Manusia di bawah awan

Sibuk apa lo Do sekarang?”

Sebelum anda membaca lebih jauh tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan bahwa akan sangat banyak narasi-narasi reflektif, kritik yang saya tujukan tak lain dan tak bukan bagi diri saya sendiri, serta rangkaian paragraf yang begitu satire yang mewakili kegundahan saya selama beberapa bulan terakhir. Jika pada akhir tulisan ini anda memutuskan untuk melabeli saya dengan penilaian-penilaian negatif, maka saya sarankan anda berhenti membaca dari sekarang.

So, here it is.

Awalnya saya mengira bahwa saya membutuhkan beberapa waktu untuk memenuhi kerinduan saya terhadap diri saya sendiri. Saya mengira bahwa saya membutuhkan tiga hingga empat bulan – terhitung sejak Desember 2015, untuk melakukan segala hal yang membahagiakan diri saya. Saya kira, saya butuh pelarian dari segala hal yang telah menimbun diri saya selama satu tahun terakhir.

Rencana untuk berlibur, atau bertemu dengan teman-teman lama, atau sekedar menikmati Ibu Kota di malam hari sudah tersusun dengan baik; makan nasi uduk di hari Senin, mengunjungi pemakaman nenek di hari Selasa, ke Yogyakarta di hari Jumat, dan ke Medan satu minggu kemudian.

Namun saya tidak pernah lebih salah lagi. Konsep kebahagiaan ternyata lebih rumit daripada sekedar melapas rindu ke tempat-tempat makan favorit, bertemu dengan wajah-wajah kesayangan, atau menghadiri pernikahan seorang teman.

Hidup mempertemukan saya dengan teman-teman lama, Ya. Namun dibalik itu semua, pemahaman akan konteks sosial diantara kami tidak lagi sama. Beberapa bulan yang lalu saya adalah seorang Aldo Marchiano Kaligis yang sedang melanjutkan studi di luar negeri, dan teman-teman saya adalah individu-individu yang sedang berjuang membangun dinasti bagi diri mereka masing-masing. Beberapa bulan yang lalu kami sama-sama berjuang; kami sama-sama memiliki sesuatu untuk dibagikan antar satu sama lain.

Namun kini saya merasa seperti Juan Sebastian Veron saat ia pindah ke Manchester United, atau seorang Kaka saat ia berganti kostum dari hitam-merah khas A.C. Milan menjadi putih milik Real Madrid: saya adalah seorang kekecewaan. One of the biggest flop around.

Mengapa demikian?

Saya cukup bersyukur karena selama 23 tahun ke belakang, alam semesta tidak hanya mempertemukan saya dengan individu-individu yang menyimpan banyak cerita brilian. Sangat banyak diantara mereka yang dapat dengan bangga membagikan kisah sukses mereka, cerita akan perjuangan mereka mewujudkan suatu harapan melalui jalan terjal nan berliku. Sayangnya, tidak sedikit diantara orang-orang yang saya temui, yang malah dirundung kekecewaan dalam setiap langkahnya. Seakan kemanapun mereka berjalan, akan selalu ada awan mendung yang membayangi di atas kepala mereka. Karena satu dan lain hal, manusia-manusia di bawah awan ini terperosok jatuh dan tak mampu berdiri lagi. Mereka menyalahkan orang tua mereka yang bercerai, sosok sahabat yang meninggalkan mereka, Tuhan, dan lain-lain.

Saya tidak akan mengambil jalan yang sama dengan mereka, tenang saja. Saya tidak ingin bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apa salah saya sehingga Engkau membuat saya tidak bahagia?” Telapak yang saya tengadahkan untuk bertanya, sayangnya, tidaklah cukup bersih untuk disambut oleh-Nya.

Saya merasa peer pressured oleh segala kondisi material yang melingkupi. Saya (mungkin) masih mengadopsi paradigma yang begitu tradisional, yang mengatakan bahwa kondisi ideal bagi seorang mahasiswa yang telah lulus kuliah adalah untuk membangun karir di suatu instansi. Hal tersebut terang membuat saya iri melihat teman-teman saya yang kini sangat sulit untuk diajak bertemu karena mereka harus rapat. Paradigma tersebut jelas membuat saya khawatir karena disaat saya mengenakan celana jeans dan kaos oblong untuk bertemu dengan rekan-rekan saya, mereka hadir dengan sepatu pantofel, celana bahan, serta kemeja yang digulung dibagian lengan pertanda kerja keras yang mereka kucurkan dari pagi hingga malam.

Nina Zetterberg dan Teresa Romano menuliskan:

To understand what peer pressure is and why it has such impact on our lives we need to recognize the fact that fitting in and being part of a group is part of life. As it is very important for our survival that we have other people around us, we learn from a very early age to imitate others. We learn from other people and they learn from us.

Jadi, mungkin apa yang saya rasakan adalah karena saat ini saya berada di periode dimana saya merasa tereksklusikan dari lingkaran yang membuat saya hidup selama ini. Saya merasa asing, tidak lagi menjadi bagian dari lingkaran kenyamanan saya. Bukan karena mereka mendorong saya jauh-jauh, namun karena saya yang menarik, menyembunyikan diri saya dalam-dalam.

Saya kemudian mencoba mematahkan kekhawatiran tersebut dengan mencoba merealisasikan mimpi saya untuk membangun suatu gerakan sosial bernama H;DUP (baca: Hidup). Saya memberanikan diri untuk merancang business plan, bertemu dengan investor, menghubungi berbagai perusahaan startup hanya untuk mempelajari strategi mereka, dan mencari individu-individu yang bisa saya percayai untuk membesarkan embrio ini. Saya menemukan berbagai kesulitan disetiap kegiatan tersebut – sudah pasti. Namun kesulitan terbesar adalah ketika saya melihat wajah orang tua saya yang bahkan meragukan mimpi saya ini. Lagi-lagi, saya tidak bisa menyalahkan mereka berdua karena paradigma mereka mungkin sama seperti saya: habis kuliah, ya kerja.


 

Saya mendatangi suatu Jobfair pada 8 Januari 2016. Saya datang bersama seorang teman dekat saya. Pada saat itu, kami sedang sama-sama mencari pekerjaan, namun kini ia telah bekerja di salah satu produsen pakaian paling terkemuka di dunia. Di hari itu saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya harapkan; saya datang mengenakan setelan jas lengkap sambil mengantri di tengah lautan manusia dan udara terik Jakarta. Sampai akhirnya, saat saya sedang mengantri, saya melihat sebuah standing banner yang bertuliskan kurang lebih seperti ini:

Kamu lulusan SMA? Jangan khawatir! Sekarang lulusan SMA juga bisa kerja kok!

And I was left speechless. “Really? Bahkan negara gue sekalipun ngga pengen masyarakatnya pinter?

Disitu saya mulai merasa bahwa ketika anda memasuki sebuah perusahaan, maka anda harus menyimpan baik-baik segala mimpi, cita-cita, harapan, dan ideals yang anda inginkan. It will never be about you; it’s about you, serving the interests of your superintendents.

Lalu apakah hal tersebut kemudian membuat saya berhenti mencari pekerjaan? Jawabannya adalah tidak. Setiap pagi saya bangun dengan membawa kekhawatiran yang sama. Setiap hari saya tersadar bahwa kebahagiaan tidak pernah berasal dari diri seseorang, tumbuh secara independen. Kebahagiaan saya dan anda akan juga bergantung kepada bagaimana kita mampu memenuhi ekspektasi orang lain. Have you ever not think about your parents’ certain expectations and how they will be ecstatic when you could fulfill their dreams? Itu contoh sederhananya.

Ego saya sangat besar. Mungkin, jika anda memilki sisi egois di dalam diri anda, maka kalikan sisi tersebut dengan angka 1.000 maka anda akan dapat mengira seberapa besar egoisme tertanam dalam diri saya ini. Saya tidak mau memenuhi kepentingan orang lain, saya tidak mau menjadi alat untuk merealisasikan mimpi orang lain, saya tidak mau menjadi kacung yang bangga memuaskan selangka atasannya. Saya ingin merealisasikan mimpi-mimpi saya sendiri. Namun kemudian apakah egoisme ini membuat saya berhenti mencari pekerjaan? Tidak.

Setiap pagi hingga siang hari saya akan selalu membuka laman Jobstreet dan LinkedIn untuk mendaftarkan diri saya menjadi bagian dari suatu institusi. Setiap malam saya masih mencari kemana hilangnya bagian dari diri saya yang dahulu sangat ingin menjadi seorang diplomat. Somehow, di dalam diri saya masih ada iblis yang berbisik dan mengatakan bahwa saya wajib menjadi kacung yang bangga walau tertatih-tatih. Saya harus menjadi pelayan bagi siapapun yang berada di atas sana, menganalisa kumpulan data agar keesokan harinya atasan saya mendapatkan pujian atas kinerja saya. Saya harus menjadi alas kaki demi kelak memiliki posisi yang lebih berarti.


 

Pernah di suatu hari di bulan Januari, saya bertemu dengan seorang senior yang saya kagumi sejak duduk dibangku S1 dahulu. Ia kini bekerja di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Pada kesempatan itu saya dengan antusias bertanya perihal kesempatan untuk memiliki karir di Kementerian tersebut, dan jawabannya begini:

Sayang Do potensi segede kamu kalo langsung jadi PNS.”

Jujur, saya kaget. Saya terhentak karena kalimat tersebut datang dari seorang kakak angkatan yang begitu brilian baik secara akademik maupun non-akademik, the person whom I humbly admire, dan ia merekomendasikan saya untuk tidak bekerja di tempatnya bekerja saat ini. Pada titik inilah saya benar-benar merasa bahwa saya harus lebih membuka wawasan saya akan korelasi kebahagiaan dengan karir.

Susie Pan membuat suatu artikel yang berjudul ‘You’re Only 23. Stop Rushing Life’. And the title speaks for itself, so don’t even bother to ask about what the article is all about. Sayangnya, premis tersebut sepertinya tidak berlaku bagi saya saat ini.

Saya menginginkan kesibukan, saya menginginkan dosa yang disebabkan karena saya lebih memilih pekerjaan daripada keluarga saya sendiri.

Saya butuh merasa dibutuhkan, saya butuh untuk dijadikan alas duduk bagi seseorang agar ia dapat menimbun kekayaan.

Saya ingin meraih cita-cita, mewujudkan mimpi, dan membangun suatu kerajaan yang setiap baloknya berisikan identitas saya. Saya ingin berhenti khawatir dan mengerjakan sesuatu yang menghasilkan.

Saya ingin ditemukan; no longer desperately longing for a far cry.

Jadi, “Sibuk apa lo Do sekarang?

grey1_51eae66fe087c311ca0081c4

Advertisements

4 thoughts on “Manusia di bawah awan

  1. Sesuatu memang harus tumbuh dari apa yang kita lihat, bukan hanya celotehan para pekerja sana yang selalu menanyakan apa kegiatan kita bagi mereka yang sedang bekerja untuk korporat masing-masing seolah mereka satu langkah dari kita. Sekarang bukan lagi harus mempersiapkan jawaban sebelum pertanyaan tersebut terulang kembali, justru sekarang kita harus belajar apa yang mau kita kejar, bukan apa yg mereka ujar. Namun kita bisa membungkam atas ujar mereka dengan lompatan yang sangat jauh kedepan yang mungkin melampaui dasawarsa waktu di udara. Lompatan tersebut bisa terwujud dengan caci maki, ketidak percayaan orang lain, atau bahkan keluarga kita sendiri yang meragukan kemampuan kita. Ingat Do, kemampuan dalam melihat kesuksesan itu bukan berdasarkan apa gelar yang kita punya tapi seberapa yakin kita atas kemampuan kita sendiri.

    Like

  2. Semangat ka aldo. Membangun karir kan proses, dgn daftar kerja, ke job fair, atau bikin plan gerakan sosial meaning ka aldo udah mulai prosesnya. Little steps kan, yg penting dimulai dan keep going. Itu semua jg kesibukan. Semoga suatu hari mimpi2nya bisa tercapai ya, walaupun harus dimulai dgn kerja di suatu institusi terlebih dahulu, mungkin dari situ akan ada pintu2 lain yg lead ka aldo utk merealisasikan mimpinya. Every day is a new day!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s