Rindu

Kalo ini, anak Pogung pasti tau: tempatnya didominasi warna ijo, deket Circle K Jakal yang 24 jam, …” – Rizaldi Iswandrata.

Gotri. Kami sedang membicarakan tentang Gotri, salah satu rumah makan yang sangat memanjakan warga Yogyakarta khususnya mahasiswa. Menawarkan ragam menu makanan dengan harga yang terjangkau, Gotri juga menyediakan layanan delivery alias mengantarkan makanan dan minuman yang anda pesan ke alamat yang anda inginkan. Pelayanan yang sangat digemari mahasiswa yang “males gerak” seperti saya.

Sebelum anda memutuskan untuk membaca tulisan ini lebih jauh lagi, ada baiknya jika anda melakukannya sambil mendengarkan salah satu karya gemilang dari grup musik Float yang berjudul Sementara, melalui fitur di bawah ini:

Berbicara tentang Yogyakarta memang tiada habisnya. Selalu ada cerita di setiap sudut Kota Pelajar tersebut. Bagi saya dan beberapa teman saya yang pernah menghabiskan waktu cukup lama di Yogyakarta, gemerlap lampu di kala malam, kemacetan di Jalan Kaliurang, sapaan Gunung Merapi di kala pagi, hingga penggunaan arah mata angin sebagai penunjuk arah menyimpan makna tersendiri nan istimewa. Utara, timur, selatan, dan barat menjadi pertanda akan letak suatu makna, bukan semata indeks mata angin seperti yang tertera di Atlas pada umumnya.

Perbincangan saya dengan Zaldi – sapaan akrab dari Rizaldi Iswandrata – dan Dea – teman satu rumah kami yang bernama lengkap Yohana Deatri – sendiri dimulai melalui reminisensi kami akan masa-masa S1 di Yogyakarta. Saya membuka pembicaraan dengan melontarkan tebak-tebakan nama distrik yang tersebar di kota ini.

Dulu Float pernah manggung di itu lho, Zal, bunderan UGM ke arah selatan kan ada hotel tuh. Yang seberangnya sop kaki kambing. Apa sih ya nama daerahnya?

Indraloka!”, sahut Dea.

Bermula dari sana, Zaldi kemudian mulai memberikan teka-teki yang lain.

Nasi goreng sampingnya Maharasa??

Bu Ita! Seafood Bu Ita!”, jawab saya semangat.

Perbincangan kemudian berlanjut, tidak lama, bahkan kurang dari sepuluh menit, hingga sampailah kami pada tebak-tebakan soal Gotri. Dan sampai di saat membicarakan Gotri inilah saya tertawa dan tanpa disadari menitihkan air mata.

Ya, saya rindu Yogyakarta.

Mungkin ketika anda membaca tulisan ini, anda akan merasa reaksi saya terlalu hiperbolik; bahwa tutur emosi saya terlalu berlebihan mengingat topik yang saat itu sedang dibicarakan tidak lebih dari sekedar rumah makan. Atau anda tentu saja dapat mengklaim bahwa saya seorang romantisis: memberikan apresiasi yang begitu dalam terhadap sesuatu bahkan mungkin terlalu “dalam”. Persepsi itu saya serahkan sepenuhnya kepada anda. Namun, satu hal yang pasti adalah bagaimana saat ini saya merindukan detil-detil kecil dari Yogyakarta.

Saya merindukan Goa Maria Sendangsono. Goa Maria yang terletak di daerah Kulon Progo ini sangat sedikit diketahui oleh rekan-rekan saya. Saya sendiri baru mengetahuinya kala menyaksikan film 3 Hari untuk Selamanya karya Riri Riza. Saat itu saya mengunjunginya dengan dua orang teman saya, Dine Chandra dan Karina Saraswati.

(Photo credit: sendangsono.info)
(Photo credit: sendangsono.info)

Satu hal yang sangat saya kagumi dari tempat ini adalah atmosfer ketentraman yang ditawarkannya. Saya bukan penganut kepercayaan Katolik. Tidak juga saya mengerti sejarah dan cerita dibalik terciptanya Goa Maria. Namun Goa Maria Sendangsono benar-benar berhasil menyentuh sisi romantisis dari diri saya. Landskap yang dikelilingi oleh kerindangan pohon Beringin dan selimut embun di pagi hari akan memastikan sesi kontemplasi yang menyenangkan. Terlepas dari apapun kepercayaan anda dan bagaimana anda melafalkan nama Tuhan, setiap manusia memerlukan momen privatnya masing-masing.

Saya merindukan Gereja Ganjuran. Mungkin pada titik ini anda akan mulai mempertanyakan keimanan saya sebagai seorang Muslim. Namun, lagi-lagi, Gereja Ganjuran akan memperkenalkan kepada anda makna yang berbeda dari ketenteraman. Jika tadi saya merekomendasikan anda untuk mengunjungi Goa Maria Sendangsono di awal pagi, tatkala kabut masih menyelimuti tempat tersebut, waktu yang berbeda akan saya rekomendasikan jika anda ingin berkunjung ke Gereja Ganjuran.

Datanglah dikala malam hari. Dikala matahari sedang beranjak sejenak dari Yogyakarta, kemudian bulan datang menggantikan. Pastikan anda mengunjunginya ketika langit sudah hitam pekat; bukan di masa peralihan ketika matahari sedang tenggelam, apa lagi di sore hari. Sesampainya disana, anda akan melihat kemegahan Candi Hati Kudus Yesus, sebuah candi yang terletak persis di samping altar gereja dan ditemani oleh sinaran lampu yang berhasil membuat saya berdecak kagum dalam diam. Pihak gereja menyediakan tempat duduk bagi para jemaat dan saran saya: duduklah. Diam dan kagumi apa yang Tuhan telah letakkan, dengan segala kesempurnaan, di salah satu sudut kota Yogyakarta itu.

(Photo credit: kotajogja.com)
(Photo credit: kotajogja.com)

Saya merindukan momen dimana saya dapat mengemudi di pagi buta hanya untuk melihat matahari terbit dari Punthuk Setumbu. Ketika hati dan pikiran tidak bergerak sejalan, ketika terlalu banyak buah pikiran yang pada akhirnya menyumbat rasio dan waktu istirahat, saya hanya perlu mengambil kunci mobil dan berjalan ke arah Candi Borobudur. Sesampainya di dekat hotel Manohara, saya hanya perlu berjalan ke selatan dan kemudian belok ke barat untuk sampai di Punthuk Setumbu. Ganjarannya? Saya dapat melihat kemegahan Candi Borobudur dengan berlatar belakang matahari terbit. Dan menurut saya, itu sudah lebih dari cukup.

Dahulu banyak rekan saya yang bilang bahwa jika seseorang mengabadikan momen di Tugu Yogyakarta, maka orang tersebut pasti akan kembali ke Yogyakarta. Namun hingga saat ini saya belum pernah menjadikan Tugu Yogyakarta sebagai latar belakang foto saya. Hingga kini, belum ada niatan sedikitpun untuk menjadikan Tugu Yogyakarta sebagai kiblat agar saya kembali ke Yogyakarta. Mengapa?

Karena menurut saya, Yogyakarta lebih dari itu.

Motivasi saya untuk kembali ke Yogyakarta bukan – dan sepertinya tidak akan pernah – dilatarbelakangi oleh takhayul akan keajaiban Tugu Yogyakarta semata. Saya tidak ingin kembali ke Yogyakarta hanya karena mental saya terkapitulasi pasca mengabadikan momen disana.

Saya akan kembali ke Yogyakarta karena cerita di dalamnya. Saya akan kembali karena cerita yang pernah saya rangkai selama kurang lebih tiga tahun tinggal disana. Saya ingin kembali karena alasan reminisensi kepada masa lalu, mengapresiasi perkembangan Yogyakarta kontemporer, dan berangan akan keindahan Yogyakarta di masa mendatang. Saya akan datang ke Yogyakarta untuk melihat dan mengingat Gotri, dan bagaimana perkembangan zaman merelokasinya. Saya akan datang ke Yogyakarta untuk melihat kelekangan Goa Maria Sendangsono dan Gereja Ganjuran terhadap globalisasi; saya ingin menikmati perpaduan kemajuan zaman dengan nilai-nilai tradisional yang disimbolisasi oleh kedua tempat ini.

Saya akan pulang ke Yogyakarta karena saya rindu. Ya, saya rindu Yogyakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s