Kado dan Cerita

Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya bertanya kiranya kado apa yang dapat Ia berikan untuk rekannya. Teman saya – yang adalah seorang perempuan ini, mengakui bahwa Ia tidak memiliki ide perihal benda apa, yang cukup memiliki esensi, untuk diberikan kepada rekannya yang notabene seorang laki-laki. Teman saya ini kemudian mendeskripsikan hobi teman lelakinya: seorang laki-laki yang merupakan pendukung sejati tim sepakbola Tottenham Hotspur dan seorang fanatik Star Wars.

Mendengar deskripsi tersebut, saya kemudian memberikan ide perihal benda apa yang dapat diberikan, mulai dari syal tim sepakbola kesayangan, jam weker berbentuk Darth Vader, hingga ide-ide nyeleneh lainnya yang tidak akan saya ungkapkan melalui tulisan ini.

Selang beberapa hari, tepatnya esok, tanggal 17 Agustus 2015, ada pula sosok yang sangat dekat dengan saya yang akan berulang tahun. Mungkin akan lebih tepat jika saya mendefinisikan kedekatan ini secara jamak dengan menggunakan kata ‘kita’ alih-alih ‘saya’: sosok yang sangat dekat dengan kita akan berulang tahun esok hari dan namanya adalah Indonesia.

Usianya tidak lagi muda jika analogi yang digunakan adalah seorang manusia; Indonesia akan berusia 70 tahun esok hari. Bahkan Nabi Muhammad SAW saja wafat diusia 63 tahun. Namun jika kita menempatkan Indonesia sebagai suatu Negara-Bangsa, maka Indonesia termasuk salah satu Negara yang paling belia. Tiongkok berusia 2.236 tahun pada 2015, Brazil 193 tahun, Austria 1.039 tahun, Amerika Serikat 239 tahun, Inggris 308 tahun, dan Jepang berusia 2.675 tahun.[1] Jadi, kemungkinan, masih cukup panjang cerita yang mampu ditulis oleh Indonesia. Namun, skenario tersebut hanya dapat terjadi jika (dan hanya jika) kita mampu menunjukkan afeksi terhadap teman kita yang satu ini.

Sayangnya, mendefinisikan Indonesia tidak semudah mencarikan kado bagi seorang penggemar Tottenham Hotspur ataupun Star Wars. Secarik tulisan pun juga tidak dapat membantu meredakan keresahan yang saya rasakan jika ditanya, “Apa arti Indonesia untuk anda?

Semua orang memiliki definisinya masing-masing. Jika menurut World Bank terdapat 252.812.245 total populasi Indonesia, maka saya cukup yakin bahwa terdapat 252.812.245 cara untuk mendeskripsikan Indonesia pada waktu yang sama.[2] Kedua angka yang identik, berjalan secara simultan, dan, sering kali, bergesekan antara satu dengan yang lainnya.

Sudah tentu anda dapat mendefinisikan Indonesia melalui sudut pandang kebangsaan. Artinya, anda mendefinisikan Indonesia sebagai suatu kumpulan individu yang dipersatukan oleh persamaan latar belakang sejarah, kultur, dan geografi. Anda mendefinisikan Indonesia sebagai suatu perkumpulan yang dilandasi oleh altruisme – suatu kondisi dimana anda menempatkan Indonesia di atas kepentingan pribadi dan merelakan hak individu anda demi tujuan bersama.

Tidak salah pula jika anda menyebut Indonesia sebagai suatu Negara; sebagai suatu identitas politik yang terkonstruksi secara politis, disusun secara vertikal dan organisasional, memiliki pemerintahan yang sah, masyarakat yang teridentifikasi, serta batas-batas geografis yang ajeg dan memisahkan diri dengan Negara lainnya. Anda mengakui bahwa Indonesia dibangun di atas suatu sistem yang bekerja melalui mekanisme struktural-fungsional: Memiliki seorang Presiden, ada pula Lembaga Legislatif dan Yudikatif, diintervensi oleh pasar, serta terdapat gambaran buram yang ternyata adalah rakyat jelata.

Apapun definisi anda, saya tidak dapat mengategorikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Namun izinkan saya untuk mengenal Indonesia lebih dekat melalui tulisan ini, sehingga saya dapat menemukan apa arti Indonesia bagi diri saya secara pribadi.

Kata orang, individu yang sukses adalah mereka yang memiliki prinsip. Individu yang berpegang teguh pada apa yang Ia percayai, tidak mudah tergoda, dan konsisten dalam menjalani prinsipnya adalah ciri-ciri “orang sukses”. Seandainya saja Indonesia adalah seorang manusia, maka setidaknya Ia memiliki dua buah prinsip: Undang-Undang Dasar 1945 (UUD) dan Pancasila. Jika mengutip Athiqah Nur Alami, UUD merupakan Landasan Konstitusional, sementara Pancasila adalah Landasan Idiil Republik Indonesia yang tercinta ini.[3]

Semasa saya duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) dahulu, setiap hari Senin kami akan selalu menyelenggarakan Upacara Bendera. Kata Bapak dan Ibu Guru, upacara ini bertujuan untuk mengingatkan kita pada “jasa para pahlawan yang telah tiada”. Bertahan di bawah terik matahari, saya dan teman-teman – jujur saja – tidak pernah khusyuk dalam mengikuti upacara ini. Namun, ada ada setidaknya dua hal yang saya ingat dari setiap Upacara Bendera yang saya lalui, yakni pembacaan Preambule UUD dan Pancasila.

Preambule UUD berbunyi seperti ini[4]:

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Wow.

Teks yang cukup panjang untuk dibaca oleh seorang bocah SD, cukup memakan waktu, dan, ironisnya, belum tentu pula dipahami oleh anak berusia tujuh tahun hingga dua belas tahun pada saat itu.

Hal lainnya adalah Pancasila yang teksnya kurang lebih berisi seperti ini:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa;
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab;
  3. Persatuan Indonesia;
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan;
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lagi-lagi: wow.

Jika saja dua landasan ini saya jadikan patokan untuk mendefinisikan Indonesia, maka sepertinya saya adalah seorang warga dari Negara yang paling sempurna di dunia ini. Bagaimana tidak, jika anda mencermati isi dari UUD dan Pancasila, serta memaknai lebih dalam arti dari kata-kata yang merangkai kedua landasan tersebut, makasudah tentu mata anda akan berkaca-kaca. Walaupun – saya tidak akan berbohong – tadi saya harus Googling terlebih dahulu hanya untuk menuliskan Pancasila, namun setelah saya lihat kembali kata-katanya, saya merasa harus bersyukur dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia.

Melalui alinea pertama UUD, Anda bisa melihat bagaimana heroiknya Indonesia dalam melawan penjajahan. Bagaimana Indonesia mencoba melepaskan dirinya dari perbudakan yang dilakukan oleh para penjajah. Kemudian anda dapat melihat sisi relijius Indonesia dialinea kedua yang dipadupadankan dengan sifat sosial. Anda dapat menemukan makna disetiap kata jika saja anda cukup mencermatinya.

Belum lagi jika saya melihat ke belakang, ke sejarah Indonesia, isi dari Sumpah Pemuda yang dikumandangkan pada tahun 1928 silam[5]:

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Melalui Sumpah Pemuda ini, saya bisa memvisualisasikan semangat perjuangan kaum muda Indonesia terdahulu demi seteguk kebebasan dan segenggam identitas. Dan sayangnya, semangat itu menjadi suatu komoditas yang dapat dibarter saat ini. Semangat yang murni juga menjadi suatu aset yang sangat langka untuk ditemukan di Indonesia kita hari ini.

Namun itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa tetap mencintai Negara ini. Lagi-lagi, jika Indonesia dianalogikan sebagai seorang individu – let’s say, seorang sahabat – maka tidak ada individu yang sempurna. Semua individu bobrok, korup dalam tingkat tertentu. Anda boleh bilang bahwa Pemerintah Indonesia dapat dibeli dengan uang setelah melihat kasus konvoy kendaraan bermotor yang melanggar aturan lalu lintas. Saya pun sah untuk mengatakan bahwa menurut Transparency International, pada tahun 2014 Indonesia mendapatkan nilai 34 dari total 100 poin dan berada diurutan 107 dari 175 negara paling korup di dunia ini.[6] Indonesia juga belum berhasil meredam konflik horizontal antar agama, ras, dan kepercayaan yang sering kali kita jumpai diberbagai media massa. Dan masih banyak lagi Pekerjaan Rumah bagi negara kita ini.

Tentu tidak adil rasanya apabila anda hanya melihat keburukan rekan anda. Melalui mekanisme yang kompleks, dua orang sahabat tentu memiliki ruang toleransi bagi satu sama lain. Sehingga ketika anda merasa pesimis dalam merajut hubungan dengan sahabat kita yang satu ini, saya bisa bilang gunakan ruang toleransi anda. Lihat Indonesia melalui perspektif lain dan berhenti menelan bulat-bulat berita negatif tentang sahabat kita yang satu ini.

Secara fisik, artinya jika anda menilai Indonesia dari fitur-fitur yang kasat mata, anda tentu tahu bahwa Indonesia adalah negara yang sangat besar secara harfiah. Dari ujung barat ke ujung timur, Indonesia memiliki panjang 5.150 kilometer dan dengan total luas sekitar 1.922.570 km².[7] Secara geografis, negara kita adalah negara terbesar se-Asia Tenggara, kedua terbesar se-Asia setelah Tiongkok, dan ketujuh terbesar diseluruh dunia.

Belum lagi warga negara Indonesia, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, yang telah menembus angka 250 juta orang; angka yang membuat Indonesia menjadi negara dengan penduduk terbanyak keempat se-dunia di belakang Tiongkok, India, dan Amerika Serikat secara berurutan.[8]

Cukup sudah fakta-fakta kasat mata yang akan saya berikan. Artikel ini tidak bertujuan untuk memaparkan fakta tentang Indonesia. Fakta yang sebenarnya dapat anda temukan jika saya anda tidak menenggelamkan diri dalam artikel-artikel konyol yang menyepelekan sahabat kita ini.

Saya cuma ingin bilang, setelah anda membaca beberapa paragraf di atas, anda seharusnya bisa mulai menyadari bahwa mencintai adalah masalah perspektif. Mencintai adalah preferensi perihal siapa yang akan bertahan dan menang antara mahluk bernama ‘Optimisme’ dan ‘Pesimisme’. Saya seringkali bertanya pada diri saya: “An*ing, haruskah gue bangga jadi orang Indonesia? Gue harus ngapain nih?

Dan, berbicara tentang raksasa Optimisme dan Pesimisme, maka jawaban yang paling tepat perihal siapa yang akan menang adalah: “Dia yang anda pelihara.”

Di tahun 2012 silam, saya pernah men-tweet ini:

Screenshot_2015-08-16-19-02-10

And you see, benar saja, ketika saya bilang bahwa mencinta adalah masalah preferensi, saya teringat selebrasi tim bulutangkis Ganda Putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang beberapa jam yang lalu menjadi juara Ganda Putra Kejuaraan Bulutangkis Dunia BWF. Saya pun merinding membayangkan lautan manusia, bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di Gelora Bung Karno saat final Piala AFF 2010 silam yang mempertemukan Indonesia dengan Malaysia. Masih pula lekat diingatan saya akan memori letusan Gunung Merapi yang meluluhlantakan Yogyakarta pada 2010 yang lalu, dan bagaimana masyarakat bersatu untuk meringkankan beban satu sama lain.

Dan melihat dari hal tersebut, berarti mungkin saja mencari kado untuk ulang tahun Indonesia yang ke-70 tidak sesulit yang saya, anda, dan kita bayangkan. Ketika netizen mulai menjadi “The Clicking Monkeys” dan menyebarkan berita-berita aneh dan keraguan mulai membayangi diri kita, maka dengan memutar paradigma dan, instead of anda menjadi pesimis, anda memilih untuk terus positif kepada Indonesia, maka sebenarnya anda telah memberikan kado yang cukup baik untuk sahabat kita ini.

Saya lupa untuk bilang di awal tulisan, bahwa setiap kali teman saya sedang melakukan perjalanan ke luar daerah, ke luar negeri, atau kemanapun, dan Ia menawarkan saya cindera mata, sepertinya jawaban saya selalu sama yakni “Lo pulang bawa cerita aja, itu udah oleh-oleh buat gue.” Maka, mungkin, untuk Indonesia, maafkan saya karena saya belum bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk anda. Dari sini, saya hanya dapat memberikan sedikit cerita tentang hubungan kita – hubungan saya dengan anda, Indonesia; tentang bagaimana di hari ulang tahunmu ini, saya memilih untuk menuliskan tentang bagaimana saya memilih untuk mencintai kamu di tengah pusaran laut nan bergejolak.

Selamat ulang tahun, Indonesia.

[1] ‘Countries by Age’, dalam Target Map (daring), diperbarui pada dua tahun silam sehingga usia tiap negara ditambahkan secara manual oleh penulis, diakses pada 16 Agustus 2015, http://www.targetmap.com/viewer.aspx?reportId=26659

[2] ‘Total population (in number of people)’, dalam World Bank (daring), diakses pada 16 Agustus 2015, http://data.worldbank.org/indicator/SP.POP.TOTL

[3] Athiqah Nur Alami, ‘Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Indonesia’, dalam Ganewati Wuryandari (ed.) Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik Domestik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008, hlm. 27-28.

[4] ‘Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945’, dalam Mahkamah Konstitusi (daring), diakses pada 16 Agustus 2015, http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/public/content/profil/kedudukan/UUD_1945_Perubahan%204.pdf

[5] Soerawisastra, ‘Inilah Teks Asli Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928’, dalam inilahcom (daring), 28 Oktober 2014, diakses pada 16 Agustus 2015, http://nasional.inilah.com/read/detail/2148837/inilah-teks-asli-sumpah-pemuda-28-oktober-1928

[6] ‘Corruption Perceptions Index 2014: Results’, dalam Transparency International (daring), diakses pada 16 Agustus 2015, http://www.transparency.org/cpi2014/results

[7] ‘Indonesia Facts’, dalam National Geographic (daring), diakses pada 16 Agustus 2015, http://travel.nationalgeographic.com/travel/countries/indonesia-facts/

[8] ‘The World Population And the Top Ten Countries With The Highest Population’, dalam Internet World Stats (daring), 10 Juni 2015, diakses pada 16 Agustus 2015, http://www.internetworldstats.com/stats8.htm

Advertisements

2 thoughts on “Kado dan Cerita

    1. Halo mas/mba. Salam kenal. Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca blog saya.

      Hmmm… Sebenarnya saya agak bingung dengan apa yang mas/mba maksud dengan “media sosial indonesia ini”. Apakah yang mas/mba maksud adalah media sosial yang ditemukan, dikembangkan, dan dimiliki oleh warga negara Indonesia? Atau ada maksud lain? Jika maksud mas/mba adalah media sosial yang ditemukan, dikembangkan, dan dimiliki oleh WNI maka saya tidak begitu yakin bagaimana untuk menjawabnya. Pasalnya, saya sendiri tidak tahu apakah ada WNI yang telah berhasil menemukan suatu platform sosmed yang digunakan oleh masyarakat umum.

      Namun, jikalau memang ada, maka sesungguhnya saya kurang tahu bagaimana strategi yang cocok untuk “bersaing mengalahkan media sosial yang sudah terkenal”. Namun satu hal yang pasti, pengguna media sosial kebanyakan adalah kaum muda. Dengan demikian, media sosial baru sudah sebaiknya mengikuti selera kaum muda.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s