Curtain Call

Sebelumnya saya selalu menekankan, kepada diri saya sendiri dan teman-teman saya, bahwa terdapat satu individu yang patut diberikan penghargaan setinggi-tingginya atas segala jerih payah yang masing-masing dari kita keluarkan: diri kita sendiri. Saya yang paling mengerti seluk-beluk perjuangan saya hingga dapat berdiri di sini (apapun definisi dari ‘sini’ itu sendiri); begitupun dengan anda yang paling memahami detil perjalanan anda, segala butir keringat yang jatuh, hingga anda berada di posisi anda sekarang ini. Berterima kasih lah pada diri anda sendiri karena jika bukan anda, siapa lagi?

Namun saya pun menyadari pula bahwa manusia adalah mahluk sosial. Artinya, setiap individu membutuhkan individu lainnya dalam perjalanannya mencapai sesuatu. Jangan maknai definisi tersebut secara harfiah dimana, misalnya, jika seseorang ingin memasak telur maka harus ada orang lain disampingnya untuk selalu membantunya. Atau jangan pula ilustrasikan definisi tersebut ketika anda ingin melukis dan harus ada orang lain yang membantu anda. Bukan itu.

Kehadiran seorang individu bagi individu yang lainnya dapat hadir dalam taraf yang berbeda. Tidak melulu dapat dipahami sebagai kehadiran yang terlihat (tangible), namun dapat pula kehadiran tersebut datang dalam ragam lisan, tulisan, audiovisual, dan lain-lain.Maka dari itu, atas pemaknaan tersebut, saya ingin berterima kasih kepada:

Allāh, Tuhan semesta alam. Terima kasih Tuhan karena Engkau telah memberikan begitu banyak cobaan, rintangan, dan tantangan yang membuat saya semakin bertanya dalam kekaguman akan bentuk lain kebesaran-Mu. Terima kasih telah bertahan dan membuat saya sadar bahwa kehadiran-Mu lebih dekat dari yang saya bayangkan.

Bapak Taufik Asri Mansyur, Ibu Marini Lalita Trisnawati, dan adik tercinta Kinanti Ananda Putri. Terima kasih telah menjadi sumber kekuatan dikala saya berdiri dihadapan segala keterasingan. Terima kasih untuk segala restu yang meringankan langkah, segala nasihat repetitif yang tak pernah jenuh untuk dilontarkan, dan mencurahkan segala kepercayaan kepada saya, individu yang tidak tahu arah ini. Aku cinta kalian.

Ayah biologis, Otto Cornelis Kaligis. Terima kasih karena selalu memotivasi melalui cara-cara yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Untuk segala anomaly yang kamu turunkan kepada saya – baik secara langsung maupun tidak – hanya syukur yang dapat saya ucapkan. Doa saya selalu mengalir tanpa surut.

Dara Ninggarwati Gumawang. Terlepas dari jarak yang memisahkan, waktu yang berlari memangkas jurang, serta segala perbedaan konteks sosial yang kita hadapi, kamu tetap bertahan. And I can’t thank you enough for that. I love you.

Terima kasih juga, yang sebesar-besarnya, saya sampaikan kepada masyarakat Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) karena telah mempercayakan saya untuk melanjutkan studi disini. Terima kasih atas segala optimisme yang tiada henti menghujani otak saya selama satu tahun terakhir. Terima kasih atas segala dukungan yang diberikan. Doakan agar saya dapat membayarnya setuntas-tuntasnya.

Teruntuk Dessy Saptarini, Triana Rahajeng, Fajar Putu Handoko, Annisa Aulia Handika, Ahmad Faisal, Rudi Bachtiar Rifai, Suci Lestari, Rizky Danurwindo, Rima Hermanto, Benny Agus Prima, Elingselasri, Irwan Setyawan, Arifa Sura Sembiring, William Sandy, dan teman-teman PK 16 lainnya. Terima kasih telah membuat tanah asing ini sedikit terasa familiar. Terima kasih karena kehadiran kalian tidak pernah gagal membuat saya merasa lebih tenang.

Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK) dan semua individu yang saya kenal karenanya. Faris Firmansyah, Ika Nurfitriani, Oktoviano Gandhi, Farraas Afiefah, Nico Dharmaputra, Rahmi Jabir, Brigita Darminto, Hizrian Maladzan, Maria Satya, Dina Rahmatika, Putri Sophia, Kevin Stefano, Ardito Widjono, Meidirasari Putri, Luthfilaudri, Afdhalul Khair, Clara Kirana, Nindya Ayu, Umi Habibah, Aldo Albiyan, dan Bintang. Terima kasih sudah begitu berbakti untuk mengabdi melalui PPI UK. Terima kasih sudah mengambil bagian dan meninggalkan warisan bagi PPI UK.

Tidak lupa pula pengurus PPI Cabang seperti Gezah Al Banna, Ramdhan Abdurasyid, Jeslyne Yunita, Ervan Arumansyah, Fiddo Hafied, Haswin Salim, Naufal Rahman, Afif Fadhillah, Prinka Choesin, Bimo Sekti, Evraim Licardo, Lalu Rahadian, Yudhistira Nugraha, Bhima Yudhistira, Fikri Ramadhan, dan lain-lain.

Terima kasih teristimewa untuk panitia dan relawan yang merealisasikan terwujudnya Indonesian Scholars International Convention (ISIC) 2015, PALAPA Project 2015, Nusantara Cup, Volunteer for Indonesia (VFI) 2015, dan program-program PPI UK yang lain. Terima kasih banyak.

181 Acomb Street. Terlepas dari apakah menyatukan Sembilan individu yang berbeda di dalam satu atap adalah keputusan yang tepat atau tidak, terdapat tiga hal yang harus saya syukuri: Rizaldi Iswandrata, Ilham Maulana, dan Hapsari Darmastuti. Teruntuk Rizaldi: 1) maafkan karena kita tidak mengenal satu sama lain lebih dini, 형님; 2) jangan pernah meragukan diri lo sendiri; never again.

Individu yang membantu meringankan masa adaptasi saya di Manchester dan membuat kota ini tidak sesuram mendung yang mewarnai: Anggara Pradhana, Muhammad Zulfikar, Klarissa Ekaputri, Sasha Anissa, Arya Bhaswara, dan Sena Ekaputra (walaupun dia sebenarnya berada di desa kecil bernama Loughborough). Sampai bertemu ketika semesta mengizinkan.

Teruntuk Teza Gisadafathi, Luthfi Depriandi, Bagus Jalu, Daru Bintang, Rashif Samudera, Garryn Putro, Afrizal, Rakhmat Tri, dan Aldi Yudhasaputra yang segala lelucon, perilaku konyol, dan pertarungan mulut diantara kami membuat saya selalu tahu jalan pulang. “Baks duls jan kanyab-kanyab…

Teman-teman lurus seperti Ilham Rahmanda Dony, Suci Utami Nurwidya, Widya Saraswati, Noor Muhammad Aziz, dan anggota OSIS OSB yang selalu menjadi panutan ideal bagi kinerja saya dimanapun berada. Terima kasih telah menetapkan kriteria yang begitu tinggi.

Yusnia Kurniasih, Azarine Kyla Arinta, Bisma Putra Sampurna, Ciptahadi Nugraha, Alifa Alwan Azra, Buyung Hirzi, Arri Akbar, Karina Saraswati, Jyestha Bashsha, Ikhwan Hastanto, Razi Akbar, dan Axelle Aquila, yang walaupun kehadirannya hanya terbatas pada kehadiran virtual saja, namun segala cerita mereka selalu membuat saya bahagia, berdecak kagum, dan tenggelam dalam melankolia.

Terakhir, terima kasih kepada alam semesta atas segala yang terjadi selama satu tahun terakhir. Satu intisari yang dapat saya petik dari perjalanan ini adalah ‘dinamika’. Terima kasih telah memberikan begitu banyak cerita, fluktuasi, ups and downs, tekanan, dan benturan yang pada akhirnya membuat saya mendapatkan sisi baru dalam memandang kehidupan. Terima kasih telah membuat saya lebih kuat dari sebelumnya, lebih terbuka dan menganga dalam menyikapi realita yang mengelilingi saya, and, for better or for worse, make me more skeptical.

Terima kasih!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s