Hai.

Hai, Tuhan. Udah lama kita ngga ngobrol.

Pertama-tama, maafin saya karena udah lama banget ngga menyapa-Mu. Maaf karena saya males banget untuk menjalankan ritual-ritual wajib yang sudah Engkau tetapkan. Maaf juga karena saya jadi manusia yang ngga tau diuntung; maafkan karena saya lebih sering mendekati larangan-Mu daripada menjauhinya.

Tapi bukan berarti saya ngga rindu sama diri-Mu kok, Tuhan. In fact, I miss you so much.

Saya ngga tau kenapa sekarang-sekarang ini saya belum mau mendekatkan diri ke Kamu, Tuhan. Menggunakan kata “males” sebagai alesan menurut saya terlalu menyederhanakan jarak yang memisahkan kita ini. Terlalu kompleks untuk dijelaskan melalui tulisan, Tuhan. Tapi saya yakin Kamu lebih mengerti apa yang saya rasakan karena Kamu adalah zat Maha Tahu.

Saya mau ngobrol banyak, Tuhan. Saya mau cerita banyak hal yang saya bingung mau ceritain ke siapa. Saya ngga bisa cerita ini ke orang tua saya karena saya takut mereka khawatir. Saya ngga juga bisa melampiaskan semua hal, seratus persen, ke sahabat saya karena dia pun memiliki kesibukannya sendiri. Saya cuma bisa lari pagi dan menimbun kepala saya dengan banyak pertanyaan yang ngga terjawab, Tuhan. And at this point, I’m quite exhausted.

Kemarin saya buka blog temen saya, Tuhan. Nama temen saya Ario Wirawan sama satu lagi Azarine Kyla. Saya baca salah satu tulisannya Ario tentang mendiang neneknya dan tulisan Rinta tentang mendiang ayahnya. Setelah baca tulisannya, saya jadi kangen Uti, Tuhan. Uti apa kabar disana, Tuhan? Is she okay? Tolong jaga nenek saya, nenek temen saya, ayah temen saya, dan semua calon penghuni surga-Mu ya, Tuhan.

Tolong sampaikan juga ke Uti bahwa saya kangen, Tuhan. Tolong banget. Ngga kerasa udah dua tahun beliau pergi. Dan dalam dua tahun terakhir pula saya selalu dirundung penyesalan, Tuhan. Saya menyesal karena di hari kepergiannya, saya masih aja sibuk ngurusin hal-hal duniawi di Yogyakarta. Saya menyesal dengan kenyataan bahwa saya ngga bisa ada disampingnya, di hari-hari terakhirnya di dunia ini.

Saya menyesal karena sebagai cucu pertama dan yang tertua di keluarga saya, saya ngga berhasil mewujudkan mimpi beliau untuk punya keluarga yang akur. Saya ngga berhasil mempersatukan ibu saya dan adik-adiknya. Saya gagal mempersatukan diri saya dengan adik-adik sepupu saya. Saya gagal untuk memenuhi keinginan Uti untuk punya foto keluarga bareng, yang lengkap tanpa kurang satu personil pun. Saya nyesel, Tuhan. Saya nyesel.

Tapi tenang aja, Tuhan. Saya berusaha keras banget untuk selalu melindungi adik-adik saya. Saya udah ngeliat banyak banget kejadian buruk yang menimpa keluarga besar saya. Dari situ saya belajar bahwa hubungan saya dan adik-adik sepupu saya harus lebih positif dari itu semua. Bantu saya ya, Tuhan.

Oh iya, sedikit lagi saya di wisuda nih, Tuhan. Rencananya ibu, adik, dan seorang sahabat saya akan dateng untuk lihat langsung prosesi wisuda saya. Tolong lancarkan semuanya ya, Tuhan. Mulai dari pengurusan visa, perjalanan mereka kesini, hingga nanti sepulangnya kami ke Tanah Air. Semoga pertemuan kami nanti ngga dipenuhi sama berantem-berantem ya, Tuhan. Amin.

Adik saya juga udah gede nih, Tuhan. Adik Putri yang dulu masih suka saya cium-cium, peluk-peluk sesuka hati, saya gigit pipinya sampe nangis, sekarang udah kenal artinya “galau” nih, Tuhan. Saya sebagai kakak bingung harus gimana. Saya bingung, rada geli, tapi berusaha memahami nih fase kehidupan yang lagi dia lalui. Kenapa? Soalnya dia update status di LINE yang berhubungan dengan cinta dan afeksi gitu, Tuhan.

Wajar mungkin mengingat bahwa adik saya sudah kelas 7 saat ini. Saya yakin dulu saya juga begitu (bahkan lebih parah lagi). Tapi saya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa, mungkin, adik saya sudah mulai mengenal konsep pacaran, Tuhan. But despite all of that, I still love her very much. Jadi, tolong bantu saya untuk jadi sosok kakak yang asyik ya, Tuhan.

Saya juga mulai dihantui oleh tuntutan umum agar segera mendapatkan pekerjaan, Tuhan. Orang tua mulai bertanya saya sudah mendaftarkan diri kemana saja, temen-temen saya update Facebook atau Path dengan foto lingkungan kerja mereka, belum lagi yang update status tentang gimana setelah mereka lulus S2 sudah banyak perusahaan yang mengantri untuk hire mereka. Ngelihat pencapaian mereka, jujur, saya jadi berasa culun, Tuhan. Saya belum menyiapkan apapun untuk memasuki dunia pekerjaan, Tuhan. Saya mau beristirahat sejenak, melepas rindu sama keluarga dan Indonesia, baru setelahnya mencari kerja. I deseperately want some quality time with Indonesia and its people, God. But will the society understand me? Will you allow me to do so?

In the meantime, I am currently embracing and appreciating life so much, Tuhan. During the past month, I learned more about loss compared to the whole year I’ve been living in Manchester. My stubbornness, my emphaty, my selfishness, my affection, they cost me nearly too much. I lost a friend of mine, Tuhan. A really dear friend of mine. Please help me to cope up with this, Tuhan.

Hari ini, pagi nanti, saya akan jalan-jalan sama temen-temen rumah saya, Tuhan. Kita bakal ke Cardiff, Bristol, Bath, dan kota-kota lain di selatan Inggris. Tapi kita bakal menutup perjalanan kita di Lake District, Tuhan. Tolong lindungi kami dalam perjalanan ini ya, Tuhan. Semoga ngga lagi terulang tragedi yang dulu menimpa teteh Elingselasri di Ardnamurchan Lighthouse. Lindungi teh Eling dalam setiap langkahnya, Tuhan. Sama tolong lindungi kami juga dalam perjalanan kami selama seminggu ke depan.

Well, I think that’s it for today, Tuhan. Sorry for asking too much. Terkadang saya ngerasa saya mungkin pantas dikasih predikat sebagai “Hamba-Mu yang Paling Tidak Tahu Diri”. Kenapa? Karena saya ngilang, ngga pernah ada kabar, dan Cuma menghampiri Kamu saat membutuhkan aja. Egois ya, Tuhan? But despite of all that, I still believe that somehow, somewhen, I’ll get myself back on Your track.

Oh iya, Tuhan. Ada satu lagi. Beberapa hari lalu saya ke Durham. Disana saya ngeliat festival yang namanya Lumiere. Itu tuh semacam festival lampu gitu, Tuhan. Bagus banget. Salah satu ­venue-nya itu adalah Durham Cathedral. Di dalam gereja itu, saya sempat menyapa-Mu sebentar, Tuhan. Mungkin tempat saya menyapa Kamu tidaklah tepat, Tuhan. Maafkan saya untuk itu. But, if You are really what they say You are, I just want You to help me, Tuhan. I don’t know what to do with my life.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s