Ketua Dua

Terdapat seorang perempuan yang, berkat segala jerih payahnya, sangat saya percayai. Dia bukanlah seorang teman yang mendapatkan kepercayaan saya tanpa suatu syarat pun. Dia bukan seorang teman yang tanpa ragu saya berikan nomor pin kartu debit saya, apa lagi rahasia tergelap saya yang saya simpan dengan sangat eksklusif.

Perempuan ini patut berterima kasih kepada dirinya sendiri karena telah berhasil mendapatkan kepercayaan saya. Perempuan yang satu ini patut berterima kasih kepada caranya memandang suatu permasalahan serta metodenya dalam mencoba menyelesaikan segala permasalahan tersebut. Atribut profesionalnya seperti komitmen, kerja keras, serta ketulusan adalah tiga hal yang paling saya kagumi sejak SMA hingga kini. Setidaknya ketiga atribut itulah yang mengawali rasa percaya saya kepada seorang Suci Utami Nurwidia.

Menurut saya, awal kedekatan kami dimulai saat kami sama-sama mendaftarkan diri menjadi Calon Pengurus OSIS (Capsis) SMAN 61 Jakarta. Selama kurang lebih tiga bulan masa pendidikan, saya dengan seksama – dan sepertinya tanpa disadari – memperhatikan perilaku serta sifat dasar rekan-rekan saya, salah satunya Suci. Selama tiga bulan tersebut, Suci menunjukan dedikasi yang sangat tinggi untuk menjadi pengurus OSIS. Suci berhasil membalut ambisi yang ia miliki dengan ketenangan. Ia berhasil membungkus amarah dengan kain bernama kerja sama. Pada saat itu, Suci – yang notabene merupakan calon ‘original’ Ketua OSIS – menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh calon yang lain.

Namun, terlepas dari kerja kerasnya, menurut saya Suci adalah epitome kelembutan. Berbeda dengan pribadi saya yang keras, Suci memberikan sosok pemimpin perempuan yang mampu membaurkan api dan ketenangan dalam waktu yang bersamaan. Suci akan menjadi tempat rekan-rekan saya untuk ‘pulang’ ketika komunikasi dengan saya sudah tidak lagi kondusif. Suci adalah safehouse; dia – dan Noor Muhammad Aziz tentu saja – adalah komposisi yang menyempurnakan OSIS di tahun kami.

Namun kelembutan itu tidak berhenti sampai kami melepaskan jabatan kami. Kelembutan itu lebih terlihat ketika saya berinteraksi secara personal dengannya. Kelembutan itu tidak menonjol ketika kami mengalokasikan pendanaan, merumuskan program kerja, rapat, atau mencari sponsor kesana kemari. Sifat tersebut terlihat ketika saya mulai limbung akan esensi kepercayaan, relevansi agama, atau eksistensi Tuhan. Suci selalu berhasil menyediakan pandangan alternatif bagi saya yang bebal ini. Sejauh ini, dia belum pernah gagal.

Jujur, ada masa dimana saya cukup takut (bahkan cenderung malas) untuk menginisiasi kontak dengan Suci. Saya takut jarak yang memisahkan saya dengan Tuhan membuat Suci menilai saya sebagai seorang infidel; seorang kafir. Mengapa? Karena secara konsisten Suci selalu mengingatkan saya bahwa terdapat kekuatan yang lebih besar dari egoisme umat manusia – dan tidak mungkin dunia ini tercipta begitu saja atas jerih payah umat manusia itu sendiri. Awalnya saya pikir Suci merupakan seorang penganut yang begitu defensif dan tidak mengindahkan pandangan orang lain (saya) akan keberadaan Tuhan. Dan, jujur, saya terganggu dengan sikap seperti itu.

Sampai akhirnya saya membuka kembali sejarah komunikasi kami, sejarah segala obrolan bodoh kami di LINE. Saya membaca semua itu dengan membayangkan intonasi bicara seorang Suci Utami Nurwidia dan saya berpikir, “Iya, ya. Ngga mungkin Uci jadi asertif begitu.” Saya kemudian sadar bahwa Suci semata mengingatkan in a nonchalant manner. Dia hanya memberikan pandangannya tanpa memaksa saya untuk mengikutinya. Dan, jika cara tersebut saya nilai tidak cukup terbuka, maka cara mengingatkan seperti apa yang saya inginkan?

Do masih sholat gaak?”

“Tp lo masih percaya sm keberadaan Allah kan do ?”

Chat seperti itulah yang biasa mewarnai komunikasi kami. Dan setiap kali Suci menanyakan hal tersebut, saya selalu bingung akan jawaban yang harus saya berikan. Saya tidak tahu bagaimana saya harus menjelaskan ke Suci perihal pandangan saya, tumbuh kembang pemikiran saya, atau hal-hal terkait bagaimana saya memandang koeksistensi manusia, Tuhan, dan kepercayaan. Namun saya tidak lagi memandang hal tersebut sebagai ‘Suci being pushy’. Setiap Suci bertanya hal-hal tersebut, satu hal terbesit dipikiran saya: mungkin hal tersebut adalah mekanisme Tuhan untuk menyapa saya dan mengingatkan saya akan kehadiran-Nya. Dan saya harus mensyukuri hal tersebut karena paling tidak, diantara miliaran umat-Nya, Tuhan masih meluangkan waktunya untuk saya.

Ci, gue mungkin bukan tipe temen yang selalu catch-up sama kehidupan lo. Gue jarang nge-LINE, jarang nanya tentang kehidupan lo, kondisi keluarga lo, dan lain-lain. Tapi semoga dari tulisan ini, lo tau arti penting diri lo buat gue. Setiap lo sembahyang, tolong sampein salam gue untuk Allah, Ci. I’ll get to Him sooner rather than later. Selamat menikah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s