How to Save a Life

Hari ini saya bertemu dengan seorang teman. Teman saya ini adalah tipikal seorang teman yang, sepertinya, masing-masing dari anda miliki. Seseorang yang tidak anda kenal terlalu dalam namun anda menyadari bahwa dari waktu ke wakatu anda tidak akan ragu untuk kembali bertemu, menceritakan kisah hidup anda, sambil terus berusaha memahaminya lebih dekat. Seorang teman yang begitu misterius namun anda tidak pernah bosan untuk mengajaknya bersenang-senang atau menceritakan kepadanya perihal kisah cinta anda dengan seseorang yang tumbuh dan tenggelam. Dan dia akan selalu, dengan tenang, mendengarkan seluruh keluh kesah anda.

Hari ini saya menyapa seorang teman bernama Laut. Setelah sekian lama hanya berpapasan, tanpa adanya suatu momen yang mengizinkan kami berdua berkomunikasi, pada akhirnya hari ini kami bertegur sapa. Atau lebih tepatnya, saya yang menyapanya. Saya yang menceritakan kepadanya tentang kehidupan saya sejauh ini; tentang kehidupan saya pasca Laut mencoba menelan seorang teman saya hidup-hidup.

Saya bertemu Laut di bibir pantai Tentagel. Di bawah tebing curam, di tempat kelahiran Raja Arthur. Saya mendengar suaranya dari jauh, memandangnya dari ketinggian tebing, sebelum memutuskan untuk benar-benar menyapanya. Awalnya saya takut. Saya mengira Laut masih marah setelah apa yang terjadi musim dingin yang lalu. Pasca saya mempermalukannya dengan cara yang sama sekali tidak manusiawi dan, sebagai balasannya, dia mencoba mengambil teman saya. Seorang teman yang saat itu tidak melontarkan hinaan sama sekali kepada Laut, hanya saja Ia berada di tempat dan waktu yang salah. Laut kemudian menyanderanya untuk sesaat, secara diam-diam, dan tanpa peringatan apapun. Sempat beberapa detik saya mengira saya akan kehilangan seorang teman untuk selama-lamanya. Sempat imajinasi buruk akan kematian menghampiri diri saya. Sempat saya hampir merelakan seorang teman saya yang bernama Elingselasri untuk pergi selama-lamanya.

Sebelum akhirnya Laut melepaskan Eling. Laut seraya mengetahui bahwa hidup saya akan menjadi sangat berantakan jika seorang teman saya dibunuh oleh teman saya yang lain. Puji Tuhan Eling masih hidup hingga hari ini. Namun setelah hari itu, hubungan saya dengan Laut tidak lagi sama.

Tidak lagi saya berani berkomunikasi dengannya. Untuk melirik saja saya takut. Saya hanya berani memandang dari kejauhan aktivitas yang sedang dilaluinya. Ketika Ia terlihat marah atau ketika rautnya memancarkan ketenangan abadi, tidak ada beda untuk saya. Saya telah melampaui suatu batas pertemanan yang seharusnya tidak saya lalui maka hanyalah wajar apabila saya mendulang akibatnya.

Hubungan kami hingga sore tadi selayaknya Tom Hansen yang menghadiri hari perayaan ulang tahun Summer Finn dalam film 500 Days of Summer: saya yang selalu berharap bahwa hubungan kami seharusnya baik-baik saja, dipenuhi senyuman, menyediakan kenyamanan bagi satu sama lain, dan bahagia. Namun kenyataan berkata lain. Laut melanjutkan hidupnya sementara saya mengkhayalkan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Namun entah mengapa, sore tadi saya menolak skenario hubungan Tom Hansen dengan Summer Finn yang diakhiri dengan keduanya saling menemukan kebahagiaannya masing-masing: Tom bertemu Autumn dan Summer menikahi laki-laki lain. Saya ingin hubungan saya dengan Laut kembali seperti dahulu. Saya ingin dapat kembali bercerita kepada Laut. Saya ingin menghormatinya. Saya ingin menyelaminya lebih dalam sambil secara konsisten menyimpan rasa takut akan misteri yang Ia simpan. Saya ingin teman saya kembali.

Maka melangkahlah saya turun untuk menyapa Laut.

Hai,” saya menyapa sambil menawarkan tangan saya. Laut menggenggamnya kemudian. Disitu saya berdoa kepada Tuhan dan saya meminta kepada Laut.

I’m sorry. Maafin gue. Gue ga tau gue mikir apa waktu itu dan gue minta maaf. Ga seharusnya gue bercanda kayak gitu. Ga seharusnya, dalam kondisi apapun, gue ngeremehin lo. Please, please accept my apology.”

Saya kemudian bilang, “But please, balesan lo ngga lucu. Never ever again try to take my one of my friends. Even if it’s for your fun’s sake, I’m telling you it’s not funny. Okay?

Baikan ya kita. Ayo bertemen lagi,” tutup saya sebelum teman-teman saya yang lain datang menghampiri.

Teruntuk Eling, salam dari Laut yang sama, yang mencoba mengambil lo musim dingin lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s