Abu-Abu

No union is more profound than marriage, for it embodies the highest ideals of love, fidelity, devotion, sacrifice, and family. In forming a marital union, two people become something greater than once they were.” – Anthony McLeod Kennedy, Associate Justice of the Supreme Court of the United States of America.[1]

Merah, oranye, kuning, hijau, biru, ungu. Warna-warna inilah yang meramaikan lini masa Facebook dan Twitter saya dalam tiga hari terakhir. Warna-warna terang yang tidak hanya sering kali diasosiasikan dengan warna pelangi namun juga suatu fenomena sosial yang masih dianggap tabu – setidaknya di Indonesia dan setidaknya sebelum hari Jumat, 26 Juni 2015, yakni gerakan Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgendered (LGBT).

Mahkamah Agung Amerika Serikat, pada tanggal 26 Juni 2015 silam akhirnya mengapuskan larangan pernikahan sesama jenis. Pasca putusan Mahkamah Agung tersebut, kini seluruh negara bagian di Amerika Serikat memiliki kewajiban untuk memberikan izin dan merilis akte bagi pasangan sesama jenis yang ingin melangsungkan pernikahan. Menurut saya putusan ini menjadi awal baru dari perjuangan panjang kaum LGBT di Amerika Serikat dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Suatu capaian yang sangat signifikan bagi kaum minoritas yang termarginalkan selama setidaknya 46 tahun ke belakang saat kerusuhan di depan Stonewall Inn, penginapan dan bar yang menjadi pusat aktifitas kaum homoseksual pada jamannya, terjadi.

If #LoveWins, then why do people keeps fighting?
If #LoveWins, then why do people keeps fighting?

Namun saya tidak akan menuliskan kronologi perjuangan kaum LGBT Amerika Serikat demi meraih kesetaraan di negaranya. Saya menuliskan artikel ini pada dasarnya karena saya merasa terganggu melihat banyak sekali pengguna media sosial yang bereaksi terhadap putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat tersebut dengan cara yang membabi buta. Banyak sekali yang menolak putusan tersebut karena latar belakang agama ataupun kepercayaan. Tidak sedikit pula yang mendukung dengan berlandaskan kepada argument humanisme, kesetaraan, dan kasih sayang. Namun setelah tiga hari saya memperhatikan, saya akhirnya menemui satu pola yang mengganggu kerangka berpikir saya yakni setiap pengguna media sosial yang saya temui selalu menempatkan diri mereka dalam oposisi biner. Hitam atau putih, mendukung atau menolak, benar atau salah.

Dalam menganalisa suatu fenomena sosial, satu hal yang harus setiap individu pahami adalah bahwa tidak ada benar ataupun salah. Beberapa hari yang lalu, salah seorang mahasiswa PhD di Manchester membuka sesi diskusi Qualitative Research Methods dengan kalimat,

There is no right or wrong.”

Hal ini menjadi sangat krusial dalam bingkai analisa fenomena sosial karena pada dasarnya setiap orang memiliki definisi yang berbeda akan semua hal, termasuk di dalamnya adalah ‘kebenaran’ atau ‘kesalahan’. Makna akan subjektifitas menjadi inti dari social studies karena klaster keilmuan ini mempertimbangkan berbagai hal seperti keberagaman budaya, pemaknaan terhadap bahasa, perkembangan ide, peranan institusi, bahkan hingga pengaruh lingkungan alam terhadap proses tumbuh kembang seseorang. Dengan demikian, misalnya, seseorang yang dibesarkan di Massachusetts tentu akan memiliki definisi atas ‘kebenaran’ yang berbeda dengan seorang yang tumbuh dan berkembang di pedalaman Djibouti.

38-If-by-gay-you-mean-the-old-English-definition

Dengan demikian, menurut saya, menanggapi isu perihal pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat tidak sesederhana membedakan utara dengan selatan, hitam dengan putih, baik atau buruk, benar ataupun salah. David Held, salah seorang akademisi yang giat meneliti fenomena globalisasi, mengkategorikan tiga posisi dalam menganalisa globalisasi: the hyper-globalisers, the sceptics, dan the transformationalists.

Dari melihat namanya saja mungkin teman-teman sudah bisa memahami bahwa hyper-globalisers dan sceptics menempatkan para pegiat studi globalisasi ke dalam oposisi biner. Hyper-globalisers, secara sederhana, adalah mereka yang mempercayai bahwa fenomena globalisasi tidak dapat terelakkan. Dengan demikian setiap kelompok masyarakat seharusnya menyambut kedatangan globalisasi dan mulai beradaptasi dengan segala perubahan yang ada – tanpa terkecuali pola konsumsi, pola produksi, cara membesarkan anak, dan lain-lain. Hal tersebut dikarenakan peranan negara yang semakin kecil, peranan pasar yang semakin berkuasa, penerapan mekanisme pasar bebas, kesejahteraan yang semakin tersebar secara global, pergerakan manusia yang tanpa batas, hingga hilangnya batas-batas konvensional suatu negara akibat pengaruh internet. Sementara itu, hal tersebut tentu ditentang oleh sceptics yang menganggap bahwa globalisasi berawal dari peranan pemerintah yang sangat kuat dan akan terus demikian. Kaum ini menganggap bahwa dengan adanya globalisasi, kesejahteraan akan menjadi suatu komoditas yang semakin eksklusif bagi negara-negara tertentu saja. Lalu apa tanggapan kaum transformationalists?

Kaum transformationalists memberikan wilayah abu-abu bagi pemisahan antara hitam dan putih. Transformationalists berargumen bahwa globalisasi terjadi akibat berbagai hal dan tidak bisa disederhanakan hanya ke dalam beberapa faktor saja – pasar bagi kaum hyper-globalist atau negara bagi kaum sceptics. Tujuan akhirnya pun sangat ditentukan dengan bagaimana perilaku masyarakat dalam menanggapi globalisasi itu sendiri – tidak semata-mata membawa kesejahteraan seperti yang dikatakan oleh kaum hyper-globalist atau memperluas jurang perbedaan seperti argument kaum sceptics.

Dalam memadukan argumen Held dengan studi kasus pernikahan sesama jenis, sesungguhnya setiap individu dapat memposisikan diri sebagai seorang transformationalists daripada sibuk menyalahkan atau memberikan justifikasi atas argumen mereka masing-masing. Sudah tentu argumen anda tidak akan relevan (dan malah akan terlihat lucu) ketika anda menggunakan proyeksi teologis dalam melihat fenomena pernikahan sesama jenis. Proyeksi teologis yang saya maksud disini adalah bahwa suatu fenomena akan berjalan di atas garis yang linear menuju ‘ramalan’ yang anda katakan. Misalnya saja, banyak sekali status Facebook atau Twitter yang menyatakan bahwa legalisasi pernikahan sesama jenis bukanlah suatu kemajuan, melainkan sebuah landmark kemunduran jaman. Pasalnya, bagi penganut Kristiani, Tuhan menghancurkan kota Sodom dan Amora karena mempraktikkan hubungan sesama jenis. Bagi anda penganut Islam, mungkin kisah yang lebih familiar adalah perihal bagaimana Allah SWT memberikan hukuman bagi kaum Nabi Luth AS karena alasan yang sama dengan cerita Sodom dan Amora. Menurut saya – tanpa menyelami lebih jauh perihal debat yang berlandaskan pada agama – proyeksi seperti itu tentu memiliki kecenderungan fallacy yang lebih besar. Pasalnya, dengan mempertimbangkan bermacam hal seperti tingkat kebahagiaan para pasangan sesama jenis yang kini dapat menikah, toleransi umat beragama di Amerika Serikat, atau jejak pendapat yang menunjukkan bahwa pernikahan sesama jenis mulai mendapatkan tempat di masyarakat, maka sesungguhnya semakin sulit bagi seseorang untuk melakukan studi proyeksi. Apa lagi dengan menerka-nerka keputusan Sang Kuasa.

Saya akan memperlihatkan beberapa argumen yang mendukung legalisasi pernikahan sesama jenis dan juga argumen yang mendukung konsep pernikahan tradisional. Argumen ini tidak ditujukan untuk melakukan komparasi akan mana yang lebih baik: pernikahan sesama jenis atau tidak? Pertama-tama, silahkan disimak terlebih dahulu justifikasi (ilmiah) dari kedua oposisi biner ini.

Mendukung pernikahan sesama jenis[2]:

  • Pasangan sesama jenis yang tidak subur (infertile) atau tidak ingin memiliki anak memiliki kesempatan untuk menikah;
    • Sejak tahun 1970 hingga 2012, sekitar 30% rumah tangga di Amerika Serikat adalah pasangan yang menikah namun tidak memiliki anak, dan pada tahun 2012 pasangan yang menikah namun tidak memiliki anak berjumlah 9% lebih banyak dari pasangan yang menikah dan memiliki anak;
    • Pada tahun 2010, hasil pemungutan suara dari Pew Research Center menunjukkan bahwa cinta, komitmen, dan rasa saling memiliki merupakan faktor-faktor yang “sangat penting” (very important) jika suatu pasangan ingin melakukan pernikahan;
    • Hanya 44% pasangan yang belum menikah dan 59% pasangan yang telah menikah, yang menjadikan anak sebagai faktor yang “sangat penting”;
  • Pernikahan sesama jenis dapat meningkatkan pendapatan pemerintah dan membantu mendorong kemajuan ekonomi;
    • Pada tahun 2012, Walikota New York mengumumkan bahwa pernikahan sesama jenis memberikan pemasukan sebesar $259 juta bagi kota tersebut sejak pernikahan sesama jenis dilegalkan pada tahun 2011;
    • Sejak Massachusetts melegalkan pernikahan sesama jenis pada tahun 2004, kota ini mendapatkan pemasukan dari penyewaan gedung, pemesanan kue, penyewaan kendaraan, dan lain-lain yang digunakan untuk pernikahan sebesaar $111 juta.

Mendukung pernikahan tradisional:

  • Proteksi terhadap keluarga[3];
    • Beberapa studi membuktikan bahwa keluarga yang dikepalai oleh seorang ayah dan seorang ibu lebih mampu memberikan keamanan finansial, emosional, dan fisik;
    • Pasangan heteroseksual yang memiliki intensitas hubungan seksual yang rutin lebih terjaga dari permasalahan emosional, psikologis, serta lebih produktif dalam menghasilkan pendapatan;
  • Memiliki resiko yang lebih kecil dari berbagai ancaman kesehatan[4];
    • Jurnal AIDS melaporkan bahwa laki-laki yang terlibat dalam hubungan sesama jenis melakukan hubungan seks anal dan oral-anal lebih sering daripada kaum homoseksual yang tidak memiliki pasangan. Studi membuktikan bahwa pasangan sesama jenis yang melakukan hal tersebut memiliki resiko lebih besar untuk terkena HIV/AIDS;
    • Bahaya lain yang mengancam adalah kesehatan mental. Jurnal yang dipublikasikan oleh Archieves of General Psychiatry menyebutkan bahwa saudara kembar yang salah satunya adalah seorang homoseksual dan memiliki pasangan seks sesama jenis memiliki kemungkinan 6,5 kali lebih besar untuk mencoba bunuh diri dibandingkan kembaran mereka.

Setelah anda melihat komparasi sederhana yang saya berikan di atas, maka sesungguhnya akan semakin kompleks untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Belum lagi, akan semakin sulit bagi anda untuk melakukan perdebatan teologis karena pada kenyataannya, teramat banyak ragam realita yang terjadi saat ini, yang berpotensi untuk membawa sesuatu ke berbagai arah. Karena pada dasarnya, kedua kondisi di atas memiliki justifikasi yang rasional akan mengapa masing-masing diantara mereka adalah pandangan yang benar. Inilah tujuan saya memberikan argumen di atas, yakni untuk lebih menekankan perihal ketiadaan ‘benar’ atau ‘salah’.

inception-1b
One thing leads to another, and that another thing will lead to endless things.

Menurut saya, akan lebih bijak ketika seseorang menilai fenomena pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat dengan tidak mengeneralisasi fenomena tersebut. Misalnya saja komentar di Facebook seperti ini,

Dunia ne wis arep kiamat tenan.”

Atau,

Teman2ku yang sedang di Amerika, berhati-hatilah karena bisa jadi sejarah yang pernah menimpa negeri Sodom akan segera terjadi disana.”

Atau,

Secara pribadi, sangat menentang pernikahan sesama jenis. Sudah sunnatullah. Cepat atau lambat org2 yang pada dukung itu akan menyadarinya insya Allah.”

Beberapa contoh komentar di atas sangat mengeneralisasi fenomena ini bahwa seakan-akan (terutama untuk komentar pertama) berakhirnya rotasi bumi, revolusi planet terhadap matahari, dan bayangan akan hari akhir akan terjadi jika dan hanya jika pernikahan sesama jenis dilegalkan di Amerika Serikat. Atau, untuk komentar kedua, jika memang sejarah yang menimpa Sodom dan Amora akan terulang, maka Tuhan hanya akan menghukum Amerika Serikat dan lupa bahwa LGBT terdapat diberbagai belahan dunia. Atau, yang lebih fatal lagi, adalah dengan mengira bahwa semua orang yang memiliki agama seharusnya menolak legalisasi ini. Padahal pada kenyataannya, baik orang beragama Islam, Kristiani, Hindu, atau kepercayaan lain pun terpecah belah dalam menilai fenomena ini.

Ngga ada 'kan yang 100%?
Ngga ada ‘kan yang 100%?

Sesungguhnya, setiap dari kita dapat membedah fenomena ini ke dalam kasus-kasus yang lebih spesifik. Misalnya saja begini, banyak sekali teman-teman saya (dan mungkin termasuk saya) yang memiliki argumen yang sangat sederhana dalam menanggapi fenomena ini,

Selama fenomena ini tidak menimpa keluarga saya, maka akan saya hormati keputusan orang lain.

Artinya begini: ketika terdapat rekan kerja anda, teman kuliah, guru, dosen, penerima tamu, atau bahkan presiden sekalipun yang memilih untuk menjadi seorang LGBT, selama mereka bukanlah bagian dari keluarga inti saya, maka saya akan menghormati orientasi seksual dan pilihan mereka tersebut. Premis utama untuk menggunakan bingkai kacamata ini sangat sederhana: fleksibilitas. Ketika saya menuliskan ‘fleksibilitas’, artinya rekan-rekan harus bisa memberikan ruang untuk toleransi bagi kepercayaan yang teman-teman pegang teguh. Hindari mengaplikasikan kepercayaan tersebut ketika kita dihadapkan dengan human setting yang berbeda. Ketika anda berusaha mencari ‘kebenaran’ namun menggunakan metode yang ‘ngeyel‘ untuk memperoleh data dari suatu kelompok, maka akan terjadi apa yang disebut sebagai insiders-outsiders gap. Danny L. Jorgensen berkata,

It is not possible to acquire more than a very crude notion of the insiders’ world, for instance, until you comprehend the culture and language that is used to communicate its meanings. Greater comprehension requires that you understand the words of a language as they are used in particular situations. Insiders manage, manipulate, and negotiate meanings in particular situations, intentionally and unintentionally obscuring, hiding, or concealing these meanings further from the viewpoint of outsiders.”

Azaz konsistensi, menurut saya, akan menjadi batu penghalang yang luar biasa besar jika digunakan untuk menganalisa fenomena ini. Akan terdapat banyak sekali paradoks yang pada akhirnya akan meruntuhkan logika anda sendiri. Ketika misalnya anda menyatakan menolak keras keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat, maka seharusnya anda menyuarakan dengan lantang sikap anda jika anda memiliki rekan atau keluarga yang LGBT. Namun, tanyakan di hati anda, mampukah anda tidak sedikitpun menyisakan ruang toleransi di dalam diri anda ketika yang mengadopsi orientasi LGBT tersebut adalah keluarga anda? Logika konsistensi yang sama dapat pula diimplementasikan kepada mereka yang mendukung habis hak-hak kaum LGBT. Maka sudah seharusnya jika nanti anda memiliki buah hati dan buah hati anda tumbuh menjadi seorang LGBT, anda harus mendukungnya. Namun lagi-lagi tanyakanlah kepada diri anda sendiri, mampukah anda tetap mencintai seseorang yang melanggar norma sosial umum?

Dengan demikian, kembali kepada premis awal saya dimana semua orang seharusnya menghargai subjektifitas, sikap seseorang dalam menanggapi fenomena sosial LGBT ini sudah seharusnya menjadi subjektif. Tidak hanya berhenti sampai tingkat individu – dimana tiap individu wajib menghargai pandangan individu lainnya, namun sampai ke tingkatan yang lebih kecil lagi (nucleus) yakni bagaimana pandangan seseorang tersebut dapat (secara subjektif) diaplikasikan secara berbeda ke orang-orang atau kondisi yang berbeda pula.

Jadi, jika anda berkata bahwa ‘kiamat sudah dekat’ karena Amerika Serikat melegalisasi pernikahan sesama jenis, atau menggunakan hashtags #LoveWins diberbagai media sosial anda, maka respon saya hanya satu: tunggu dulu, bung.

[1] Ariane de Vogue dan Jeremy Diamond, ‘Supreme Court rules in favor of same-sex marriage nationwide’, dalam CNN Politics, diakses pada 29 Juni 2015, http://edition.cnn.com/2015/06/26/politics/supreme-court-same-sex-marriage-ruling/

[2] ProCon, ‘Pro & Con Arguments: “Should Gay Marriage Be Legal?”’, dalam procon.org, diakses pada 29 Juni 2015, http://gaymarriage.procon.org/#pro_con

[3] Joseph Mattera, ‘The Case for Traditional Marriage’, dalam Marriage Resources for Clergy, diakses pada 29 Juni 2015, http://www.marriageresourcesforclergy.com/site/Articles/articles024.htm

[4] Timothy J. Dailey, ‘Comparing the Lifestyles of Homosexual Couples to Married Couples’, dalam Family Research Council, diakses pada 29 Juni 2015, http://www.frc.org/get.cfm?i=IS04C02

Advertisements

12 thoughts on “Abu-Abu

  1. Tulisan yang keren dari sesosok Aldo yang gue banggakan. Bagi gue pribadi seperti yang pernah gue tulis dulu (dan masih gue amini sampai sekarang) entah karena apa gue nulis begini:

    “Dan kebenaran itu sangatlah relatif. Jika ada 6,5 milyar manusia di dunia, maka ada 6,5 milyar ukuran kebenaran dan ukuran kebahagiaan.”

    Terima kasih Aldo Marchiano Kaligis, dengan segala kecerdasan dan idealisme lo, lo memilih untuk menulis dari perspektif abu – abu.

    Like

  2. Tidak ada kebenaran sejati karena kita melihat fenomena tersebut dari analisa kita sebagai manusia yang tentu saja sangat terbatas. Sebagai insan yang beriman, hendaknya segala permasalahan dikembalikan pada tuntunan Yang Maha Kuasa, karena di sanalah letak kebenaran sejati. Semakin nyatalah manusia berbuat kerusakan di bumi ini. Tidak perlu kajian medis/psikologis/sosial untuk menghadapi masalah ini. Cukup kembali pada Quran dan Hadis. Tunggu dulu? Ya silahkan, Tuhan bukannya tidak bertindak, hanya menunggu.

    Like

  3. Beberapa tahun ini otak gue dipenuhi pemikiran tentang hakikat kebenaran. Gue selalu mencoba berpikir dari berbagai sudut pandang dalam menilai benar atau tidaknya suatu fenomena. Dan hasilnya… seperti yang Mas Aldo Marchiano bilang, gue masuk ke daerah ABU-ABU. Bukan berarti gue ga bisa menilai mana yang benar mana yang salah, namun gue sadar bahwa gue ngga bisa memaksakan kebenaran yang gue percaya kepada orang lain. Setiap otak manusia berpikir/mempertimbangkan suatu hal berdasarkan pengalaman yang telah dia lewati sebelumnya. Tidak ada satupun individu di dunia yang memiliki pengalaman hidup yang sama antara satu dengan yang lainnya. Itulah (menurut gue) hebatnya ciptaan Tuhan yang disebut manusia.

    Like

    1. Anjrit apa kabar lo!?!?!?!?!? Salam buat bunda!

      Betul banget, Nyo! Pengalaman OKA tentu beda sama ONS. ONS beda dengan OSB. Dan seterusnya. Tapi satu hal yang sama adalah setiap dari kita selalu punya tujuan untuk kontribusi. Bisa jadi (kalau pengalaman OSIS itu digeneralisasi ke konteks masyarakat umum) ternyata manusia juga punya desire yang sama yakni berkontribusi/berbuat baik. Cuma pertanyaannya kemudian: “Apa definisi ‘baik’ menurutmu?”

      Like

  4. Selamat sore mas aldo . Terimakasih atas tulisan yang telah dibuat . Sebuah pertanyaan mengenai sudut pandang abu-abu . Apakah sudut pandang abu-abu memiliki arti sebuah netralitas ataukah tidak dapat menentukan pilihan ? Kira-kira apa yang akan terjadi jika semakin banyak manusia yang masuk ke zoba abu-abu ? Terimakasih

    Like

    1. Halo, Edwin. Salam Kenal. Sebenarnya, menurut saya, jawaban atas kedua pertanyaan tersebut sama: tergantung.

      Ketika kamu memandang seseorang yang ‘abu-abu’ sebagai seorang yang netral/tidak dapat menentukan pilihan/plin-plan/tidak tegas/imparsial/dan lain-lain, sangat tergantung dari perspektif mana kamu melihatnya. There’s no right or wrong.

      Untuk pertanyaan kedua sebenarnya jawabannya tetap tergantung perspektif kamu. Tapi hati-hati, seperti yang saya tuliskan di artikel ini bahwa jenis pertanyaan proyektif seperti ini – pertanyaan yang ‘mengira-ngira’ tentang apa yang mungkin terjadi di masa mendatang – bisa berbahaya karena artinya kita bisa saja menghiraukan banyak faktor/realita yang ada saat ini.

      Thanks udah baca!

      Like

  5. Haloo aldo, salam kenal ya… sy temennya alif (azra) dan luthfan herdy, lagi iseng2 aja baca. Sy cuma mau nanya aja, ini abu-abu di akherat nanti masuk mana ya? Soalnya setau ku di antara surga dan neraka ga ada ruang buat si abu-abu… jadi jelas kita harus menentukan pilihan 🙂 Eniwei, caramu menulis bagus… ane lg belajar nulis dikit2
    Thaaanks!

    Like

  6. Haloo aldo, salam kenal ya… sy temennya alif (azra) dan luthfan herdy, lagi iseng2 aja baca. Sy cuma mau nanya aja, ini abu-abu di akherat nanti masuk mana ya? Soalnya setau ku di antara surga dan neraka ga ada ruang buat si abu-abu… jadi jelas kita harus menentukan pilihan 🙂 Eniwei, caramu menulis bagus… ane lg belajar nulis dikit2
    Thaaanks!

    Like

    1. Bwahaha… Salam kenal, mas Danto! Wah kalau ditanya apakah ada tempat untuk si abu-abu di akhirat nanti, maka sepertinya saya orang yang salah untuk ditanya nih, mas. Mungkin jawabannya juga tergantung perihal bagaimana mas Danto (atau orang lain pada umumnya) mendefinisikan Tuhan, akhirat, kepercayaan, dan banyak hal lainnya juga. Thanks udah mampir, mas.

      Like

  7. Nahh itu dy permasalahan utamanya mas… sebenarnya itu bkn pertanyaan untukmu aja, ini pertanyaan untuk diri kita sendiri, terutama bagi si abu2 juga… so, mari berlomba lomba belajar untuk masuk surga.. atau minimal, ga masuk neraka.. 😅

    Like

  8. hahahaha ya terimakasih mas aldo atas balasannya. Mungkin satu hal yang diambil bahwa melihat kenyataan dalam hidup tidak hanya sebatas melihat hitam atau putih atau seperti bilangan biner 1 atau 0 .
    Karena hitam atau putih maupun 1 atau 0 yang akan menyusun sebuah deret-deret baru .

    Salam
    Edwin Cris
    2011 Jaya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s