Pulang.

Sudah beberapa orang teman bertanya kepada saya perihal proses yang harus ditempuh agar LPDP mengizinkan para awardee untuk dapat bekerja di luar negeri setelah menyelesaikan masa studi mereka masing-masing.

Berbagai skenario telah mereka persiapkan mulai dari membuat surat pernyataan bahwa setelah mereka bekerja selama beberapa tahun di luar negeri kemudian mereka akan kembali ke Indonesia dan mengabdi seutuhnya bagi Tanah Air tercinta; atau merancang suatu skema eksplanasi yang menjelaskan bahwa ilmu yang mereka dapatkan belum dihargai di Indonesia; atau bahkan surat dari perusahaan yang ingin merekrut mereka, yang menyatakan bahwa awardee LPDP sangat dibutuhkan di perusahaan mereka masing-masing.

Dan saya (yang entah mengapa mereka jadikan tempat “curhat” terkait perizinan kerja mereka, padahal saya pun sangat jarang berkomunikasi dengan pihak LPDP terkait isu ini) akhirnya harus menempatkan kaki saya di dua sisi yang berbeda: sebagai seorang teman dan sebagai awardee LPDP yang memiliki komitmen untuk pulang ke Indonesia, kembali  membangun negeri.

Ya, saya adalah satu dari ribuan awardee LPDP yang pada kenyataannya menandatangani secarik dokumen, yang mengikat secara hukum, dan di dalamnya terdapat klausul yang mengatakan bahwa setiap penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) yang difasilitasi oleh LPDP wajib kembali ke Tanah Air selepas menyelesaikan masa studinya. Namun, tentu saja klausul tersebut terbuka untuk diinterpretasi.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk membela salah satu pihak; menjadi “Bro” bagi teman-teman seperjuangan sesame awardee dengan menyatakan bahwa mereka memiliki hak dan kebebasan untuk menentukan masa depan mereka sendiri, atau menjadi seorang warga negara yang patuh hukum dan menunjukkan komitmen yang teguh kepada LPDP untuk pulang dan berkontribusi secara langsung di Indonesia. Lagipula, hidup tidak sesederhana memisahkan hitam dengan putih. Selalu ada wilayah abu-abu yang perlu kita pertimbangkan.

Saya mencoba memahami argumen teman-teman saya yang merasa bahwa ilmu yang mereka dapatkan setelah selesai menempuh S2 atau bahkan S3 belum dapat diakomodasi di Indonesia. Argumen tersebut mayoritas datang dari teman-teman yang mengambil cluster sains dan teknologi seperti jurusan computer science, nuclear science and technology, aerospace engineering, dan masih banyak lagi. Menurut mereka, lapangan kerja yang ada di Indonesia belum dilengkapi oleh teknologi yang mampu mendukung manifestasi ilmu yang telah mereka dapatkan di bangku kuliah. Alat bantu merupakan salah satu penghadang terbesar kepulangan mereka ke Indonesia.

Argumen pertama ini agak lucu menurut saya, karena yang teman-teman saya dapat tawarkan kepada pihak LPDP sebenarnya hanyalah janji di atas secarik kertas yang menyatakan bahwa mereka akan pulang ke Indonesia setelah 3-5 tahun menggali pengalaman di tanah asing. Mengapa lucu? Pertama, tidak ada kepastian yang mengikat dari secarik kertas dan rencana yang dirancang sedemikian canggih tersebut. Kontrak yang ditandangani dan memiliki ikatan hukum saja dapat dipungkiri, apa lagi hanya action plan? Kedua, ketika berbicara tentang teknologi, apa perbedaan signifikan yang akan di dapat hanya dalam 3-5 tahun? Apakah dengan “melarikan diri” ke luar negeri dalam periode tersebut, lekas teman-teman saya berharap bahwa ketika mereka pulang kelak Indonesia akan memiliki teknologi yang mereka dambakan? Tentu sulit, kecuali jika Indonesia membeli dari negara lain, maka cukup menunggu enam bulan untuk proses pengirimannya. Namun, apa mau dikata?

Argumen lain bersifat lebih practical dan pragmatis: uang. Menurut teman-teman saya, usaha yang telah mereka berikan selama bertahun-tahun, penelitian yang telah mereka lakukan selama berbulan-bulan, jam tidur yang berkurang karena didedikasikan untuk terus belajar, serta pengorbanan lain yang telah mereka tempuh selama ini tidak akan diberikan imbalan yang pantas oleh pemerintah ataupun perusahaan swasta yang berada di Indonesia. Pada akhirnya, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini, manusia hidup pada era yang membutuhkan uang sebagai nilai tukar dan nilai jual. Maka, argumen yang mereka sampaikan pun tidaklah salah.

Hingga sejauh ini, benteng yang dipersiapkan oleh LPDP untuk mengatasi hal tersebut hanya satu klausul di dalam kontrak yang ditandatangani setiap awardee, yang kurang lebih menyatakan bahwa setiap penerima beasiswa wajib kembali dan mengabdi untuk Nusantara. Namun, sayangnya, manusia adalah The Anvil of Errors; manusia adalah sumber ketidaksempurnaan yang akan selalu mencari cara untuk “mengakali” setiap ketidaksempurnaan yang ada agar situasi berpihak kepadanya. Alhasil, klausul tersebut – yang memang, bahkan menurut saya, sangat rawan untuk disalahartikan – tidak dapat lari dari pemikiran kritis setiap awardee LPDP. Termasuk di dalamnya adalah saya. Misalnya begini, di dalam kontrak tersebut tidak dijelaskan berapa lama mahasiswa harus kembali ke Indonesia pasca menyelesaikan studinya. Tidak pula di kontrak tersebut dielaborasi perihal bentuk, jenis, ataupun durasi pengabdian yang harus dilakukan sebelum awardee benar-benar terlepas dari ikatan LPDP. Sehingga, sebenarnya, tidaklah dapat disalahkan apabila awardee memenuhi kontrak tersebut dengan cara kembali ke Indonesia hanya untuk satu minggu dan selama satu minggu tersebut ia memutuskan untuk menjadi relawan pengajar di suatu Sekolah Dasar. Hal tersebut sah dan tidak melanggar hukum karena: 1) awardee memenuhi kontraknya untuk “kembali” ke Indonesia; dan 2) awardee memenuhi kontraknya untuk “mengabdi” bagi Indonesia. Seluruh terminology yang berada di dalam kontrak tersebut sangat kendur untuk dimaknai secara bebas oleh setiap orang yang membacanya.

Agak ironis sebenarnyaa jika fenomena ini saya kaitkan dengan cita-cita LPDP saat diinisiasi beberap tahun yang lalu. Pada tahun 2011, tepatnya 28 Desember 2011, melalui PMK nomor 252/PMK.01/2011, Menteri Keuangan menetapkan Organisasi dan Tata Kelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan sebagai suatu badan yang berwenang mengelola sebagian Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN).[1] Melalui berdirinya LPDP tersebut, cita-cita untuk mengembangkan ‘kualitas sumber daya manusia di berbagai bidang yang menunjang percepatan pembangunan Indonesia’ pun mulai digaungkan.[2]

Dan sebenarnya, jika masing-masing dari kita melihat fokus LPDP tersebut, kata-kata yang tercantum adalah ‘percepatan pembangunan Indonesia’. Bukan penggemukan isi dompet kita masing-masing.

Tidak, saya tidak sedang berusaha menjadi nasionalis disini. Tidak dapat dipungkiri memang godaan untuk bekerja di luar negeri selalu membayangi diri saya dalam satu tahun terakhir. Gaji yang besar, fasilitas yang mumpuni, atmosfer kerja yang kompetitif, serta lingkungan yang berwawasan internasional memang menjadi daya Tarik tersendiri. Namun, saya hanya merasa iba kepada LPDP karena visinya yang begitu baik ternyata masih saja bisa dicurangi oleh awardee-nya sendiri. Suatu hal yang sungguh sangat disayangkan.

Hal lain yang saya perhatikan – dan sungguh sangat ironis menurut saya – adalah kenyataan bahwa tidak hanya teman-teman dari cluster sains dan teknologi yang ingin bekerja di luar negeri, namun sindroma tersebut juga menjangkit di teman-teman sosio humaniora. Tidak sedikit teman-teman saya yang mengambil jurusan international business, marketing, finance, bahkan development yang ingin berkarir di luar neger selepas mereka menyelesaikan masa studi mereka.

Alasanya lagi-lagi terbagi menjadi dua, yakni alasan ideologis dan alasan pragmatis. Bagi mereka yang cukup ideologis, argumen yang digunakan adalah bahwa mereka ingin melakukan penetrasi tenaga profesional Indonesia ke kancah internasional. Menurut mereka, kemajuan pesat Tiongkok dan India dapat terpenuhi karena sangat banyak warga negara mereka yang bekerja di sektor-sektor strategis di luar negeri. Bank, perusahaan komunikasi, organisasi internasional, hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) telah didominasi oleh laki-laki dan perempuan yang berasal dari Tiongkok ataupun India. Melihat hal tersebut, teman-teman saya pun sangat yakin bahwa Indonesia dapat mengikuti langkah sukses Tiongkok dan India jika (dan hanya jika) warga negara Indonesia bekerja di luar negeri.

Dan, sudah tentu, argumen yang mereka tawarkan ada benarnya.

Alasan lain yang lebih pragmatis sudah tentu tidak jauh-jauh dari permasalahan gaji. Bagi mereka, berkecimpung di LSM Indonesia sudah tentu tidak akan mendapatkan penghargaan sebesar apa yang akan mereka dapatkan di luar negeri. Dengan permasalahan yang lebih kompleks yang harus diselesaikan di Tanah Air seperti konflik beragama, konflik antar suku, kemiskinan, literasi, dan masih banyak lagi, tenaga yang mereka keluarkan akan menjadi begitu besar dan banyak. Namun gaji yang mereka dapatkan tidak tinggi. Berbeda ketika mereka bekerja di luar negeri dimana permasalahan yang dihadapi akan mendapatkan banyak bantuan teknis sehingga beban kerja mereka pun tidak akan begitu berat. Belum lagi, dengan effort yang secara relatif tidak begitu berat, usaha mereka akan dihargai secara lebih mahal.

Namun, untuk isu yang satu ini sepertinya saya harus memilih pihak. Pasalnya, jika teman-teman dari jurusan sains dan teknologi memilih untuk tidak kembali ke Indonesia karena alasan teknologi yang belum memadai, saya masih dapat sedikit memahami mereka. Mereka mungkin membutuhkan waktu ekstra untuk mereplikasi apa yang mereka dapat peroleh di luar negeri untuk kemudian diaplikasikan di Indonesia. Namun, untuk teman-teman sosio humaniora, satu hal yang saya ketahui adalah Indonesia membutuhkan anda. Negara kita yang anda klaim sebagai carut marut, kacau balau, dan runyam itu membutuhkan saya dan anda untuk membawa mereka ke arah yang lebih baik. Sekecil apapun peran anda untuk membangun Indonesia dari dalam, negara kita tetap membutuhkan hal tersebut.

Sulit memang ketika anda membandingkan kondisi material di Indonesia dengan pundi-pundi fasilitas yang dapat anda peroleh di luar negeri. Bahkan, komparasi tersebut rasanya tiada akan habis dan akan selalu menempatkan Indonesia dalam posisi yang termarjinalkan. Tapi saya rasa hal tersebut lah yang mendorong kita, mahasiswa ilmu sosial, untuk terus belajar. Maka, pulanglah.

LPDP memiliki visi untuk ‘mempersiapkan pemimpin masa depan serta mendorong inovasi bagi Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan.’ Anda memang diharapkan untuk menjadi suatu investasi yang akan tumbuh membawa kesejahteraan, demokrasi, dan keadilan untuk Indonesia. Lagi-lagi, bukan untuk kepentingan anda sendiri. Ada mimpi dan kepentingan yang lebih besar daripada ego personal dan ego sektoral semata.

Masing-masing dari kita, awardee LPDP, sudah mampu mendapatkan kesempatan mengejar mimpi selangkah lebih jauh dengan mengalahkan setidaknya 50 ribu pendaftar yang lain. Hingga 2014, setidaknya sudah ada 4.580 awardee LPDP.[3] Artinya, setidaknya Indonesia sudah memiliki 4.580 individu yang diharapkan mampu membawa Indonesia untuk lebih sejahtera, demokratis, dan adil. Dan cita-cita tersebut akan satu per satu berkurang, semakin tipis kesempatan Indonesia untuk maju, jika perlahan-lahan setiap dari kita ingin mengakali sistem yang berlaku.

Kembali ke premis awal tujuan saya menulis artikel ini, yakni menempatkan diri diantara dua kutub yang berbeda, maka tidak ada yang sepenuhnya benar dan tidak pula ada yang sepenuhnya dapat dipersalahkan. Sudah tentu anda memiliki kebebasan untuk menentukan karir dan arah hidup anda masing-masing: di luar negeri atau kembali. Namun, sudah tentu anda memiliki kewajiban untuk menunjukkan rasa bersyukur kepada Indonesia dengan cara kembali pulang, membangun negeri dari dalam. Yang dapat saya dan anda lakukan sekarang adalah bertanya (dan maksud saya adalah benar-benar bertanya) kepada diri anda sendiri perihal mana yang lebih penting: memenuhi hasrat individual atau menepati janji bersama?

[1] Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, ‘Sejarah’, dalam LPDP (daring), 2015, diakses pada 11 September 2015, http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/profil/sejarah/

[2] Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, ‘Visi, Misi, & Fokus’, dalam LPDP (daring), 2015, diakses pada 11 September 2015, http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/profil/visi-misi-fokus/

[3] Martha Herlinawati Simanjutak, ‘4.580 orang terima beasiswa S2/S3 dari LPDP, dalam Antara News (daring), 7 April 2015, diakses pada 11 September 2015, http://www.antaranews.com/berita/489409/4580-orang-terima-beasiswa-s2s3-dari-lpdp

Advertisements

21 thoughts on “Pulang.

  1. Hi Aldo, ini penulisan yang menarik sekali. Kebetulan saya penerima beasiswa Chevening dan sekarang sedang menyelesaikan program pascasarjana Humor dan Komedi di London, UK. Beberapa hal yang diungkapkan di atas juga dirasakan beberapa kawan di Chevening. Kami sempat membahas kemungkinan untuk membuat perjanjian yang lebih fleksibel, misalnya, kemungkinan untuk mengaplikasikan perjanjian yang bersifat ‘hybrid’. Maksudnya, penerima beasiswa bisa tetap memiliki pilihan untuk pulang atau menetap di luar negeri, tetapi jika memutuskan untuk menetap, program bantuan pendidikan berubah menjadi sistem student loan. Di satu sisi, ini menguntungkan kedua belah pihak: pendonor tidak merasa dirugikan karena investasinya tetap kembali dan pelajar memiliki pilihan yang bertanggung jawab. Namun, ini rasanya harus mempertimbangkan sejauh mana animo teman-teman LPDP juga. Jumlah kami di Chevening tidak sebanyak teman-teman di LPDP jadi sejauh ini masih bisa dikelola. Salam dari London buat teman-teman LPDP, semoga lancar studinya ya.

    Liked by 2 people

    1. Halo Rio. Salam kenal. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk baca tulisan ini.

      Itu mekanisme yang menarik banget. Tapi, dari awardee-nya sendiri apakah sudah memahami konsekuensi tersebut? Konsekuensi yang saya maksud adalah bahwa jika mereka memutuskan untuk melanjutkan karir di UK, maka sistemnya berubah menjadi student loan, dimana (menurut sepemahaman saya) artinya awardee harus mengganti uang beasiswanya secara berkala. Begitu ‘kan, ya?

      Like

  2. Yang menariknya lagi pak wapres Jusuf Kalla encourage anak2 LPDP untuk kerja di luar negeri dulu sebelum pulang:
    http://www.tribunnews.com/nasional/2015/08/04/kata-jk-gajinya-setara-dengan-uang-beasiswa-lpdp
    http://www.merdeka.com/peristiwa/jk-penerima-beasiswa-lpdp-utang-ke-negara-bayar-pakai-prestasi.html
    http://news.liputan6.com/read/2286015/jk-penerima-beasiswa-lpdp-berutang-pada-negara

    Berikut kutipannya:
    “`
    Ia berharap para penerima beasiswa LPDP setelah lulus, dapat bekerja di perusahaan-perusahaan terbaik di dunia, untuk menimba pengalaman dan ilmu. Setelahnya, diharapkan lulusan luar negeri itu mau kembali ke tanah air, untuk menerapkan ilmu dan pengalamannya, membangun Indonesia.
    “India maju karena sejak awal membina sinergi. Kalau tamat diminta kerja di Microsoft, Google, silahkan,” katanya.
    “`
    (Walaupun hanya boleh di Microsoft atau Google SAJA :P)

    Begitu pula dengan Pak Anies Baswedan, lewat japri PPI yang saya dapat beberapa bulan lalu, kutipannya:
    “`
    Menurut saya, jika usia masih muda apalagi jika belum ada kewajiban yang harus ditunaikan di tanah air maka akan lebih baik jika anda bisa mencari peluang untuk bekerja dan mencari pengalaman dahulu. Bekerja di institusi yang bagus di negeri maju bisa meluaskan wawasan, menambah jaringan di bidang anda.

    Dengan begitu kelak saat pulang anda bisa membawa juga pengalaman bekerja dengan standard profesionlisme yang tinggi dan membawa jaringan yang anda bangun selama bekerja. Kehadiran anda di Indonesia kelak akan lebih berpotensi untuk memberikan manfaat dan makna yang jauh lebih besar. Silahkan anda pertimbangan sesuai dengan kondisi dan situasi yang anda hadapi.
    “`

    Lengkapnya:
    “`
    Teman-teman PPI
    di Kobe, Jepang.

    Assalamu’alaikum wr wb

    Saya menulis email ini dalam perjalanan kembali dari Tokyo ke Jakarta. Senang sekali bisa berdiskusi dengan teman-teman di PPI kemarin. Setiap kali perjalanan pulang sesudah berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, ada kenangan yang khusus.

    Diskusi di Kobe kemarin malam Danny is a talented programmer asd asd asd asdmengingatkan saya pada masa-masa kuliah dulu. Saat itu setiap kali ada dialog dengan siapa saja yang datang dari tanah air tercinta, maka banyak urusan di kampus saya jadwal ulang agar bisa pergi ke pertemuan, sekadar untuk mendengar kabar terbaru dari tanah air dan berdiskusi tentang Indonesia kita.

    Memang waktu saya kuliah itupun sudah ada internet, sudah ada kabar terbaru yang real-time tetapi tetap saja sebuah tatap muka itu adalah obat kangen kampung halaman.

    Pesawat terbang memang sanggup menerbangkan badan kita ke negeri yang jauh, tapi ia takkan pernah berhasil membawa pergi hati dan pikiran dari Indonesia. Sejauh apapun badan pergi, hatinya, pikirannya selalu tertinggal di Indonesia.

    Dalam diskusi PPI malam itu saya tersadarkan lagi bahwa sedang bertemu dan menyaksikan sebuah generasi baru, generasi amat terdidik. Anda semua mewakili sebuah generasi baru Indonesia yang akan ikut mendorong perubahan.

    Seperti saya katakan malam itu, kalau diukur maka hitungan kilometer jarak anda dengan Indonesia amat-amat jauh. Tapi saya yakin sekali Indonesia kita ada amat dekat dengan benak, dengan hati dan dengan semangat anda.

    Selama ini hampir seluruh energi dan perhatian anda dipakai untuk belajar, meneliti atau menulis tapi saya amat yakin bahwa cahaya Indonesia itu selalu hidup di dada anda.

    Anda sesungguhnya sedang mewakili kita semua untuk meraih ilmu pengetahuan, mengambil best-practice dari manapun. Setiap hari senin jutaan anak-anak sekolah mengucapkan Pembukaan UUD 1945, sesungguhnya mereka sedang menyebutkan tentang anda dan kita semua.

    Republik ini berjanji akan mencerdaskan dan mensejahterakan. Sebagian dari kita sudah mendapatkan janji itu. Anda yang saat ini sedang belajar di negeri-negeri termaju di dunia ini sesungguhnya adalah anak-anak bangsa yang kepadanya janji kemerdekaan itu sudah dibayar lunas: telah tercerdaskan, tersejahterakan, telah menjadi bagian dari dunia yang amat raya dan tentu terlindungi.

    Bagi kita yang sudah merasakan janji kemerdekaan, rasanya tidak pantas lagi untuk sekadar mengidentifikasi dan mendiskusikan apalagi mengutuk terus kekurangan bangsa kita.

    Daftar kekurangan kita panjang. Tapi ingat, semua bangsa yang maju hari ini dulunya juga pernah tertinggal. Hanya lewat usaha kolektif yang serius dan dimulai dengan mengubah kualitas manusianya maka mereka bisa meraih kemajuan seperti sekarang.

    Mengubah Indonesia itu sesungguhnya mengubah manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci untuk mempercepat pelunasan semua Janji Kemerdekaan kita.Kita yang sudah merasakan manfaat pendidikan ini tidak boleh menjadi beban bagi republik, sebaliknya kita harus menjadi motor pendorong. Jangan pilih lipat tangan tapi pilih turun tangan untuk membenahi Indonesia kita.

    Seperti saya sampaikan kemarin bahwa iuran terbesar untuk pendidikan itu bukan bea-siswa, bukan buku, bukan fasilitas belajar tapi iuran kehadiran. Kehadiran anda sebagai inspirasi adalah iuran terbesar. Anda memang tinggal jauh dari Indonesia tapi hadirkan diri anda di kelas-kelas tempat dulu anda pernah belajar. Jadikan diri anda yang sudah mendapatkan kesempatan untuk belajar di kampus-kampus terkemuka ini sebagai inspirasi. Sama sekali bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menanamkan bibit mimpi, iuntuk menjadi motivasi bagi adik-adik sebangsa.

    Buatlah rekaman movie singkat tentang kegiatan anda. Gambaran saat belajar, saat di laboratorium, di kelas, di perpustakaan, di kampus dan di mana saja tempat sekarang anda menuntut ilmu. Jelaskan itu semua sebagai cerita, sebagai narasi kegiatan anda. Lalu kirimkan rekaman itu ke SD, SMP atau SMA anda atau yang lain. Jangan takut dianggap menyombongkan diri, tegaskan bahwa rekaman ini anda kirimkan untuk adik-adik sebangsa agar mereka kelak bisa melampaui keberhasilan anda.

    Anda kirimkan rekaman ini sebagai iuran anda untuk menghadirkan mimpi di kelas-kelas di kampung halaman anda dan di manapun di negeri tercinta ini. Titipkan pesan disana bahwa Anda jauh dari tanah air tapi tidak pernah lupa dan akan selalu mendorong kemajuan bagi Indonesia.

    Perjalanan anda di Kobe dan di manapun anda belajar tidak akan terlupakan. Jadikan masa di “pengasingan” ini sebagai masa membawa bekal ilmu sebesar-besarnya untuk memberikan makna pada saudara sebangsa.

    Jika anda telah selesai belajar, anda tidak harus pulang cepat-cepat. Selesai kuliah langsung pulang itu baik-baik saja, tapi sesungguhnya pulang sesaat sesudah lulus membuat anda hanya bisa membawa pulang ilmu dari kampus dan selembar ijazah bukti telah tamat.

    Menurut saya, jika usia masih muda apalagi jika belum ada kewajiban yang harus ditunaikan di tanah air maka akan lebih baik jika anda bisa mencari peluang untuk bekerja dan mencari pengalaman dahulu. Bekerja di institusi yang bagus di negeri maju bisa meluaskan wawasan, menambah jaringan di bidang anda.

    Dengan begitu kelak saat pulang anda bisa membawa juga pengalaman bekerja dengan standard profesionlisme yang tinggi dan membawa jaringan yang anda bangun selama bekerja. Kehadiran anda di Indonesia kelak akan lebih berpotensi untuk memberikan manfaat dan makna yang jauh lebih besar. Silahkan anda pertimbangan sesuai dengan kondisi dan situasi yang anda hadapi.

    Selamat belajar, selamat meneruskan perjalanan mulia di tempat-tempat jauh. Kemarin malam saat anda semua memperkenalkan diri, saya perhatikan wajah anda anda satu per satu. Saya menyaksikan anak-anak bangsa yang sedang jauh dari rumah asalnya, jauh dari keluarganya.

    Setiap anda menyebutkan bidang ilmu yang sedang dipelajari, dalam hati saya mengatakan pada anda terdapat tanda akumulasi pahala dan didikan yang luar biasa dari orang-tua, dari para guru dan dari lingkungan tempat anda tumbuh.

    Kini Anda sedang jauh dari mereka semua untuk meraih ilmu pengetahuan, pengalaman; ya anda pergi jauh untuk belajar, untuk menjawab tantangan zaman dengan mempelajari ilmu-ilmu termutakhir di bidangnya.

    Anda sedang melewati jalan mulia. Jaga stamina: stamina fisik, stamina intelektual dan stamina moral. InsyaAllah anda kelak akan meraih kemuliaan.

    Keluarga di tanah air tentu bangga dengan keberhasilan studi Anda, tapi saya yakin mereka akan lebih bangga saat keberhasilan studi itu menjadi awal baru kiprah anda untuk tetap memberikan makna pada saudara sebangsa.

    Salam hangat dari tanah ibu.

    Salam,

    Anies Baswedan
    “`

    Begitupula hasil bincang-bincang dengan Kang Ridwan Kamil saat beliau ada meeting di New York beberapa waktu silam, hanya saya tidak ada catatannya. Dan beliau pun bekerja di US 7 tahun dulu kalau tidak salah sebelum pulang dan mengabdi.

    Salam dari negeri paman sam,
    Giri, PK-21

    Like

    1. Halo Giri. Salam kenal. Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca tulisan saya.

      Kemarin ada perwakilan LPDP yang datang ke Manchester dan mengadakan diskusi dengan teman-teman awardee disini. Nah pada kesempatan itu, kita juga menyinggung perihal pesan yang disampaikan pak JK yang bertentangan dengan semangat LPDP; pak JK bilang kita harus cari pengalaman di luar, sementara LPDP menawarkan kontrak yang mendorong kita untuk pulang. Tapi, jawaban dari perwakilan LPDP saat itu kurang lebih begini:

      “Apa yang disampaikan pak JK hanya sebatas lisan. Belum dijadikan kebijakan – apa lagi kebijakan LPDP. Maka kita bertolak kepada kebijakan tertulis dari LPDP saja.”

      Disini saya bukan membela LPDP, ya. Lagi-lagi, saya paham betul dengan landasan berpikir pak JK dan orang-orang lain yang orientasinya lebih ke tingkat internasional.

      Thanks sekali lagi!

      Like

  3. Artikel yang menarik Do, tapi saying menurut saya keliru secara logika. Saya akan mengambil contoh kecil misal di bidang social humaniora. Bagaimana cara kita bersaing dengan pekerja2 profesional dari luar negeri – baik di dalam organisasi international maupun MNC? Menjadi lulusan S2 atau S3 itu tidak semata-mata menjadikan mahasiswa tersebut “stellar” dan mampu bersaing dengan pekerja profesional asing. Sebagian besar dari mereka – pekerja asing/lokal – telah memiliki pengalaman bekerja setidaknya 2 tahun disetiap negara, mengatasi berbagai situasi dan kondisi dilingkungan tersebut (bahkan konflik dan perang!), serta memahami dalam hukum, norma dan budaya setempat. Terlebih, terbiasa berkerja di sistem birokrasi yang lebih kompleks dan besar. Itulah yang menempatkan mereka di posisi penting suatu LSM ternama atau organisasi internasional. Bukan gelar S2/S3. Perlu di ingat, pendidikan S2 dan S3 itu hanya memberikan kita tambahan ilmu akademik, syukur-syukur komunikasi antar-budaya, dan pengalaman kerja/volunteer dengan waktu yang sangat terbatas.

    Dengan logika yang digunakan di artikel dibuah, pembaca seolah-olah diberikan kacamata kuda, terkungkung dalam dimensi waktu dan ruang yang sangat sempit, dengan 2 pilihan: Pulang dan harus “langsung” bekerja dan “membangun” Indonesia – ditanah Indonesia, atau cabut dan bekerja diluar negeri, selama-lamanya…Atau antara gaji dengan fasilitas: Diluar negeri gaji dan fasilitas lebih, di Indonesia kurang. Semuanya hanya material. Tidak ada pertimbangan terhadap pengalaman hidup dan bertambahnya wawasan yang tidak terbatas ruang dan waktu. Hanya terfokus pada kontrak dan ketaatan pada “hukum.”

    Tidak bermaksud primodialis, namun pemahaman tersebut juga agak Jawa-sentris, dan sesat bagi saya. Apakah Aldo familiar dengan tradisi dan filosofi Merantau? Jika tidak ada system batas Negara dan imigrasi saya yakin orang Minang dan Bugis akan tetap melang-lang buana keseluruh dunia mencari pengalaman dan keuntungan dan tentu, kembali ke hulu (mudik) untuk berbagi rejeki dan cerita mengenai pengalaman mereka di perantauan. Mungkin Aldo perlu memahami ulang konsep merantau dan relasi nya terhadap pembangunan dan hegemoni sosial/budaya.

    Jika saja Malin Kundang tidak durhaka terhadap ibunya – atau ibunya tidak dendam kesumat dan matre – tentu Malin bisa menjadi contoh model sukses awardee LPDP yang terbaik. Sudah kaya, pelaut pemberani, pulang bawa jodoh, tidak pula lupa berbagi rejeki dan kesempatan kerja bagi orang-orang dikampungnya.

    Like

    1. Halo kak Dek. Semoga bener ini kak Deka HI 2008 (biar ga disangka SKSD).

      Thanks kak udah baca tulisan gue. Dan lebih makasi lagi karena lo udah ngasih comment yang menurut gue konstruktif banget.

      Tapi pertama, gue ga terima kalo tulisan gue lo bilang “keliru secara logika”. Kenapa?

      “Keliru” sinonim dengan “salah”. Artinya, ada perspektif yang “benar”. Meanwhile, landasan gue menulis tulisan ini bukan untuk mengedepankan mana yang bener, mana yang salah. Dan, as far as I’m concerned, bener atau salah tuh susah banget (nyaris ga mungkin di define).

      Kedua, ini bukan masalah logika yang salah. Lebih kepada emang perspektif kita mungkin beda aja tentang ini. And that’s okay though. Mungkin karena lo seneng banget travel, maka landasan argumen lo lebih transnasionalis. Meanwhile gue, kebanyakan di rumah, maka lebih orthodox. Dan gue (asli, ga boong) menghargai banget argumen lo perihal leluhur kita, orang Minang dan Bugis, yang supposedly jadi explorer handal.

      Thanks kak!

      Like

    2. Lebih baik jika mas deka tidak mengaitkan jawa sentris atau minang bugis dengan rantau. Menurut saya tulisan mas aldo hanyalah mengambil sudut pandang berbeda yang baik juga dan kritis. Anw, saya pribadi berharap mas2 mbak2 awardee beasiswa apapun di luar negeri untuk pulang dan berbagi pengalaman dan wawasannya kepada kami yang belum atau tidak punya kesempatan untuk kuliah jauh disana. Agar kami ini yang cuma bisa bekerja di perusahaan2 dalam dan asing bisa tau dan membantu dengan arahan baru untuk kemajuan negara ini.
      Salam kenal selalu.

      Like

      1. Halo lagi, Ayu.

        Mas Deka menggunakan suku Jawa, Minang, dan Bugis hanya sebagai perbandingan aja kok. And it’s completely fine. Karena ‘kan ketiga suku tersebut bisa dijadikan sebagai bahan perbandingan terdekat dan paling nyata yang bisa kita sama-sama rasakan. So, it’s okay.

        Like

  4. Halo aldo.
    Menarik banget tulisannya meskipun saya bukan penerima beasiswa dan cuma jadi pekerja di perusahaan asing. Beberapa temen ada yang jadi awardee lpdp dan yes berbagai tujuan dari masing2 orang yang kadang bikin saya kagum tapi ada juga yang bikin sedih karena merekalah yang dapet kepercayaan lebih dari negara untuk jadi calon pemimpin di masa depan dan ketika diminta pulang setelah diberi semua fasilitas itu, beberapa orang gamau. Secara pribadi kecewa sih sama temen2 yang seperti ini tapi karena saya belum pernah ada di posisi mereka jadi gamau comment berlebihan karena gatau juga kesusahan yang mereka hadepin selama disana. Harapan saya sih temen2 awardee pulang dan bersama2 membangun dari dalam membimbing teman2nya yang gapunya kesempatan dan pengalaman lebih untuk kuliah di luar negeri sana.

    Like

    1. Halo Ayu. Makasi banyak udah meluangkan waktu ngebaca artikel ini.

      Bener banget, Ayu. Temen-temen pasti punya preferensi mereka masing-masing apa lagi setelah memiliki parameter komparasi yang baru. Tapi apapun pilihan kita, semoga ujung-ujungnya tetep ngga lupa untuk majuin Indonesia. Amin!

      Like

  5. Hai Kak! Salam kenal!
    Aku pernah baca beberapa Portrait Project Harvard Business School. Banyak jawaban dari mahasiswanya yang menarik, dan kebanyakan ingin membangun tempat asalnya entah itu negara atau daerahnya. Ketika membaca blog ini & mengetahui beberapa alasan tidak ingin pulangnya seperti itu, jujur sedih sekali. Aku harap mereka yang tidak ingin pulang itu tidak akan mengeluhkan kondisi Indonesia di media sosial miliknya bila kebetulan mereka sedang pulang kemari 🙂

    Like

  6. Yang paling membedakan adalah uang apa untuk sekolah ke LN. Kalau ingin tidak kembali, ya jangan gunakan uang yang bersumber dari APBN. Kalau dengan uang APBN ya konsekuensinya harus membayar hutang tersebut kepada rakyat Indonesia, karena uang kuliah dan hidupnya dipinjami seluruh rakyat.

    Sebenarnya mereka bisa pulang, masalah teknologi, mereka bisa tetap bekerjasama dengan Professor pembimbing selama di Indonesia, dengan skema kerjasama atau kolaborasi. Namun memang tetap memerlukan kerja keras dan sistem yang baik untuk mengakomodasinya.

    Like

  7. artikel yg menarik. dtmbh dgn komen2 yg menarik jg. Pastinya kalian yg nan jauh d sna. adlah org yg trpilih, pintar dan beruntung. Semoga dgn modal yg kalian miliki. kalian bisa bermanfaat untk seluruh umat manusia dan alam semesta. Memang bnyk org pintar yg sekolah d luar negeri menjadi orang hebat dgn karya2nya.. seperti B. J Habibie, khairul anwar dgn 4Gnya, Dr. Warsito dgn ECTVnya.. dsb.. semoga kalian bs seperti mereka..

    Like

  8. Jangan lupa uang kuliah kalian2 itu dari berasal dari uang pajak yang saya dan jutaan orang lainnya bayarkan setiap bulannya. Uang yang didapat dari pajak penjualan SDA kita ke luar negeri. Uang yang seharusnya bisa buat jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas2 lainnya kalau ga dipake kalian buat kuliah jauh disana. Jadi jangan koar2 kapan Indonesia maju, kalo kalian, manusia2 terpilih yg jadi harapan bangsa ujung2nya cuma jadi kacung di perusahaan asing, udah cukup puas dengan punya apartmen 1 di London, nonton konser Coldplay dan foto2 di menara Eiffel.

    Majuin negara kita buat jadi semaju Korea emang susah, but hey, that’s where the challange is right? Kalo majuin Indonesia segampang goreng mie rebus, kalian ga bakal kuliah di luar kyk sekarang, karena UI is as good as Harvard and ITB is as good as MIT, dan hidup ga bakal seru lagi, karena generasi yg majuin Indonesia adalah generasi bapak kita, and we only became spectators. This is our chance guys, our generation, to hold hands together and fight against all odds. Prove that it’s our generation that’ll bring Indonesia to the gold and glory that our founding father could only dream of.

    Like

  9. Pas belum dapet duitnya, disuruh tanda tangan bersedia pulang, mengabdi, nasionalis, bla-bla-bla di atas 17 surat bermaterai: Siap, laksanakan!!!

    Begitu udah dapet dan tahu bagusnya dunia: Langsung sejuta alasan. Indonesia belum siap lah, bidangnya belum terakomodasi lah, mau memajukan Indonesia dari luar lah. BASI !!! Memangnya anda tidak tahu prospek bidang anda itu bagaimana di Indonesia, sebelum PK2an itu? Atau “aah, yang penting dapet duitnya dulu”

    Kalau memang mau berkiprah di luar, cari dong beasiswa yang bukan dari uang negara. Banyak kok. Susah? Persaingan ketat? Ya itu wajar, namanya juga dibayarin untuk belajar & ga ada embel2 harus “mengabdi” setelahnya. Jangan mau enaknya doang, pas diminta untuk melakukan yang sudah anda janjikan, banyak ngelesnya.

    Like

  10. Halo mas Aldo,

    Saya suka sekali membaca tulisanmu dan benar sekali apa yang terjadi dengan beberapa temen yang menerima LPDP. Mereka memilih ingin lanjut kerja disana, dengan berbagai alasan masih banyak ilmu yg bisa diambil untuk kerja di luar. Namun, saya sebagai bukan penerima LPDP tapi sangat cinta indonesia sangat sedih mendengarnya. Saya sangat ingin mendapat LPDP u/tdk membebani ortu, namun ipk yg super mepet ke angka 3, membuat sangat sulit untuk daftar sekarang. Walaupun harus ada LOA, tapi tujuan n kampus yg sulit membuat perlu 1 thn u/apply dan kalau mengurus LPDP 1 thn lg, saya merasa ada 1 thn lg yg terhambat/hilang dimana bs lbh baik digunakan untuk langsung sekolah. Mungkin ini berbeda dari masalah org2 lainnya. Tetapi, hasrat saya ingin memajukan bangsa dan LPDP memfasilitasi ini terkadang tetap masih bentrok dengan alasan klise yaitu nilai ipk kurang tinggi dan ini saya sudah tidak memiliki kuasa apapun untuk mengubah. Harapan saya didepan adalah Indonesia bisa maju, sukses, dan terbuka melihat bahwa kesuksesan tidak diukur dengan prestasi pendidikan (IPK) semata.

    Terima Kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s