Path, Selebriti-Mikro, dan “Perubahan”

Baru (atau “Sudah”) sebelas bulan saya menggunakan Path sebagai salah satu media sosial saya. Sudah sebanyak 577 momen yang saya abadikan dalam platform ini. Artinya, dengan asumsi sederhana bahwa satu bulan terdiri dari tiga puluh hari, maka di setiap harinya rata-rata saya mengunggah 1,748 momen. Mari sederhanakan bilangan tersebut dengan melakukan pembulatan ke atas sehingga rata-rata status update saya setiap harinya adalah dua momen.

Momen yang saya unggah pun berbeda-beda. Path menyediakan berbagai macam fitur yang dapat anda unggah mulai dari musik, buku, serial televisi, atau film yang sedang anda nikmati, testimoni berupa kalimat, gambar, lokasi, hingga (fitur yang menurut saya paling sepele) yakni fitur Go To Sleep/I’m Awake. Namun jika anda memiliki teman baru, maka proses penerimaannya pun akan dihitung sebagai suatu momen oleh Path. Walaupun tidak semua fitur saya gunakan, namun sepertinya mayoritas telah mewarnai lini masa profil saya.

Di setiap momen yang anda unggah di Path, akan terdapat fitur yang memudahkan anda untuk meninggalkan komentar (Comment) dan/atau emotikon seperti Smile, Laugh, Gasp, Frown, dan Love. Disinilah letak permasalahannya.

social-media-mf1

Saya selalu, secara konsisten merupakan latecomer user dalam menggunakan media sosial. Artinya, saya selalu terlambat dalam mengikuti tren penggunaan platform media sosial yang sedang ramai digunakan oleh masyarakat. Ketika mayoritas masyarakat telah menggunakan Facebook, saya masih sibuk mengunggah testimony dilaman Friendster saya. Ketika saya sedang mendalami Facebook, nyaris semua rekan saya merupakan tweeter aktif. Dan ketika saya sedang senang-senangnya berkutat dengan Twitter, maka lagi-lagi hampir semua orang telah memiliki akun Instagram dan Path. Kini, ketika saya memiliki Path, rasanya rekan-rekan saya sedang asyik bermain Vine.

Alasan ketertinggalan saya selalu sama: tidak up-to-date dan cenderung “terlambat” menemukan fungsi dari platform media sosial yang baru. Alasan kedua terutama menimpa saya ketika saat transisi menggunakan Path. Menurut saya, fitur-fitur di Path – terutama fitur Go To Sleep/I’m Awake dan emotikon  memberi suplai bagi peningkatan ego manusia. Sama halnya seperti fitur Retweet di Twitter atau tombol Like di Facebook.

Namun apa daya karena pada akhirnya saya harus menelan ludah saya sendiri. Saya melihat bahwa interaksi peer group saya di Twitter tidak lagi aktif dan dinamis. Twitter kemudian menjadi information-based social media daripada interaction-based. Twitter lebih berguna untuk melihat berita yang sedang hangat ataupun tren di tengah masyarakat. Hampir seluruh rekan dekat saya telah beralih menggunakan Path atau Instagram. Menyadari bahwa saya bukanlah seseorang dengan indera seni yang kuat, saya pun merasa tidak pantas menggunakan Instagram. Alhasil, saya pun membuat akun Path dengan harapan mampu berkomunikasi dengan teman-teman saya.

Dan kini, sebelas bulan setelah saya memiliki akun Path, rasanya kekhawatiran saya di awal mulai terasa. Tidak dapat saya pungkiri bahwa ketika momen yang saya unggah mendapatkan banyak respon dari teman-teman, baik respon berupa komentar maupun emotikon, saya merasa bahwa item yang saya unggah dapat diterima dengan baik. Artinya, terdapat sesuatu yang dapat mengikat puluhan manusia – dan hal tersebut sangat adiktif!

Timbul, kemudian, perasaan untuk mengulang sensasi yang sama. Muncul semacam urgensi dari diri saya untuk mengunggah momen yang kiranya dapat memperoleh banyak respon dari teman-teman saya di Path. Kebutuhan akan popularitas kemudian merangkak naik di dalam diri saya dan “mewajibkan” saya untuk terus mengasah dan memilah materi yang kiranya dapat menjadi hits.

I'M SORRY, FREDDY!!
I’M SORRY, FREDDY!!

Tidak lama kemudian, salah seorang rekan saya di Path mengunggah status berikut:

“We live in the culture of the Big Me. The meritocracy wants you to promote yourself. Social media wants you to broadcast a highlight reel of your life. Your parents and teachers were always telling you how wonderful you were.”

Agak ironis memang memandang diri saya sendiri saat ini. Pertama, ide perlawanan yang saya agungkan ternyata dapat dengan mudah dipatahkan dan membuat saya menjadi pengguna Path. Kedua, lebih parahnya lagi, tidak hanya saat ini saya merupakan pengguna aktif Path, namun saya juga tenggelam ke dalam celebrity complex; suatu kondisi yang membuat seseorang merasa menjadi pusat perhatian dan merasa memiliki pengikut akan tren yang Ia terapkan. Kondisi ini menempatkan manusia pada kutub biner yang sangat terpisah: antara anda seorang selebriti atau bukan sama sekali.

Graeme Turner menuliskan:

“Celebrity is a genre of representation and a discursive effect; it is a commodity traded by the promotions, publicity and media industries that produce these representations and their effects, and it is a cultural formation that has a social function we can better understand.”

Dapat anda lihat dalam definisi tersebut bahwa selebriti adalah: (1) seseorang yang dijadikan panutan dan bahan perbincangan; (2) sebuah proses yang merubah seseorang menjadi suatu komoditas; dan (3) suatu aspek kebudayaan yang selalu berubah definisinya. Poin kedua lah yang membuat saya begitu khawatir akan menimpa diri saya sendiri.

Pertama sangat penting untuk mengetahui definisi komoditas melalui perspektif saya. Secara harfiah, komoditas adalah barang dan/atau jasa yang dapat diperjualbelikan. Dengan demikian, menurut saya, arti penting dari menjadi suatu “komoditas” adalah bahwa setiap manusia pada akhirnya akan ditentukan melalui nilai tukarnya. Saya, anda, dan individu lainnya akan dinilai berdasarkan apa yang anda miliki. Maka, dalam konteks media sosial, apa yang anda miliki harus terlebih dahulu diketahui oleh orang lain agar kemudian anda memiliki “nilai jual” yang lebih dibandingkan orang lain.

Kemudian, bagaimana caranya untuk meningkatkan “nilai jual” anda? Mudah saja: maksimalkan segala fitur yang ditawarkan oleh platform media sosial anda, balut diri anda dengan citra yang popular, untuk kemudian menambah jumlah follower di media sosial anda. Disinilah kemudian definisi dari kata “Selebriti” berkembang.

Theresa Senft mendefinisikan fenomena baru tersebut sebagai Selebriti-Mikro (Micro-Celebrity). Menurutnya mikro-selebriti adalah teknik yang:

“involves people ‘‘amping up’’ their popularity over the Web using techniques like video, blogs, and social networking sites.”

Artinya, anda tidak perlu lagi berjalan di atas catwalk ataupun membintangi suatu film untuk dapat dilabeli sebagai selebriti. Cukup maksimalkan akun Twitter, Facebook, Path, Instagram, ataupun Path anda untuk “menjual” diri anda.

Terdapat bebrapa hal penting yang dibutuhkan untuk menjadi selebriti-mikri. Menurut Marwick dan Boyd, seorang selebriti-mikro harus memiliki:

“Micro-celebrity involves viewing friends or followers as a fan base; acknowledging popularity as a goal; managing the fan base using a variety of affiliative techniques; and constructing an image of self that can be easily consumed by others. As we will see, these resemble techniques that extremely famous people use to manage audiences on Twitter, rather than relying on formal access brokers like managers and agents to maintain the distance between themselves and fans.”

Nah, poin pertama dari Marwick dan Boyd lah yang menurut saya sangat problematis. Dengan mengakui (atau banyak pula yang sebenarnya tidak mengakui) bahwa tujuan seseorang mengunggah video, blog, atau status adalah untuk meningkatkan popularitas, maka sesungguhnya masyarakat luas akan semakin mudah untuk dimanipulasi. Karena dengan bantuan poin kedua dan ketiga, yakni menggunakan berbagai teknik serta mengonstruksi citra, artinya ketulusan seseorang dapat dipertanyakan. Misalnya saja begini, banyak sekali saya melihat (calon) politisi-politisi (muda) di Indonesia yang menggunakan media sosial sebagai arena menyebarkan pengaruh dan menambah pengikut mereka. Para politisi tersebut mengunggah foto, video, testimony, dan item lainnya yang menunjukkan sisi positif dari aktivitas mereka. Politisi A mengunggah foto di Facebook setelah membantu seorang petani bercocok tanam. Politisi B mengunggah video di Path mengucapkan salam perdamaian untuk merespon konflik horizontal di Tolikara, Papua. Media sosial kemudian menjadi arena yang tidak habisnya mempertontonkan kompetisi antar satu politisi dengan politisi lainnya.

emma-watson-bling-ring-stressing-me-out

Pertanyaan yang timbul kemudian: mereka melakukan hal tersebut untuk siapa?

Dengan caption yang begitu “saint-like” disetiap post mereka, para politisi tersebut memberi citra seakan mereka bekerja untuk mewujudkan kondisi masyarakat yang lebih baik. Padahal jika anda lihat lebih teliti lagi, menjadi selebriti-mikro sebenarnya hanya merupakan langkah awal mereka untuk membangun citra individual.

Ide akan sebuah ketulusan kemudian menjadi sangat fana ketika media sosial seseorang dipenuhi dengan user yang mengalami celebrity complex seperti para politisi tersebut. Para pengguna sosial yang pada awalnya menggunakan akun YouTube atau Instagram mereka semata-mata untuk melakukan hal-hal jenaka atau menyalurkan hasrat mereka akan sesuatu, kemudian dipertanyakan integritasnya. Artinya, terdapat suatu efek domino yang menurut saya sangat negatif dengan membiarkan para politisi menjadi seorang selebriti-mikro.

Hal lain yang sangat saya perhatikan dari perilaku para politisi – terutama para politisi muda – di media sosial tersebut adalah ide perihal perubahan. Cukup banyak cikal bakal politisi muda Indonesia yang menggunakan media sosial mereka dengan menjadikan “perubahan” sebagai komoditas utama. Mereka mengkritisi pemerintah, atau menawarkan alternatif, atau menciptakan suatu penelitian ilmiah, atau bahkan sudah mengumbar janji dari kini bahwa generasi “mereka” (saya tidak tahu siapa yang dimaksud dengan kata “mereka” disini) akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Pertanyaannnya: bagaimana anda akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik jika perilaku anda di media sosial saja masih mencerminkan perilaku politisi Indonesia terdahulu?

Anda masih memikirkan citra ketika anda ingin mengunggah sesuatu di akun media sosial anda. Anda berpikir habis-habisan perihal bagaimana caranya agar post anda terlihat menarik, popular, dan menarik banyak dukungan dari rekan anda. Anda mencari cara, sedemikian rupa untuk membentuk pola pikir peer group anda agar paradigma mereka berjalan sesuai dengan kepentingan anda. Strategi yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para politisi masa kini.

Erving Goffman menggunakan analogi Front Stage dan Back Stage dalam menjelaskan fenomena ini. Ketika seorang aktor berada di atas panggung dan di depan audiens, maka Ia akan memiliki urgensi – baik disengaja maupun tidak – untuk meningkatkan presentasi diri (self-presentation). Hal berbeda akan terjadi ketika aktor tersebut tidak lagi berada di atas panggung dan kembali ke back stage. Ia akan kemudian merasa bahwa self-presentation tidak lagi penting. Apa yang kemudian dapat terjadi jika analogi ini dialami oleh para politisi? Panggung mereka adalah kehidupan sehari-hari. Apa artinya? Dengan asumsi bahwa dalam 24 jam, seorang pria dewasa akan menghabiskan minimal setengah harinya berinteraksi dengan orang lain, maka seorang politisi – baik yang muda maupun yang sudah senior – akan menghabiskan 12 jam setiap harinya menjadi aktor dan tidak menjadi dirinya sendiri. Maka, perubahan macam apa yang anda harapkan ketika anda terlalu sibuk berpura-pura?

Careful, people. You're probably looking at the devil.
Careful, people. You’re probably looking at the devil.

Sudah barang tentu saya sendiri sangat rentan untuk dilabeli sebagai selebriti-mikro. Kenyataan bahwa saya memiliki akun Path, Facebook, Twitter, serta WordPress tidak mampu menyelamatkan saya dari label tersebut. Tidak pula saya dapat melarikan diri dari label selebriti-mikro karena pada kenyataannya saya merupakan seorang individu yang masih membutuhkan pengakuan (acknowledgement) dan penilaian (judgement) dari orang lain atas apa yang saya tulis dan unggah diberbagai platform media sosial saya. Namun sepertinya satu hal yang bisa saya pastikan adalah saya belum mau menjadi seorang selebriti, baik mikro maupun non-mikro, walaupun saya difasilitasi dengan berbagai arena media sosial.

Dengan demikian, satu hal yang perlu anda ketahui, saya belum dilumuri dengan pencitraan yang begitu kronis. Saya masih akan terus mengunggah Meme dari Halal Jokes, mengunggah sesuatu yang berhubungan dengan K-pop, serta menulis apa yang saya ingin curahkan. Bukan apa yang anda ingin dengarkan.

Advertisements

4 thoughts on “Path, Selebriti-Mikro, dan “Perubahan”

  1. Gue juga mikirin hal yang sama beberapa waktu lalu sampe2 gue ngelakuin socmed sabbath selama dua minggu dengan ngeuninstall semua aplikasi socmed di hape, terus pas gue mulai login kok gue ngerasa muak dengan apa2 yang ada disana ya, hahahaha. Terutama Path, njirrr gue jadi ngerasa itu aplikasi ‘porno’ banget (padahal lo tahu sebelumnya gue alay banget di Path, hahaha). Jadi gue mulai meniatkan untuk mengurangi intensitas penggunaan di semua platform socmed, terus sebagai komitmen awal gue mutusin buat ngehapus blog gue juga. Terus beberapa hari yang lalu ada akun stranger di FB ngemessage gue, nanya ‘Kok blognya dihapus sih? sediiih’. Gue pikir kan : ini siapa sih, blog2 gue, suka2 gue mau gue apa2in juga. Terus dia cerita biarpun gue gak kenal sama dia tapi dia satu SMP ma gue terus dia juga bilang “aku sama temen2ku suka baca tulisan kamu looh, suka kita bahas juga. Soalnya kita kan gak kayak kamu punya kesempatan buat mengenyam pendidikan tinggi ampe keluar negeri juga…jadi baca tulisan kamu itu kita ngerasa ‘ikut'”. Terus gue ngerasa terharu gitu Do, gue kan seringnya di blog nulis menye2 kegalauan sama kedodolan2 gue yang gak penting itu.Tapi ternyata ya mereka bisa juga ngerasa terinspirasi atau terhibur, karena ngerasa yang nulis adalah orang yang mereka kenal. Gue percaya perubahan itu datangnya dari ketulusan, dan ketulusan itu ya bisa didapet kalau kita jujur sama diri sendiri, gak berpura-pura seperti yang lo bilang. *aduh maaf panjang, gue juga gak tahu ini gue ngomong apa*.

    Like

  2. Menarik!
    Kalo di social media marketing theory, si celebrity micro ini dikenal dengan konsep: megaphone effect. Fenomena di mana ordinary people dimungkinkan untuk grab mass audience yang mana dahulu hanya bisa dilakukan oleh pihak yg punya power dan mass media (TV, koran, majalah, radio, etc).

    Jadi inget disertasi 😦 *nangis*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s