Titik-Koma

Bayangkan diri anda berada di dalam suatu ruangan yang dinding dan lantainya berwarna putih; bersih, tanpa sedikitpun noda tertinggal. Hanya terdapat sebuah pintu yang dapat membawa anda masuk ataupun keluar dari ruangan tersebut – dan tidak ada lagi ornamen lain yang menghiasi lantai maupun dinding. Sebuah ruangan dengan atmosfer yang sangat personal, intim, dan disampul dalam kesederhanaan.

Anda duduk di tengah ruangan tersebut, menghadap ke sebuah kamera yang ditopang oleh tripod, serta beberapa lighting yang sengaja diatur sedemikian rupa untuk memaksimalkan segala reaksi anda yang akan ditangkap oleh kamera. Kemudian terdapat alat pengatur waktu digital tertempel di dinding, tepat di belakang kamera dan menghadap kepada anda, yang menunjukkan angka ’00:05:00’.

(Photo credit: http://www.factoryfivestudio.com/wp-content/uploads/2013/08/Studio_019.jpg)
(Photo credit: http://www.factoryfivestudio.com/wp-content/uploads/2013/08/Studio_019.jpg)

Pertanyaannya: Jika anda memiliki waktu tidak lebih dari lima menit untuk mengungkapkan sesuatu – terlepas dari apapun ‘sesuatu’ itu – yang tidak pernah dapat anda ungkapkan sebelumnya, direkam dihadapan sebuah kamera, dan tanpa ada individu lain di ruangan tersebut selain diri anda, maka apa yang ingin anda utarakan?

Skenarionya tidak lantas berhenti di pertanyaan tersebut. Kekhawatiran yang anda utarakan di dalam ruangan tersebut akan diterbitkan ke dalam sebuah produk audiovisual dan akan didistribusikan melalui berbagai platform media sosial. Cerita anda akan kemudian disampaikan ke khalayak ramai, dijadikan bahan pergunjingan, dijadikan konsumsi publik, dijadikan sumber inspirasi, dicaci, dimaki, dan lain-lain.

Ya, cerita anda nantinya akan menjadi suatu komoditas yang tidak lagi dapat anda kendalikan persebarannya – and that’s one way to see it. Nevertheless, on the flipside of the coin, for once, you finally have the guts to express yourself.

Setidaknya satu kali dalam hidup anda, anda berhasil menceritakan sesuatu yang tidak pernah anda ceritakan sebelumnya kepada siapapun; kepada pasangan anda, kepada orang tua anda, guru, asisten rumah tangga, apa lagi seorang asing yang anda temui saat menunggu bis di halte.

Setidaknya satu kali dalam hidup anda, anda menekankan pada banyak pihak tentang bagaimana anda memandang kehidupan. Anda diberikan kesempatan untuk berteriak, mengeluarkan segala gumpalan hasrat yang tertahan di rongga leher anda, dan berkata bahwa tidak ada yang benar atau yang salah.

Setidaknya satu kali dalam hidup anda, anda menjadi pusat dari alam semesta itu sendiri.

Disini, saya tidak berbicara soal seorang mahasiswa yang menerima beasiswa untuk melanjutkan studi di luar negeri. Tidak pula saya berbicara perihal seorang anak muda yang memiliki penghasilan ratusan juta rupiah akibat startup-nya yang sukses besar. Saya tidak ingin ruangan tersebut dihuni oleh Sang Juara I dari sebuah kelas di suatu Sekolah Dasar.

Saya ingin kamera yang berada di ruangan itu merekam ekspresi keceriaan seorang anak yang hanya mendapatkan Ranking ke-27 dari total 40 siswa di kelasnya. Saya ingin lighting yang dipasang di dalam ruangan itu menerangi mata anak tersebut saat Ia, dengan gairahnya yang berbinar, berbicara tentang tempat pensil kesayangannya. Ketika saya menuliskan kata ‘Anda’ dalam artikel ini, saya membayangkan seseorang yang tidak pernah memiliki fasilitas untuk menyuarakan kegemarannya di depan umum. Saya menuliskan artikel ini untuk anda, individu yang selama ini luput dari pengelihatan media mainstream.

Ketika anda menyukai program World Wrestling Entertainment (WWE), maka ungkapkanlah! Banyak individu yang menganggap bahwa WWE tidak pantas untuk dicintai karena apa yang mereka lakukan, aksi yang mereka pertontonkan di layar kaca, gerakan DDT atau Choke Slam yang mereka peragakan hanyalah acting semata. Namun tidak bagi anda. Anda mempercayai bahwa mencintai WWE sama halnya dengan mengagumi sebuah film Star Wars karya George Lucas: keduanya sama-sama membutuhkan pemeran yang sangat keras berlatih demi mendalami peran mereka masing-masing, jalan cerita yang tidak membosankan, passion, serta bertujuan untuk menghibur orang banyak. Ketika anda mempercayai itu, maka beritakan kepada dunia perihal justifikasi logis yang anda miliki.

Ketika anda, seorang pria, gemar bersolek agar terlihat modis dan tampan, namun perilaku anda tersebut acap kali disalahartikan oleh kebanyakan orang, maka ungkapkanlah kekesalan anda! Katakan kepada mereka bahwa terdapat perbedaan yang fundamental antara pria metroseksual dengan konsep homoseksual. Tekankan kepada mereka bahwa mengidentikkan pria metroseksual dengan homoseksualitas adalah suatu kelemahan berpikir. Menjadi metroseksual adalah preferensi gaya hidup pria yang hidup di wilayah perkotaan, dalam lingkungan post-industrialist, serta kultur kapitalistik. Sementara homoseksual adalah preferensi orientasi seksual untuk mencintai sesama jenis. Jelaskan hal tersebut kepada semua orang, melalui kamera dan ruangan yang sangat intim tersebut. Katakan dengan lantang,”It’s completely fine if a man wants to look nice.

tumblr_n0oq60WszM1ro95bto3_r1_500
Thank you Mr. Fassbender for visualizing my idea. (Photo credit: http://31.media.tumblr.com/8534f5f65a9f2afb0e601ba35761d3cc/tumblr_n0oq60WszM1ro95bto3_r1_500.gif)

Skenario ini dimulai ketika saya menonton sebuah film berjudul True Story. Film karya Rupert Goold tersebut memang hanya mendapatkan nilai 6,3 dari 10 di laman IMDB, namun setidaknya ada satu kutipan yang saya maknai dengan mendalam:

Everybody deserves to have their story heard.”

Saya kemudian mulai berpikir akan betapa beruntungnya saya karena diberikan kemampuan untuk mengungkapkan segala isi hati secara lisan maupun tulisan. Saya diberikan keberanian untuk tidak takut mengartikulasikan hal-hal yang menurut saya pantas untuk diungkapkan. Saya berlatih, dengan keras, untuk menulis dan mengekspresikan kekhawatiran, kegundahan, kesenangan, kebahagian, dan rangkaian emosi lainnya. Namun, tidak semua orang memiliki anugerah tersebut.

Banyak sekali orang yang saya kenal, yang setidaknya memiliki kemampuan seperti saya: dapat menulis dan berkata. Sudah tentu lebih banyak lagi yang lebih agung dari saya hingga mereka memiliki kehormatan untuk diwawancarai oleh berbagai pencari berita atau diterbitkan tulisannya oleh berbagai publisher. Namun, lagi-lagi, pertanyaan yang terlintas dalam benak saya adalah,”Lalu, apa kabar yang lainnya?”

Saya kemudian berpapasan dengan suatu artikel yang diunggah oleh ‘The Mirror berjudul The Semicolon Project: The touching reason behind the punctuation mark tattoos on social media.’ Satu hal menarik yang saya pelajari dari artikel tersebut adalah makna unik dari tanda titik-koma (;). Mengutip dari laman resmi Project Semicolon, titik-koma memiliki makna sebagai berikut:

A semicolon represents a sentence the author could have ended, but chose not to.

Ya, tanda titik-koma biasa digunakan oleh seorang penulis yang sebenarnya bisa mengakhiri kalimatnya namun memilih untuk melanjutkannya dan menambahkan beberapa detil. Dalam hal ini, bayangkanlah anda seorang penulis dan hidup anda adalah kalimatnya.

Saya mengenal beberapa orang yang selama hidupnya, Ia ditimbun oleh banyak sekali penyesalan. Dan, setelah saya perhatikan, penyesalan tersebut lebih banyak datang dari sesuatu yang tidak pernah dapat mereka lakukan daripada bersumber dari suatu keputusan yang mereka pilih dan jalankan. Sepertinya terlalu banyak cerita menarik yang sesungguhnya ingin mereka ungkapkan namun masing-masing dari mereka memilih untuk diam. Mereka diam bukan karena keinginan namun lebih karena keterpaksaan; dan takut dinilai sebagai “social outcast” adalah salah satu keterpaksaan yang harus mereka telan bulat-bulat.

Dan, saya rasa, sudah bukan lagi zamannya manusia “dipaksa” menelan keterpaksaan tersebut.

Sehingga datanglah ide gila ini. Ide untuk memberikan kesempatan bagi banyak orang, meletakannya di dalam suatu ruangan kosong, dan membiarkannya untuk berbicara sendirian, tanpa ditemani siapapun. Datanglah harapan ini bahwa apabila seseorang menemukan intimasi di ruangan tersebut tanpa takut di-judge oleh orang lain, maka satu-satunya cerita yang akan Ia sampaikan adalah kebenaran. Dan datanglah angan ini dimana semua orang dapat bercerita, dengan bebas dan filosofis, tentang sesuatu yang sangat Ia gemari.

Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk menghubungi seorang teman. Seorang rekan kerja, sahabat, laki-laki yang saya sangat percayai bernama Ilham Rahmanda Dony. Saya bercerita kepadanya tentang ide yang mengusik diri saya selama beberapa minggu ke belakang. Dan kami sepakat, bahwa ada seorang anak dengan Rangking 27 di luar sana yang menunggu seseorang untuk mendengarkan dan memahami ceritanya tentang kotak pensil kesayangannya.

Kami menamai inisiatif ini sebagai H;dup.

Advertisements

2 thoughts on “Titik-Koma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s