hi.dup*

Sore hari ini, Minggu, 2 Agustus 2015, salah seorang kakak angkatan saya yang bernama Hardya Pranadipa, memutuskan untuk melamar kekasihnya Anggita Paramesti. Mereka berdua merupakan alumni jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM). Foto mereka berdua terpajang kekal selama satu hari penuh di lini masa Facebook saya. Sebuah foto yang memancarkan kebahagiaan, senyum lebar, dan, entah mengapa, sebuah kekhawatiran.

Kekhawatiran yang saya maksud tentu saja tidak berasal dari wajah kedua calon mempelai tersebut. They’re happy, they’re doing fine – I assume. Kekhawatiran yang saya maksud berasal dari diri saya sendiri karena sepertinya sudah mulai beredar foto-foto lamaran dan/atau pernikahan yang berkeliaran di lini masa media sosial yang saya miliki. Sudah terdapat beberapa rekan saya yang menikah atau merencanakan untuk menikah dalam waktu dekat. Pasangan Hardya-Gita adalah salah satunya. Belum lagi mendengar kabar bahwa beberapa rekan sesama alumni pengurus OSIS Acalambhanamca Sradavantu Bhagavan (OSB) pun sudah berencana menikah.

Saya pernah menuliskan kekhawatiran saya sekitar satu tahun yang lalu. Pada saat itu, pernikahan yang dilangsungkan oleh kakak sepupu saya membuat saya berpikir akan betapa “mengerikan” biaya yang harus dikeluarkan seseorang untuk melangsungkan pernikahan. Namun kini, sepertinya kekhawatiran saya semakin berkembang dan menjadi semakin kompleks. Tidak lagi saya memikirkan perihal biaya semata, namun hal-hal lain yang berhubungan dengan relasi sosial di dalam institusi pernikahan itu sendiri.

It’s not that I’m opposing marriage. I do want to get married, but God knows when.

Saya khawatir bahwa saya akan menjadi manusia yang terlalu egois untuk meluangkan waktu dan pikiran demi keluarga saya, terutama demi istri saya kelak. Masih terdapat benih narsisme yang sangat tinggi di dalam diri saya yang membuat saya selalu ingin menjadi Matahari dalam tata surya sosial saya – dan yang lebih menakutkan adalah saya tidak tahu kapan benih ini akan tumbuh, berkembang, menjalar, dan menghabisi pasangan saya kelak.

Saya tidak ingin menjadi pusat gravitasi yang menarik pasangan saya ke lubang hitam; menjadi seorang suami yang menghabisi karir istrinya, mengubur mimpi-mimpi pasangannya hanya karena Ia merasa tersaingi, hanya karena saya merasa kerdi dihadapannya.

Saya khawatir bahwa kelak saya akan menjadi pemimpin yang berjalan di depan. Bukan di tengah, apa lagi di belakang istri saya. Saya akan begitu asyik memandang jauh ke depan, mencari jalan, berusaha menjadi panutan, tanpa menyadari bahwa di tengah perjalanan tersebut saya tidak lagi menjelajahi dunia ini berdua, berpasangan. Saya akan begitu fokus dengan apa yang berada di depan saya dan kemudian lupa bahwa seharusnya saya sesekali menengok ke belakang: menoleh untuk berbagi pemandangan dan melontarkan segala pemikiran yang menghambat kita sampai ke tujuan.

Saya khawatir apa yang diramalkan oleh kaum Marxis akan menimpa keluarga saya: bahwa keluarga adalah institusi awal yang merepresentasikan penindasan. Ketika melihat sejarah terbentuknya suatu keluarga, proses tumbuh kembang seorang anak akan banyak dipengaruhi oleh tuntunan seorang ayah dan seorang ibu. Tuntunan tersebut, sayangnya, memiliki batasan yang sangat rapuh sehingga sangat mudah untuk bertransformasi menjadi tuntutan.

Apakah saya akan menjadi seorang lelaki yang menuntut? Saya tidak tahu. Namun kekhawatiran tersebut tentu ada. Saya khawatir saya akan menjadi sosok yang selalu memerintah pasangan saya, menuntutnya untuk melakukan apa yang saya mau. Then I’ll easily use the loose terms “for the family’s interests” in order to make my wife do as I pleased.

Saya kemudian berbincang dengan salah satu rekan saya di OSB terdahulu, yakni Ilham Rahmanda Dony dan Widya Saraswati. Awalnya perbincangan saya dengan Ilham menganalisa film yang diperankan oleh James Franco dan Jonah Hill yang berjudul True Story. Namun, seperti biasa, perbincangan kami kemudian menjalar ke berbagai hal, salah satunya adalah pernikahan.

Dalam perbincangan tersebut, kami membicarakan bagaimana beberapa rekan-rekan kami di OSB sudah merencanakan pernikahan mereka masing-masing. Kami membicarakan bagaimana pasangan dari Hanifah Al Huriyah dan Suci Utami Nurwidia masing-masing telah menunjukkan kesiapan mereka baik secara mental maupun material. Kami juga membayangkan seperti apa pernikahan mereka kelak dan proyeksi kami terhadap anggota OSB yang lain – while we are still sitting here, talking about Arsenal winning the Community Shield.

Menakjubkan bagaimana rekan-rekan kami di OSB memiliki kesiapan dan kematangan mental dalam menghadapi pernikahan. Mereka dapat dengan pasti merencanakan pernikahan mereka, memaparkan mimpi-mimpi mereka akan rumah tangga nan ideal, melafazkan dan menggunakan dalil-dalil dari Kitab Suci untuk menunjukkan korelasi antara pernikahan dan rezeki, sembari menunjukkan antusiasme akan apa yang menunggu di depan mereka. Dan saya sangat mengagumi hal tersebut karena saya belum bisa memiliki antusiasme setinggi itu ketika berbicara perihal pernikahan.

Saya kemudian berbincang dengan Oci, sapaan akrab Widya Saraswati. Setelah sekian lama tidak bersua, saya bertanya begitu banyak hal kepadanya. Salah satunya adalah perihal pernikahan. Oci, dengan tipikal jawabannya yang sederhana dan tidak bertele-tele, dapat dengan mantap menunjukkan keinginannya untuk segera berkeluarga. Saat saya tanya perihal kesiapan mental dan keraguan di dalam dirinya, Ia menjawab:

“Insya aallah. Secara ga langsung gue sehari2 udah dilatih sm nyokap. Ngurusin tagihan apa2, megang uang, dll. Kalo bagian bebersih emang yg paling malesin. Tp kalo gue udah punya wilayah sendiri kayanya bakal beda. Soalnya di sini masih terkotak2 sm peraturan orgtua kan. Nikah ga sebatas kawin trus punya anak sih. Bagian dr aktualisasi diri yg lo ga bisa dapetin ketika lo masih diketekin emak bapak.”

Jawaban yang sebenarnya sangat sederhana, sangat ringkas, namun memiliki arti yang sangat menarik untuk saya.

Menurut saya, terlihat sebenarnya masih terdapat kekhawatiran yang sifatnya teknis seperti kekhawatiran akan menanggung pengeluaran pribadi hingga membersihkan tempat tinggal. Kekhawatiran yang lebih fundamental pun sangat terpapar dari balasan yang Oci berikan, yakni bahwa menikah merupakan ajang aktualisasi diri. Namun disisi yang lain, cukup mengaggumkan bahwa seseorang dapat tetap merasa optimis dengan institusi pernikahan meskipun cukup banyak tantangan (atau “ancaman” bagi beberapa orang) yang menghadang.

But, enough of me feeling insecure and amazed at the same time.

Saya ingin menyampaikan rasa kagum saya kepada seluruh pasangan yang berani menyisihkan kehidupan mereka untuk satu sama lain. Saya sampaikan rasa salut saya kepada muda-mudi yang berani mengambil keputusan untuk membagi kasih mereka kepada orang lain, mempercayai beban mimpi dan harapan yang begitu berat ke pundak sosok tercinta, dan juga tidak khawatir untuk terus memimpin di depan, mendorong dari belakang, ataupun berdiri sejajar demi menggapai cahaya diujung jalan.

Terima kasih untuk semua pasangan suami-istri yang tidak memberikan ruang pada keraguan.

*Catatan: Judul dari artikel ini terinspirasi dari nama Blog seorang rekan saya yang bernama Ario Wirawan Haryono. Blog tersebut dapat dilihat ditautan berikut [https://mannerdisorder.wordpress.com/]

Advertisements

2 thoughts on “hi.dup*

  1. Supposedly, a good partner would be willing to do and provide what’s best for the other person, without being asked to and it applies to both the husband and the wife. At least, that’s the idea of it.

    But then again, apa lah saya ini hanya remah remah rempeyek yang masih suka kesel kalo pacarnya mulai rewel karena saya terlalu fokus spazzing kpop di youtube sampe lupa bales pesan di whatsapp.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s