Omong Kosong

Atur skala prioritas kamu, dek!

Penggalan kalimat di atas berulang kali ditekankan oleh para pengurus OSIS SMAN 61 Jakarta kepada para calon pengurus OSIS yang baru. Di saat saya dan beberapa teman saya yang lain memiliki mimpi untuk menjadi pengurus OSIS, skala prioritas adalah jargon utama yang diberikan oleh para pendahulu kami agar kelak, di masa kepengurusan kami, OSIS SMAN 61 Jakarta dapat menjadi organisasi yang lebih baik dari tahun-tahun kepengurusan sebelumnya. Rumusnya sangat sederhana: skala prioritas akan membuahkan kesuksesan. Tidak ada ruang bagi keraguan, tidak ada tempat bagi sesuatu yang tidak penting.

Setidaknya hal tersebut saya aplikasikan tidak hanya di dalam ranah profesional, namun juga kehidupan personal saya. Sedari SMA dahulu, maka dapat saya jamin bahwa secara konsisten saya selalu menentukan skala prioritas. Segala kemauan, segala hasrat, segala keinginan, saya sortir berdasarkan urgensi dan tingkat kepentingan.

Setelah ini, belajar mati-matian demi masuk HI UGM.”

Cum laude. Please, cum laude.”

Jadi calon Ketua KOMAHI. Pasti bisa.”

Sarjana kurang dari empat tahun.”

Langsung lanjut S2.”

Dan seterusnya. Setidaknya ketika kehidupan masih (secara relatif) begitu sederhana.

Sayangnya saat ini kehidupan saya meruang, membuka jaraknya melebihi diri saya sendiri. Tidak lagi saya disibukkan untuk memikirkan diri saya sendiri secara egois, namun saya harus pula memikirkan kehidupan yang melingkupi saya. Saya harus memikirkan orang tua saya yang tidak lagi muda, sahabat saya yang selalu merelakan kepentingan pribadinya demi mendukung segala keputusan saya, adik saya yang tumbuh dewasa tanpa kehadiran seorang kakak yang ia impikan, hingga utopia saya akan kebergunaan bagi masyarakat sekitar. Saat ini rasanya semua hal menjadi faktor determinan. Semua penting.

Sahabat saya, tempat saya mencurahkan segala keluh kesah, segala kegalauan, keraguan, dan pesimisme hidup mengetahui persis apa yang berotasi di dalam kepala saya saat ini. Ia tahu betul ketakutan saya menghadapi dunia kerja. Ia paham seluk beluk keinginan saya untuk memiliki suatu proyek sosial yang (mungkin) dapat berguna bagi masyarakat luas. Ia mengerti perihal rasa iri saya terhadap mereka yang memiliki kehormatan (privilege) untuk melanjutkan S3 di universitas ternama. Ia melihat utopia yang saya lihat, yang mayoritas berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan. Ia tahu akan adanya jurang pemisah yang sangat besar antara mimpi saya dengan kenyataan yang ada. Dan ketika saya menceritakan secercah kegelisahan saya hari ini, sahabat saya berkata:

You need to sort out your priority.”

Saya kemudian berbincang dengan seorang teman saya yang bernama Ilham Maulana. Kami sama-sama memiliki mimpi. Kami sama-sama memiliki ambisi. Kami menolak untuk dicap sebagai seseorang yang ‘ambisius’ dengan segala penyempitan makna di dalamnya, namun kami jelas memiliki mimpi-mimpi besar. Kekhawatiran kami sama persis. Benar-benar, secara harfiah, sama persis: kami takut kami tidak menjadi ‘apa-apa’.

Kami tidak lahir dan tumbuh dengan karpet merah yang dipersiapkan oleh jerih payah kedua orang tua kami. Kami tidak terlahir untuk melanjutkan dinasti kecil milik keluarga kami. Kami tidak dibesarkan dengan mimpi-mimpi indah akan kekayaan yang menanti kami di ujung jalan dan tidak juga kami pernah dijanjikan akan kehidupan yang serba mudah di hari tua nanti. Kami dibesarkan dengan kondisi keluarga yang jauh lebih kompleks dari itu. Saya dan Ilham masih harus berjalan dan menentukan pilihan: apakah kami akan terus melenggang santai atau meninggalkan jejak untuk penerus kami kelak. Hidup kami bahkan belum dimulai.

Saya kemudian melihat ke sekitar saya. Saya melihat dua orang pemudi Indonesia yang saat ini sedang menuntut ilmu di Cambridge University, salah satu universitas terbaik di dunia. Yang satu meraih beasiswa dibidang Ilmu Kesehatan dan yang lainnya telah memiliki dua gelar Master dan saat ini tengah mengambil PhD (dan masih berusia 23 tahun).

Saya?

Bukan tidak bersyukur, namun setelah menolehkan kepala saya sejenak, saya menyadari bahwa saya tidak lebih dari partikel yang hampir tak terlihat di alam semesta yang begitu besar ini.

Everyone’s special.”

Follow your passion.”

Be optimistic.”

Semua itu omong kosong. Setidaknya untuk saat ini. Setidaknya untuk saya.

Maaf ya, Tuhan, kalau saya terkesan pesimis; kalau saya terkesan mempertanyakan kuasa-Mu. Mungkin saya lelah, mungkin saya kebanyakan pikiran, atau mungkin saya emang ngga akan jadi ‘apa-apa’. Kamu lebih paham dan saya yakin itu. Mungkin saya perlu rehat dari kehidupan ini dan lebih mendekatkan diri ke Kamu. Mungkin.

Advertisements

2 thoughts on “Omong Kosong

  1. You’re lost because you know that there is more inside of you than what you’re currently offering the world and that is a brilliant thing to know.

    At 23, JK Rowling was broke. Tina Fey was working at the Y.M.C.A. Oprah had just gotten fired from her first job as a TV reporter and Walt Disney had declared bankruptcy. None of these wildly successful individuals could have predicted what was in store for them next but the one thing they all had in common was that they knew that there was more to them than what they were doing at the time. And that’s what you have in common with them, too. You know that there’s a bigger, better version of yourself to bring to life. You just haven’t gotten there yet.

    http://thoughtcatalog.com/heidi-priebe/2015/04/read-this-if-youre-23-and-lost/

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s