H;DUP

After a throughout review and a discussion with our partner, we have decided that we are going to pass this opportunity.”

Selama ini banyak yang mengatakan bahwa saya memiliki karakter yang sangat keras. Tidak sedikit yang melabeli saya sebagai individu yang tidak bisa berkompromi, sulit diajak bekerjasama, dan menolak kritik dalam bentuk apapun. Saya mungkin mengidap phobia tertentu terhadap penolakan, saya tidak tahu. Yang jelas, beberapa pelabelan tersebut ada benarnya.

Anehnya, label-label yang sering diasosiasikan oleh orang lain terhadap saya tersebut tidak kemudian datang menghantui ketika salah seorang investor potensial mengirimkan penolakan tersebut di atas.

Saya merasa bergairah. Saya merasakan pompaan adrenalin yang begitu deras. Saya jatuh, namun saya tahu harus berbuat apa.

Di bulan Januari hingga Februari, saya tidak berorientasi. Saya merasakan ketakutan yang sama seperti setiap kali saya mencoba mendaki gunung. Dari hari ke hari saya merasa terasing, tidak mengerti apa yang seharusnya saya lakukan untuk bertahan hidup, kemana arah yang harus saya tempuh untuk selamat. Praktis, saya hidup dalam suatu limbo; ruang bagi mereka yang terlantar.

Setiap hari saya bangun dengan rasa gelisah. Gelisah mengharapkan adanya lowongan pekerjaan yang cocok, gelisah menunggu adanya aplikasi terdahulu yang diterima.  Setiap hari saya pergi tidur dengan perasaan khawatir. Khawatir tentang apa yang akan terjadi jika saya terus menerus menggantungkan hidup kepada orang tua saya dan tak akan pernah bisa mandiri.

Sesekali H;DUP menemani. Saya berusaha mencari kesibukan agar meninggalkan kesan produktif bagi keluarga saya. Saya menyertakan H;DUP dalam Idea Exhibition yang diselenggarakan oleh LPDP, saya mempelajari beragam business model agar di masa mendatang H;DUP dapat menopang dirinya sendiri, hingga membuat beberapa prototipe video untuk di uji coba kepada pasar. Terlepas dari kepuasan yang saya rasakan di dalam tiap proses tersebut, namun masih ada satu hal yang sangat mengganjal.

Hal tersebut yang saya maksud adalah raut wajah orang tua saya. Keraguan terbesar yang sesekali menyurutkan langkah dan meredupkan arang saya untuk H;DUP datang setiap kali ibu saya mengernyitkan dahinya tatkala saya membicarakan H;DUP. Ibu saya masih menyimpan asa yang sangat besar untuk saya berkarir sebagai PNS atau melanjutkan S3.

Untuk soal S3, entah berapa kali sudah saya menyampaikan kepada ibu saya bahwa saya menolak untuk mengejarnya saat ini. Tekanan akademik yang saya dapatkan tahun lalu benar-benar melelahkan bagi saya. Pengalaman S2 tahun silam mungkin adalah salah satu faktor mengapa (semakin) banyak orang yang mengatakan bahwa saya adalah seseorang yang tempramental, tidak luwes, dan sangat self-centered. Sebagian besar porsi “kegelapan” yang berada di diri saya saat ini dapat dipastikan tumbuh dari pengalaman yang melelahkan tahun lalu.

Namun untuk menjadi seorang PNS, jujur, saya masih menjaga asa itu baik-baik. Tidak pernah luput dari dalam kepala saya akan cita-cita menjadi seorang Duta Besar Republik Indonesia di negara lain. Tidak sekalipun saya berani menyentuh impian tersebut, apa lagi mengesampingkannya. Tidak pernah saya meragu, setidaknya hingga H;DUP datang.

Memasuki bulan Maret, saya mulai yakin bahwa saya terlalu “besar” hanya untuk mengabdi di bawah suatu sistem. Ke-“besar”-an tersebut datang dari keyakinan bahwa saya sudah bekerja keras sedari masih duduk dibangku SMP untuk terus mengejar prestasi akademik sembari aktif berkontribusi bagi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan organisasi. Belum lagi keyakinan bahwa LPDP mempercayai saya untuk melanjutkan S2 di luar negeri bukan untuk pulang dan kemudian (hanya) memiliki orientasi untuk bekerja dan memperkaya diri. Tidak, semesta tidak memiliki rencana sekerdil itu untuk saya.

Saya percaya bahwa setiap manusia dilahirkan untuk meninggalkan jejak. Terserah bagaimana cara anda untuk mendefinisikan kalimat tersebut, namun jika anda memutuskan untuk mengartikannya secara harfiah pun Adam dan Hawa meninggalkan jejak kaki di Taman Eden.

Setiap dari kita sudah semestinya menorehkan sejarah. Saya percaya bahwa Tuhan Maha Baik. Tidak mungkin ia memiliki rencana untuk menjatuhkan umat-Nya. Namun rencana itupun tidak akan terlaksana jika kita, umat-Nya, tidak menyambut segala skenario yang telah disiapkan. Pilihan ada pada anda.

Pada suatu pagi, saya beranikan diri untuk menghampiri ibu saya di kamarnya. Saat saya membuka pintu, ibu saya sedang membaca koran – ritual pagi yang sangat jarang ia lewatkan. Saya kemudian duduk disampingnya, menyalakan TV. “Ada kabar apa pagi ini, Mas?” tanyanya berharap saya memberikan kabar bahwa saya diterima untuk bekerja di suatu perusahaan. Kemudian saya menarik nafas panjang. Panjang, hembuskan, dan saya mulai menceritakan kepada ibu saya tentang H;DUP. Apa tujuannya? Bagaimana cara saya mencapai tujuan tersebut? Mengapa ini begitu penting? Apa dampak yang dapat diberikan olehnya?

Aku mau mama bahagia, mama senyum. Senyumlah sama seperti ketika mama denger aku keterima LPDP”, tutup saya mengakhiri pembicaraan tersebut.

Yes, we had ‘The Talk’.

Sejak hari itu, tidak lagi saya perlu menutupi segala aktivitas yang berhubungan dengan H;DUP. Segala pertemuan dengan investor, segala pulang larut demi idea pitching, segala uang yang habis demi mencetak proposal tidak lagi diikuti dengan rasa gelisah ataupun khawatir beberapa jam setelahnya.

Di suatu kesempatan, saya berbincang dengan seorang investor. Saya menghadap dirinya lengkap dengan segala peralatan tempur: sebuah proposal, buku catatan, kotak pensil, dan kartu nama. Kami berdiskusi tentang H;DUP, mulai dari alasan dibalik pembentukannya, permasalahan yang coba kami atasi, hingga arus pemasukan kami ke depannya. Sampai pada satu titik dimana ia bertanya, “What are you going to do if things went south?

Jujur, pada saat itu saya merasa sangat siap untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya tertawa di dalam hati karena saya merasa gembira. Saya gembira karena pada akhirnya saya dihadapkan dengan pertanyaan tersebut; pertanyaan yang sangat (sangat, sangat, sangat, sangat, …) tricky.

Hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi dari H;DUP, mas: either this will be successful, or H;DUP will be f*cking successful.

Saya menjawab pertanyaan tersebut dengan mantap, tanpa sedikitpun keraguan. Anda boleh menilai hal tersebut sebagai arogansi seorang pengusaha kelas teri. Saya maklumi hal tersebut. Namun perlu anda ketahui bahwa tidak sedikitpun saya pernah meragu akan apa yang dapat H;DUP tawarkan. Tidak sedetikpun saya bertanya tentang warisan yang dapat ditinggalkan oleh pergerakan ini bagi lingkungan di sekitarnya. Tidak sekalipun kegagalan menjadi skenario yang perlu kami rehearse adegannya.

Namun, tentu saja outcome-nya tidak sesuai apa yang saya harapkan. Investor tersebut memilih untuk tidak berinvestasi kepada H;DUP (duh?). Namun percaya atau tidak, saya tidak kemudian merasa patah arang. Tidak sama sekali.

Mas, mba, the fact that I’m standing here today only shows that I need help. I need your help.” Kalimat inilah yang saya gunakan untuk membuka sesi idea pitching yang diselenggarakan oleh salah satu inkubator bisnis. Lagi, saya adalah seorang individu yang keras, batu, bebal, you name it. Sehingga, keluarnya kalimat tersebut, kalimat permohonan tersebut dari mulut saya menandakan bahwa saya bersedia berkompromi demi H;DUP. Saya bersedia membuka ruang bagi segala kesempatan untuk H;DUP – sesuatu yang amat jarang anda temukan jika anda telah mengenal saya sejak SMP dahulu.

Permasalahannya begini: saya menjalankan H;DUP tidak sendirian. Saya menggandeng seorang sahabat karib dan seorang teman baru. Saya mengajak Ilham Rahmanda Dony, lelaki yang telah menjadi “belahan hati” saya sejak SMA dahulu, dan Widiani Budiarti, seorang teman baru yang direkomendasikan oleh Ilham.

Ketika saya mengajak Ilham bekerja sama, saya meletakkan hubungan platonik ini ke dalam suatu resiko. Anda tentu sering mendengar orang mengatakan bahwa keluarga dan bisnis bukanlah dua hal yang patut disatukan. Namun, jika saya harus memilih satu orang yang saya percayai, seseorang yang berani saya pertaruhkan demi meninggalkan warisan sosial, maka saya tidak bisa memikirkan nama lain kecuali Ilham. Untuk hal ini, akan ada dua potensi hasil yang mungkin terjadi: kami berdua makin erat atau kami berdua akan mengasingkan satu sama lain. Namun saya berani mengambil resiko tersebut, karena saya ingin membagi kesuksesan H;DUP disamping sahabat saya ini.

Bagaimana dengan Widi? Keputusan untuk merangkul Widi sangat singkat dan sederhana: jika Ilham mempercayai perempuan yang satu ini, maka saya pun harus mempercayainya. As simple as that.

Kini kami telah berhasil meluncurkan sebuah video pilot. Dalam tiga hari setelah peluncurannya, video kami dilihat oleh 1.012 orang. Angka tersebut merupakan pencapaian yang besar bagi kami bertiga yang notabene hanya memiliki total 72 followers di Instagram.

Kemudian kami berencana untuk merilis video berikutnya pada 12 Maret 2016. Namun karena hasil editing yang tidak memuaskan, saya kemudian mengutarakan kekecewaan saya kepada Ilham dan Widi. Seorang Aldo yang keras dan sulit berkompromi kembali muncul. Tingkat “kebrengsekan” saya meningkat dan harus diakui bahwa timbul perasaan canggung utamanya kepada Widi – perempuan yang baru saya kenal tidak lebih dari empat bulan.

Namun saya harus melakukan hal tersebut. Angka 1.012 menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap H;DUP. Artinya, kami pun memiliki kewajiban untuk menawarkan standar yang tinggi bagi para viewers kami. Adalah kewajiban kami untuk menyajikan konten yang dinantikan oleh para viewers.

Tidak hanya itu, ketika saya memutuskan untuk mengajak Ilham dan Widi, saya tidak menawarkan materi apapun. Saya tidak memiliki uang, dan mereka tahu itu. Yang saya berikan adalah janji. Saya menjanjikan bahwa H;DUP akan menjadi gerakan sosial sekaligus startup yang keren. Saya menjanjikan kepada mereka berdua bahwa H;DUP akan mengubah wajah digital social movement Indonesia. Saya berjanji kepada Ilham bahwa ia tidak lagi harus melamar pekerjaan, datang ke belasan jobfair, dan menunggu dalam ketidakpastian setelahnya. Saya menjanjikan kepada Widi bahwa ia tidak perlu lagi khawatir bahwa H;DUP hanya akan menjadi ‘Proyek-Anget-Anget-Tai-Ayam-Seorang-Anak-Muda-yang-Ambisius-Sesaat’. Saya menjanjikan hari ini dan masa depan untuk mereka berdua.

Namun dengan satu syarat: jika – dan hanya jika – saya mampu memvisualisasikan apa yang ada di otak saya kepada Ilham, Widi, para investor, dan orang-orang di luar sana.

Entah roh apa yang merasuki saya setiap kali saya mengurus H;DUP. Entah energi apa yang masuk ke tubuh saya sehingga memudahkan saya untuk terus bekerja keras menyediakan yang terbaik bagi pergerakan ini. Yang saya pahami adalah saya, Ilham, dan Widi, we are wonder makers.

Sekarang Ilham masih harus bekerja sebagai seorang Digital Marketing bagi salah satu perusahaan celana jeans internasional. Widi pun baru saja selesai membuat video untuk salah satu institusi pemerintahan dan kini fokus membenahi konten-konten H;DUP. Saya?

Saya sedang menulis. Saya sedang menulis sambil menyadari bahwa kini saya tidak perlu lagi takut jika ada yang bertanya, “Sibuk apa lo Do sekarang?

I am busy being impressive.”

PicsArt_03-14-09.45.37

Advertisements

2 thoughts on “H;DUP

  1. I was just surfing the net, wondering who among my friends that actually have blogs and or write, when I stumbled upon yours and realised that you write wonderfully and honestly. Best wishes to your endeavour (not to mention an endaring one, indeed). 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s