BES(/n)AR

Terlalu sederhana bagi saya untuk sekedar bersedih, terdiam melihat tragedi kemanusiaan yang terjadi di Baghdad, Medinah, Istanbul, Solo, dan kota-kota lainnya selama beberapa hari terakhir.

Menjadi terlalu sederhana jika saya hanya bersimpati, menulis risalah sederhana terkait dilema yang saya alami saat ini tanpa adanya keputusan nyata yang dapat saya lakukan untuk menghentikan keseluruhan tragedi ini.

Tidak adil rasanya untuk kemudian saya hanya menyebarkan headlines terkait bom bunuh diri di Medinah melalui kanal media sosial yang saya miliki tanpa mempertimbangkan adanya tragedi kemanusiaan lain yang sedang terjadi di tempat lain namun tenggelam oleh subjektifitas jurnalisme.

Pun tidak benar rasanya ketika saya mengatakan bahwa tragedi yang menimpa Medinah malam tadi sebagai suatu tindakan ‘terorisme’, sementara jika hal serupa terjadi di tempat lain maka saya memanggilnya ‘bom bunuh diri’, vice versa.

Terrorism has no religion,” ungkap banyak orang ketika mengingat kembali tragedi Paris, Jakarta, atau bahkan New York 15 tahun silam. Padahal, menurut hemat saya, terorisme itu perihal kepercayaan – baik antar kepercayaan maupun intra-kepercayaan.

Teror yang terjadi- baik yang digawangi oleh Al-Qaeda, ISIL, atau organisasi serupa – seringkali merupakan hasil dari penanaman narasi bahwa kepercayaan bersifat ekawarna: Dunia adalah hitam dan putih, dan jika anda berbeda dengan saya maka anda adalah lawan saya.

Melihat masih banyaknya pemahaman homogen di sekeliling saya, maka saya akan mengatakan bahwa “terrorism is [mostly] religious.” Se-tidak adil apapun ide ini bagi agama saya, se-tidak menyenangkan apapun ide ini bagi kepercayaan anda, saya akan tetap mengatakannya.

Bahwa terorisme terjadi karena adanya satu kelompok yang merasa agamanya adalah yang paling suci? Benar.

Bahwa terorisme terjadi karena adanya diskriminasi bagi kelompok yang dimarginalisasi karena kepercayaan yang mereka anut? Benar.

Bahwa tragedi kemanusiaan – dalam bentuk apapun – akan selalu memiliki potensi untuk kembali terjadi jika saya, anda, dan seluruh individu diantara kita selalu beranggapan “TUHANKU MAHA BES(/n)AR”? Tidak salah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s