Tell Me Sweet Little Lies

Seratus delapan puluh lima.

Angka tersebut merupakan jumlah pengunjung (visitor) blog saya dalam sepuluh hari terakhir. Jumlah tertinggi disumbangkan oleh tanggal 14 Juli 2015 (sebanyak 34 pengunjung) dan satu hari setelahnya (51). Padahal sudah tiga belas hari sejak saya mengunggah tulisan terakhir saya. Di kedua hari tersebut saya tidak menuliskan apapun – kecuali disertasi saya yang tidak diperuntukan sebagai bahan blog. Namun pada hari Selasa, 14 Juli 2015, ayah saya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di hari tersebut saya sedang menghabiskan waktu di Joule Library, berkutat dengan kewajiban menulis disertasi. Jujur saja, saya tidak mengikuti perkembangan berita dalam negeri. Jangankan kejadian yang terjadi nan jauh disana, umpamanya gedung Joule Library ini terbakar sekalipun mungkin saya adalah orang terakhir yang akan berlari untuk menyelamatkan diri karena inilah kebiasaan saya yakni menghiraukan segala sesuatu jika sedang fokus mengerjakan disertasi. Sampai pada akhirnya salah seorang rekan saya menghubungi saya melalui fitur Facebook Messaging dan berkata:

Hi Aldo, I’m really sorry about thing that just happened to your dad. Really wish things get better soon. Good luck for everything!

Saya langsung bergegas mencari tahu apa yang menimpa ayah saya dan, benar saja, telah terdapat begitu banyak artikel yang kurang lebih memiliki tajuk serupa: ‘KPK Tetapkan OC Kaligis Sebagai Tersangka’.[1]

And I found myself against all the odds – again.

Saya ingat betul pada hari itu, artikel pertama yang saya baca bersumber dari situs Kompas. Saya membaca secara seksama, perlahan, dan sambil diiringi rasa tidak percaya. Timbul berbagai pertanyaan yang mulai mengusik. Mengapa ayah saya ditangkap oleh KPK? Apa permasalahannya? Sejak kapan KPK “mengintai” pergerakan ayah saya? Apakah ayah saya benar-benar bersalah? Langkah hukum apa yang dapat ayah saya tempuh?

Namun ada satu pertanyaan yang saya tahu betul akan menghantui langkah saya selama beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun ke depan: apa yang bisa saya lakukan untuk membantu ayah saya?

Terlalu banyak spekulasi dan ide yang bergumul di dalam kepala saya pada saat itu. Ingin rasanya saya pulang untuk bertemu dengan kakak-kakak saya dan membantu ayah saya dalam kapasitas saya sebagai anaknya. Saya berpikir bahwa mungkin kehadiran saya (presence) akan sangat berarti bagi ayah saya ketimbang kiriman doa, upaya membesarkan hati melalui pesan elektronik, atau hal lain yang sifatnya dapat saya berikan dari jauh (essence). Namun saya tahu bahwa kewajiban saya disini, di Britania Raya, masih sangat banyak. Urusan akademik maupun non-akademik masih sangat banyak yang belum terselesaikan dan menunggu untuk dieksekusi. Saya juga takut kepulangan saya justru merumitkan keadaan dan membuat kehadiran saya menjadi sia-sia.

Ingin saya beradu argumen dengan Tuhan perihal kejadian yang menimpa ayah saya. Of all the timing He could pick, He chooses to ring the bell now; at the point where my relationship with the entire Kaligis family is starting to get betterLord have mercy.

Saya mengirimkan pesan ke kakak-kakak saya untuk mengetahui perkembangan yang terjadi. Namun pada hari itu tidak satupun diantara mereka yang merespon pesan saya. Saya berkonsultasi dengan rekan-rekan saya yang memiliki latar belakang studi hukum dan berdiskusi perihal langkah apa yang dapat ayah saya lakukan, bantuan hukum apa yang dapat diberikan, apa hak dan kewajiban beliau sebagai tersangka, dan masih banyak lagi. Saya bahkan bertanya kepada salah seorang teman yang bekerja sebagai wartawan di salah satu stasiun televisi terbesar di Indonesia. Saya memutuskan bertanya kepada teman saya tersebut karena Ia merupakan salah satu wartawan yang pertama kali melaporkan kronologi penangkapan ayah saya. Namun, apa daya, Ia pun tak kunjung membalas.

I was helpless. I was desperate. And I had nowhere to go.

Hingga hari berikutnya barulah saya mendapatkan balasan dari salah seorang kakak saya. Pada tanggal 15 Juli 2015, Facebook Messenger saya mengeluarkan notifikasi. Saya membukanya dan kakak saya menuliskan:

“Bantu doa yg pasti do, biar bokap kuat n tetap sehat. Lo balik ga lebaran? Kl balik besuk bareng2 kita”

‘Bantu doa’? Really?

Saya akan sangat jujur di dalam tulisan ini dan saya tidak bisa memungkiri bahwa jawaban kakak saya tersebut sangat mengganggu bagi saya. “Doa” bukanlah tipe bantuan yang akan saya berikan untuk ayah saya yang saat ini sedang mendekam di dalam tahanan. “Doa” adalah kewajiban yang akan saya panjatkan kepada Tuhan Semesta Alam untuk meringankan beban ayah saya. Doa adalah sesuatu yang otomatis, bukan mekanis. Ketika saya bertanya ‘Apa yang bisa gue bantu kak?’, maka yang saya maksud adalah bentuk tindakan yang berwujud dan memiliki esensi duniawi. I am capable of doing so many things rather than just surrendering myself to God.

Saya berpikir habis-habisan apa kiranya yang dapat saya lakukan. Terbesit dipikiran saya untuk melepaskan segala atribut non-akademik saya di Britania Raya, memfokuskan diri saya untuk menyelesaikan studi, dan segera kembali ke Indonesia untuk bertemu keluarga saya. Saya sudah memikirkan matang-matang siapa yang akan menggantikan posisi saya, bagaimana roda organisasi akan terus berjalan, dan bagaimana pertanggung jawaban saya kepada rekan kerja saya disini. Momentum yang sebenarnya sangat tepat untuk mengundurkan diri ini didukung pula oleh beberapa pesan pribadi dari orang-orang yang tidak saya kenal, yang meminta saya mempertanggungjawabkan apa yang telah ayah saya lakukan. Tekanan tersebut seraya memberikan citra bahwa organisasi yang sangat saya cintai ini telah ternodai dengan dosa yang begitu berat karena dipimpin oleh ‘anak koruptor’.

Saya pun mencurahkan pemikiran saya ini ke ibu saya. Sejak hari raya Idul Fitri, saya berusaha mengontak ibu saya. Ingin rasanya saya mengeluarkan segala kegundahan, amarah, dan pertanyaan kepadanya. Namun sayangnya hingga kemarin, 22 Juli 2015, Tuhan tidak mempertemukan kami. Momentumnya selalu tidak cocok; ketika saya bisa, ibu saya tidak bisa, vice versa. Sampai akhirnya kemarin kami bercengkerama dan ibu saya hanya perlu mengeluarkan tiga kata dari mulutnya:

“Tanggung jawab, mas.”

Ya. Tanggung jawab. Hal itu menyadarkan saya kembali perihal landasan awal perjuangan saya untuk memimpin organisasi ini. Kecintaan saya terhadap organisasi ini harus saya buktikan justru di saat seperti ini. Di periode dimana terdapat orang-orang yang mengira bahwa saya akan jatuh karena alasan personal. And I have decided that I will not be defined by what I am not. Ayah saya boleh dinobatkan sebagai tersangka, namun Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK) tidak dipimpin oleh seorang koruptor.

Maafkan saya apabila struktur penulisan artikel ini tidak kronologis. Jembatan antar paragraf tidak terbangun dengan mulus dan topik antar paragraf juga silih berganti. Maafkan metode penulisan saya yang tidak hati-hati karena jujur, dalam tulisan ini, saya hanya ingin mengeluarkan pemikiran terpendam yang saya simpan selama sepuluh hari terakhir.

Menyikapi penangkapan ayah saya, saya mendapatkan informasi dari berbagai sumber bahwa ayah saya diduga melanggar ‘pasal 6 ayat 1 huruf a dan pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b, dan atau pasal 13, Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto pasal 64 ayat 1 juncto pasal 55 ayat 1 KUHPidana.’[2]

Saya kemudian mencari apa isi dari masing-masing pasal tersebut. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001, pasal 6 ayat 1 huruf a menyatakan:

“(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang:

a. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili; atau”

Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b menyatakan:

“(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang:

a. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; atau

b. memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.”

Jangan tanya kepada saya perihal bagaimana mekanisme hukum yang berlaku. Jangan pula tanyakan kepada saya perihal apa kelemahan dari masing-masing pasal tersebut di atas yang dapat dimaksimalkan oleh tim penguasa hukum ayah saya. Tujuan saya menuliskan pasal-pasal tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa betapa berat hukuman bagi seseorang koruptor.

Ketika di Universitas Gadjah Mada (UGM) terdahulu, saya mengambil mata kuliah Korupsi Politik yang diampu oleh Bapak Nur Rachmat Yuliantoro. Salah satu kesimpulan yang dapat saya petik dari kelas tersebut adalah bahwa korupsi merupakan dosa yang tak termapuni bagi siapapun pelakunya. Kemudian, apakah dengan ditetapkannya ayah saya sebagai tersengka membuat nilai dari mata kuliah Korupsi Politik tersebut menjadi luntur di dalam diri saya? Jawabannya adalah tidak. Jika bukti-bukti hukum menyatakan bahwa benar adanya bahwa ayah saya melakukan tindakan korupsi politik, hanya satu “doa” saya kepada Tuhan (dan hakim): hukum ayah saya seberat-beratnya sesuai dengan kaidah hukum positif yang berlaku.

Kejadian ini tidak lekas membuat saya membabi buta untuk membela ayah saya. Saya tidak tumbuh dewasa dengan membela keluarga saya setengah mati hanya karena alasan harga diri semata. I was not raised through the premise of ‘right or wrong, this is my family’ and I am not intending to do so in the near future.

Kakak-kakak saya mengehendaki saya untuk menggunakan hashtag #SaveOCK atau #SaveOCKaligis diberbagai media sosial yang saya miliki. Namun saya pun harus berhati-hati dalam menggunakannya. Lagi-lagi, saya tidak akan menjadi errand boy yang menggonggong dengan keras namun tidak tahu apa yang Ia perjuangkan. Alasan saya menggunakan hashtag tersebut bukan untukk menarik simpat dari teman-teman terkait insiden yang sedang dihadapi oleh ayah saya. Bukan itu. Alasan saya adalah semata untuk mencurahkan isi hati saya dan mengekspresikan kerinduan saya akan ayah saya.

“Save” yang saya maksud bukanlah untuk ‘menyelamatkan’ ayah saya dari belenggu KPK. Bukan pula “Save” tersebut saya tujukan untuk membentuk opini publik untuk melawan KPK. Saya hanya ingin ayah saya diselamatkan dari polemik lain yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Saya ingin ayah saya diselamatkan dari permasalahan lain yang dapat semakin menutupi amal baik yang telah dilakukannya selama ini dan semakin membutakan orang lain dalam memandang dirinya. Saya ingin menyelamatkan ayah saya dari keributan yang melibatkan tim kuasa hukumnya dengan para wartawan, atau cicitan selebritis tanah air yang (menurut saya) pernyataannya semakin memperkeruh suasana, atau bahkan isu-isu personal yang diangkat oleh media terkait jumlah anak dan pasangan yang ayah saya miliki. My father is wrecking, people. Please, don’t let him drowned.

Hal lain yang paling menyakitkan dari keseluruhan insiden ini adalah melihat kicauan orang-orang diberbagai cerobong media sosial. Pada tanggal 18 Juli 2015, saya menyempatkan diri untuk melihat fenomena ini melalui software Webometrics. Hanya dengan mengumpulkan livestream dari Twitter selama kurang lebih sepuluh menit, saya kemudian mengklasifikasikan intonasi tweet seseorang berdasarkan emosi mereka masing-masing. Sudah tentu klasifikasi tersebut saya landaskan kepada interpretasi saya pribadi – dengan demikian potensi bias sangat tinggi dalam analisa ini. Namun dari ratusan tweet yang saya kumpulkan, tidak kurang dari 40% memiliki intonasi negatif. Penggunaan kata cacian mewarnai tabel Webometrics saya. Sisanya kebanyakan merupakan tweet dengan konten serupa ataupun retweet.

Dari analisa sederhana tersebut, saya belajar banyak hal. Saya belajar bahwa isu yang menimpa ayah saya sempat sedikit bergeser. Media sempat menggiring isu ke ranah yang lebih personal dan meninggalkan kasus hukum yang sebenarnya merupakan fokus dari tragedi ini. Tribun News adalah salah satu portal yang pertama kali mengunggah artikel berjudul ‘OC Kaligis Akan Selesaikan Buku Tentang 10 Istri dan 20 Anaknya’.[3] Pergeseran isu ini membawa saya pada kesimpulan bahwa: hampir tidak mungkin memisahkan kehidupan personal dengan wilayah profesional seseorang. Konsep sekularisme yang mengedepankan pemisahan ruang privat dengan ruang publik agaknya terbantahkan melalui pengalaman yang dihadapi oleh ayah saya dan saya saat ini. Maka tidak lagi mengherankan bila terdapat beberapa pihak yang coba mengaitkan permasalahan yang sedang keluarga saya lalui dengan kinerja saya di dalam organisasi saya kini. Mungkin, dengan menyelesaikan masa bakti saya disini, saya dapat sedikit menyelamatkan keterpurukan ayah saya.

Dan saya akhirnya menyadari pula bahwa dengan menulislah saya (mungkin) dapat menyelamatkan ayah saya. Hanya melalui blog saya dapat mengekspresikan keluh kesah saya dan berharap ada orang lain yang membacanya. Melalui media inilah saya menyadari bahwa kata “Save” dalam hashtag #SaveOCK dapat benar-benar saya implementasikan. Hanya inilah senjata yang dapat saya gunakan untuk menyampaikan pada lingkungan sekitar perihal apa yang saya lalui dan saya harapkan.

Ketika banyak sekali orang-orang yang mencibir ayah dan keluarga saya, sudah tentu saya tidak bisa merespon mereka satu per satu di media sosial. Ketika terdapat beberapa pesan melalui akun Facebook saya yang mencoba menjatuhkan PPI UK dengan menggunakan kasus ayah saya sebagai landasan argumen mereka, sudah barang tentu respon saya dapat disalahartikan oleh pihak-pihak tersebut dan justru akan semakin menyulitkan posisi PPI UK. Maka hanya melalui blog inilah saya dapat dengan bebas mengekspresikan diri saya: Aldo Kaligis sebagai individu, sebagai anak dari OC Kaligis, ataupun sebagi Ketua PPI UK.

And here I am, sitting in the exact same cubicle in Joule Library as ten days ago, pouring myself out and trying to defy the odds.

Saya patut berterima kasih kepada seluruh pihak yang mencurahkan perhatian kepada saya dan keluarga saya, terlepas dari perhatian tersebut disampaikan melalui intonasi sarkastik, temperamental, ataupun suportif. Dengan segala kerendahan hati, saya juga ingin memohon dukungan teman-teman agar kasus yang menimpa ayah saya dapat terbuka seluas-luasnya sehingga menghasilkan kebenaran yang sesungguhnya.

And for my father, repeat after me, dad: “After. Hardship. Comes. Ease.”

We love you, dad.
We love you, dad.

[1] Ambaranie Nadia Kemala Movanita, ‘KPK Tetapkan OC Kaligis Sebagai Tersangka’, dalam Kompas.com, 14 Juli 2015, diakses pada 23 Juli 2015, http://nasional.kompas.com/read/2015/07/14/17022301/KPK.Tetapkan.OC.Kaligis.sebagai.Tersangka

[2] Yohannie Linggasari, ‘OC Kaligis Tersangka, KPK: Kami Masih Kembangkan Kasus Ini, dalam CNN Indonesia, 14 Juli 2015, diakses pada 23 Juli 2015, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150714195343-12-66407/oc-kaligis-tersangka-kpk-kami-masih-kembangkan-kasus-ini/

[3] Eri Komar Sinaga, ‘OC Kaligis Akan Selesaikan Buku Tentang 10 Istri dan 20 Anaknya’, dalam Tribun News, 15 Juli 2015, diakses pada 23 Juli 2015, http://www.tribunnews.com/nasional/2015/07/15/oc-kaligis-akan-selesaikan-buku-tentang-10-istri-dan-20-anaknya

Advertisements

2 thoughts on “Tell Me Sweet Little Lies

  1. Not AFTER, but WITH hardship,
    comes ease.
    Karena Innama’al bukan innaba’dal.
    Iya, pertolongan memang sedekat itu, Do 🙂

    Semoga kasus ini terbuka sejelas-jelasnya, dan lo sekeluarga saling support, tabah, dan bijak menghadapinya.

    Semangat!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s