Menyapa Teman Lama

Gerald Mollenhorst, seorang sosiolog dari Utrecth University, pernah melakukan penelitian tentang pertemanan (friendship). Salah satu kesimpulan yang Mollenhorst dapatkan dari penelitiannya adalah bahwa cukup banyak hubungan pertemanan yang tidak dapat bertahan dikarenakan individu yang terkait tidak lagi tumbuh dalam suatu konteks yang sama. Ketika berbicara tentang konteks, yang dimaksud oleh Mollenhorst adalah konteks sosial dimana individu atau kelompok pertemanan tersebut dipersatukan pertama kalinya seperti sekolah, tempat kerja, tempat tinggal, dan lain-lain. Jadi lingkaran pertemanan dapat dipertahankan bukan karena preferensi masing-masing anggota di dalamnya, namun ditentukan oleh relevansi kelompok tersebut terhadap konteks sosial yang ada.

Namun, apakah konteks sosial merupakan faktor yang paling determinan dan satu-satunya?

tumblr_inline_mwxvy3NKgk1qebcl8

Saya memiliki setidaknya satu lingkaran pertemanan yang saya jaga hingga kini. Saya cukup yakin bahwa lingkaran ini saya pertahankan atas preferensi pribadi dan (mungkin) konteks sosial; bukan hanya salah satu diantara kedua faktor tersebut. Sehingga, sampai sejauh ini saja, kesimpulan Mollenhorst sudah tidak relevan untuk mendeskripsikan hubungan saya dengan keluarga kedua saya ini.

Ketika berbicara tentang “keluarga kedua” ini, saya mengacu kepada teman-teman saya sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dahulu. Secara konteks sosial, kami dipersatukan karena kami menuntut ilmu di satu SMP yang sama yakni SMPN 109 Jakarta. Kami juga dipersatukan karena kami sama-sama aktif dalam ekstrakulikuler bola basket. Sejak saat itulah, demi kemudahan mengkodifikasi, kami menyebut diri kami ABAS yang merupakan singkatan dari Anak Basket. Saya juga berusaha mempertahankan lingkaran pertemanan ini atas preferensi pribadi. Menurut saya, pola komunikasi yang terjalin dan berkembang diantara kami sangat cocok antara satu dengan yang lainnya. Lebih jauh lagi, masing-masing keluarga kami telah menganggap anggota ABAS sebagai anggota keluarga mereka masing-masing: nyokap lo ya nyokap gue, bokap lo ya bokap gue, dan seterusnya.

Hingga kini, sudah sebelas tahun kita menjadi keluarga. Tempat masing-masing dari kami untuk “pulang” ketika kami sudah terlalu lama berkelana. Namun, tidak selamanya pula anggota kami utuh dan bertahan sejak awal perjalanan – setidaknya bagi saya secara pribadi.

Awalnya kami beranggotakan 12 orang. Angka tersebut muncul akibat dahulu, dalam satu tim basket, diwajibkan setidaknya terdapat 12 orang pemain. Namun bagi saya, ABAS kini hanya terdiri dari 11 pemain saja.

Dalam risetnya, Mollenhorst berargumen bahwa apabila suatu pertemanan telah bertahan selama setidaknya tujuh tahun, maka kelompok pertemanan tersebut akan dapat bertahan untuk selamanya. Teruntuk ABAS, saya pun menginginkan bahwa hubungan kami dapat bertahan selama mungkin. Namun sejak awal saya memang telah memberikan satu persyaratan: do not mess with my family. Saya berusaha keras untuk membuat hubungan keluarga saya dengan ABAS begitu terbuka dan personal. Namun, saya tetap memberikan batasan bagi apa yang saya maksud dengan ‘terbuka’ dan ‘personal’ itu sendiri.

Singkat cerita, salah seorang dari kami melanggar pakta tersebut dan saya bukanlah seseorang yang takut untuk kehilangan seseorang apabila kepercayaan yang saya berikan telah diingkari.

5D2ll

Pasalnya begini, setiap manusia pasti memiliki standar tersendiri untuk menilai manusia yang lain. David Hume menyebutnya sebagai ‘norma’. Menurut Hume, norma dapat mendefinisikan hak kepemilikan, yakni siapa berhak atas apa. Sehingga norma dapat digunakan untuk membentuk rasa kewajiban (obligation) seseorang untuk keluarganya; atau norma dapat pula menentukan makna dari setiap kata ataupun rangkaian kata. Jika definisi Hume terlalu sulit untuk dimengerti, maka saya yakin anda akan lebih memahami konteks yang dimaksud jika saya menyebutnya sebagai ‘ekspektasi’.

Mads Borup mendefinisikan ekspektasi sebagai:

Expectations are foundational in the coordination of different actor communities and groups (horizontal co-ordination) and also mediate between different scales or levels of organization (micro, meso, and macro-vertical co-ordination). They also change over time in response and adaptation to new conditions or emergent problems (temporal coordination)”.

Sederhananya, jika anda memperhatikan definisi tersebut secara seksama, ekspektasi dapat digunakan untuk mengkoordinasi aktor-aktor yang berbeda dan juga menengahi tingkat hubungan yang berbeda. Artinya, demi mengkoordinasi dan menengahi kelompok-kelompok tersebut diperlukan fondasi yang kuat dan pemahaman yang sama. Pemahaman tersebut dapat diperoleh melalui ekspektasi. Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa pemahaman akan ekspektasi menjadi begitu penting?

Menurut Koichi Hasegawa, Chika Shinohara, dan Jeffrey Broadbent, ekspektasi dapat diartikan sebagai harapan. Harapan yang dimaksud adalah bagaimana masyarakat pada umumnya mengharapkan individu di dalamnya untuk berperilaku. Mereka menyebutkan:

Social expectation is the general mood of a society about what people should do: the spirit of the times (zeitgeist in German), or in Japanese, related to the kuuki (atmosphere, e.g., Yamamoto, 1977), ikioi (impetus, e.g., Maruyama, 1972), or nagare (current stream). The concept of ‘social expectation’ also relates to Bourdieu’s (1979, 1980) concept of the habitus—the general normative expectations that a citizen takes for granted as the way to live one’s life. Similarly, Habermas’ (1989) idea of the ‘pubic sphere’ also relates to ‘social expectation’. It is the space—the place or medium—for the formation of public opinion and social agreement through collective discussion”.

Melihat beberapa definisi di atas, maka menurut saya ekspektasi seorang manusia kepada manusia lainnya dapat memiliki dua potensi. Pertama, ekspektasi dapat mendorong kerjasama seperti yang didefinisikan oleh Borup. Atau, kedua, ekspektasi dapat menjadi faktor yang justru mengecewakan anda. Dengan demikian, ketika Mollenhorst menggunakan lingkaran pertemanan sebagai objek studinya dan berkata bahwa lingkaran pertemanan dapat bertahan atau tercerai tergantung pada konteks sosialnya, maka menurut saya faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah ekspektasi antar individu di dalam lingkaran pertemanan tersebut. Sederhananya, ekspektasi adalah pisau bermata dua.

Sejak hari di mana saya merasa diingkari oleh salah seorang teman karib saya tersebut, hingga hari ini saya belum sempat menjelaskan rasionalisasi saya akan alasan dibalik lunturnya hubungan pertemanan kami. Tidak sempat (dan cenderung enggan) saya untuk kembali menjalin komunikasi untuk menjelaskan posisi saya kepadanya. Hingga saat ini saya masih merasa bahwa akan lebih baik jika saya diam, menjaga jarak, dan melanjutkan hidup saya. Afterall, the majority of us – people – will grow apart anyway.

Namun tidak untuk hari ini. Hari ini saya memilih untuk melawan keberatan hati saya untuk menjelaskan betapa pentingnya norma, harapan, ekspektasi, dan kepercayaan. Saya menuliskan artikel ini untuk seorang teman yang sangat saya kasihi sebagai seorang individu dan sudah sangat saya cintai selayaknya keluarga. Namun bagaimanapun, semesta memiliki cara yang lucu untuk mempertemukan dan memisahkan manusia. And it seems like we do have to grow in our own, seperate way.

tumblr_mfd33nqfvY1rijbg1o1_500

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s