalization Studies, dosen pengampu saya berkata bahwa,

It is allowed for people to be freakin’ mad. That’s not a problem”.

Ketika itu kami sedang membahas perihal pergerakan Occupy Wall Street (OWS) dan alasan perihal mengapa mereka berunjuk rasa. Ketika saya menuliskan ‘mengapa’ artinya kami benar-benar berdiskusi perihal faktor-faktor apa yang mendorong suatu pergerakan atau individu secara lebih spesifik; kami membahas perihal pengaruh ide akan anti-globalisasi, atau pengaruh Twitter yang membuat seseorang lebih mudah untuk berkumpul dan berunjuk rasa, atau iklim yang sedang panas membuat orang lekas mudah menjadi temperamental, dan lain-lain. Namun saya tentu saja mengerutkan dahi saya dan bertanya,

Is it really okay for people just to go insanely mad?

Pertanyaan saya didasari pada kekhawatiran saya akan tidak ditemukannya solusi atau jawaban atas segala permasalahan yang terdapat disekitar saya. Memang benar bahwa menurut penganut critical approach, pemecahan masalah hanya berarti bahwa manusia tetap menerima keadaan seakan-akan hal tersebut tidaklah dapat diubah. Contohnya begini: bayangkan suatu keadaan dimana terdapat ribuan kelompok mahasiswa yang sedang berunjuk rasa dengan tuntutan utama menurunkan Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia. Ingatlah bahwa tuntutan utama mereka adalah: ‘Turunkan Jokowi!’. Mayoritas masyarakat umum, pada sejarahnya, akan menganggap bahwa pergerakan mahasiswa tersebut sangat ‘berani’ dan melabeli mahasiswa sebagai suatu kelas yang sangat ‘kritis’. Kemudian, mari berasumsi bahwa tuntutan tersebut dikabulkan dan Presiden Joko Widodo diturunkan. Kemudian, presiden yang baru ditunjuk (atau dipilih) sebagai langkah pemecahan masalah atas the absence of power di Indonesia.

Perlu teman-teman perhatikan dalam contoh di atas bahwa ternyata:

  1. Pada akhirnya sistem politik di Indonesia mengadopsi sistem Presidensial, dimana Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dipersonifikasi ke dalam tubuh seorang individu;
  2. Artinya, sebenarnya tidak ada artinya apabila beberapa elemen masyarakat meminta seorang presiden untuk diturunkan karena pada akhirnya akan ditunjuk seorang presiden yang baru;
  3. Dengan sistem politik yang sama – yakni sistem Presidensial itu tadi – artinya permasalahan-permasalahan, kontroversi, serta akar masalah (downstream) yang mengitari sistem ini pun akan tetap ada;
  4. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya manusia adalah inti dari kesalahan. Manusia adalah ‘The Anvil of Errors’. Sehingga, membiarkan seseorang menjadi Presiden sama saja dengan membiarkan suatu sumber kesalahan memimpin sumber kesalahan yang lainnya; dan
  5. Artinya pendekatan ‘kritis’ yang selama ini dinobatkan tidak hanya kepada mahasiswa dan akademisi, namun juga kepada semua orang, tidaklah sesederhana yang dibayangkan.

Jika seseorang atau suatu kelompok ingin menjadi kritis, maka seharusnya satu-satunya tuntutan yang disuarakan adalah perubahan tak henti atau yang saya sebut sebagai perpetual projective changes. Karl Marx pernah berkata,

A spider conducts operations that resemble those of a weaver, and a bee puts to shame many an architect in the construction of her cells. But what distinguishes the worst architect from the best of bees is this, that the architect raises his structure in imagination before he erects it in reality. At the end of every labour-process, we get a result that already existed in the imagination of the labourer at its commencement”.

Secara sederhana, Marx berargumen bahwa ketika manusia membangun jembatan pada abad ke-12 berdasarkan penilaiannya atas estetika dan kegunaaan, maka manusia lainnya di abad ke -18 tidak akan ragu untuk membongkar jembatan yang sama dan membuat jembatan baru ketika Ia memiliki parameter yang berbeda akan estetika dan daya guna. Intinya adalah, bukan sebuah bata dari sebuah jembatan yang anda ganti ketika anda mengklaim bahwa anda adalah seseorang yang kritis, namun pertanyakanlah mengapa ‘jembatan’ dan mengapa jembatan tersebut didirikan.

Namun hingga saat ini, kekhawatiran saya masih sama: apakah menjadi kritis (dalam artian yang sebenarnya) lebih baik daripada menjadi seorang pemecah masalah?

Saat mendengarkan khutbah salat Jum’at tadi, saya membaca sebuah buku yang menceritakan tentang Nabi Muhammad SAW. Saya lupa judul, pengarang, atau sampul bukunya seperti apa. Buku ini cukup menarik karena dipenuhi dengan ilustrasi, disusun secara kronologis, serta dibagi ke dalam beberapa bab yang mencakup isu-isu kontemporer seperti hak asasi manusia. Di dalam buku ini, saya membaca perihal bagaimana Nabi Muhammad SAW bergerilya untuk menyebarkan ajaran Islam di Timur Tengah. Sang penulis memberikan ilustrasi perihal bagaimana Nabi Muhammad SAW memegang teguh prinsip-prinsip perdamaian dan nirkekerasan. Dalam beberapa perang (jangan tanyakan perang apa, kapan, atau dimana karena saya tidak ingat), Nabi Muhammad SAW bahkan melarang pengikutnya untuk menyerang kaum Kafir sebelum diserang terlebih dahulu. Ketika akan berangkat berperang pun metode pertama yang digunakan ketika telah berhadap-hadapan dengan para penentangnya pun adalah dialog. Nabi Muhammad SAW memilih untuk berdiskusi terlebih dahulu guna menghindari pertumpahan darah. Dari pengalaman Nabi Muhammad SAW ini saya menemukan satu kesimpulan: bahwa Nabi Muhammad SAW (atau Islam secara keseluruhan) pada dasarnya mengajarkan perihal prinsip-prinsip liberalisme.

Saya membayangkan bahwa Nabi Muhammad SAW mungkin hanya akan tersenyum dan dengan lemah lembut mengeluarkan sabda dari Allah SWT ketika Ia dicaci, dimaki, atau dikritik. Buku yang saya baca tersebut menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki pembawaan yang sangat tenang: ketika dicaci Ia tidak murung, namun ketika dipuja Ia juga tidak jumawa. Tidak ada yang berlebihan dari Nabi Muhammad SAW. Namun ketika hal ini dipikirkan kembali, saya hanya dapat tersenyum kecil dan berpikir,

Iya lah. Namanya juga Nabi. Pastinya Nabi Muhammad SAW mewakili ajaran Allah SWT yang penuh damai. Nabi Muhammad SAW adalah Peace Personified”.

Lain halnya dengan manusia. Mungkin Allah SWT memang telah bersabda bahwa manusia adalah mahluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Namun, dari kacamata yang realistis, sudah tentu anda dapat menilai bahwa manusia dipenuhi dengan ketidaksempurnaan. Itulah mengapa saya menobatkan diri spesies saya sendiri sebagai The Anvil of Errors. Ketika kita dihujani dengan cacian, makian, keraguan, rasa pesimis, ketakutan, dan kritik, maka reaksi alamiah manusia adalah membalas itu semua. Walaupun, sudah tentu, terdapat derajat yang beragam atas reaksi tersebut, namun sedikit atau banyak kita pasti akan melawan balik. Dengan demikian, ketika seseorang menyampaikan kritik pada orang lainnya, jangan pernah berpikir bahwa kritik anda dapat diterima tanpa orang lain merasa tersakiti sebagai konsekuensinya. Sehingga lucu ketika kita membayangkan banyak sekali orang yang mengawali kritik dengan dua kata: “No offence”.

Oh, my dear Prophet, show me how. Oh, show me how.
Oh, my dear Prophet, show me how. Oh, show me how.

Saya adalah individu yang percaya bahwa semua manusia menilai (judging). Di dalam dunia riset, sangat penting mengakui bahwa hasil riset seseorang tentu memiliki potensi bias walau sekecil apapun. Tidak mungkin seorang akademisi mendapatkan suatu kebenaran yang hakiki; suatu kebenaran yang benar-benar didapatkan hanya dari hasil observasi terhadap objek penelitian kita. Karena pada dasarnya, aksi ‘mengobservasi’ sendiri merupakan kegiatan penilaian. Dengan demikian, value judgment yang kita miliki sebelumnya pasti akan mempengaruhi laporan yang kita tuliskan. Misalnya, bayangkan anda sedang melihat telepon genggam anda. Kemudian, perhatikan dengan baik, jangan anda sentuh dan biarkan tergeletak di atas meja, kemudian deskripsikan lah telepon genggam tersebut. Berikut adalah deskripsi telepon genggam saya:

  • Berbentuk kubus persegi panjang pipih dengan sudut-sudut yang tidak kaku dan cekung;
  • Layar terdapat di permukaan suatu sisi;
  • Terdapat tombol di bagian bawah layar dan simbol menyerupai tulisan ‘SAMSUNG’ di atasnya;
  • Terdapat tombol lain di bagian tepi (edge) telepon genggam yang kemungkinan hanya berukuran 2 cm.

Upaya yang saya dan anda lakukan untuk menggambarkan telepon genggam kita masing-masing adalah upaya menginterpretasi suatu objek. Benar? Maka dengan demikian, kita adalah seorang yang percaya akan value ladenness. Bisakah anda menebak apa kiranya telepon genggam saya? Jika anda dapat menebaknya, maka lagi-lagi anda telah resmi mengetahui bahwa diri anda adalah seorang judger.

Kemudian apa kaitannya antara mendeskripsikan telepon genggam dengan penjelasan akan kritik dan Nabi Muhammad SAW? Bahwa mungkin saya pribadi akan dapat menjadi individu yang lebih baik ketika saya mencari apa yang sebenarnya terjadi daripada menginterpretasikan apa yang seharusnya terjadi. Karena jika contoh sederhana dari mendeskripsikan telepon genggam ingin kita tingkatkan, maka hal serupa dapat terjadi ketika anda menilai suatu pemerintahan, organisasi, perusahaan, masyarakat, pola hidup, dan lain-lain. Seringkali masyarakat dengan mudah menyalahkan seorang Presiden karena kemiskinan dan kesenjangan sosial yang semakin melebar. Atau misalnya menyalahkan suatu perusahaan karena mengeksploitasi pekerjanya. Seringkali pula masyarakat memberikan rasa iba terhadap seorang kakek yang bekerja menggunakan kostum badut Winnie the Pooh tanp menghiraukan fakta bahwa sebenarnya kakek tersebut memiliki rumah di daerah Mojokerto. Mungkin memang lebih baik ketika kita mencari tahu ‘what is’ daripada berdebat perihal ‘what ought’ karena dengan mengetahui kondisi yang sebenar-benarnya (is dalam ‘what is‘) maka pemahaman kita akan kondisi yang sebenarnya akan memberikan ruang bagi toleransi. Konteks besarnya adalah pikirkan perasaan orang lain saat anda memutuskan untuk mencacinya.

Mungkin, catatan bagi diri saya sendiri adalah kelak, ketika saya ingin berbuat sesuatu, ada baiknya saya bertanya, “Nabi Muhammad bakal ngapain ya?

tumblr_llvi9mwjvi1qapfqco1_500

Advertisements

2 thoughts on “Kritik, Nabi Muhammad, dan Perasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s