Rabu

Tulisan ini merupakan respon bagi hari Senin dan Selasa; dua hari yang saling terkait antar satu dengan yang lain terlepas dari perbedaan mereka yang sangat fundamental. Dua hari yang digambarkan secara sederhana oleh kedua orang teman saya, Widya Arifianti dan Ilham Dony, namun memiliki makna yang lebih dalam dari hanya sekedar agregat jam yang anda dan saya lalui tanpa dihiraukan.

Tulisan ini adalah soal Rabu.

Izinkan saya menganalogikan Rabu seperti Kobe Bryant. Bagi anda yang belum familiar dengan nama ini, Kobe Bryant adalah seorang atlet bola basket profesional yang selama 20 tahun bermain untuk klub Los Angeles Lakers sampai akhirnya memutuskan pensiun di tahun 2016.

Kobe Bryant mengawali karirnya di NBA, liga bola basket profesional di Amerika Serikat, di tahun 1996. Jika seorang pemain bola basket ingin bermain di NBA dan menjadi atlet profesional, maka ia berkewajiban untuk mendaftarkan dirinya ke dalam NBA Draft. Melalui Draft inilah tim-tim yang berada di NBA akan memilih pemain mana yang mereka inginkan. Sebagian besar pemain basket yang mendaftarkan dirinya ke dalam Draft adalah pemain yang setidaknya sudah satu tahun bermain di kompetisi basket tingkat universitas (National Collegiate Athletic Association/NCAA). Namun bukan Kobe.

Di usianya yang masih 17 tahun, Kobe memutuskan untuk langsung mendaftarkan dirinya ke dalam NBA Draft – segera setelah ia lulus SMA. Di dalam Draft tahun 1996 itu sendiri, Kobe diragukan oleh banyak pihak. Kobe dianggap belum memiliki kesiapan secara mental untuk bersaing dengan atlet profesional, ia juga dianggap terlalu kurus dan akan kesulitan menjaga pemain-pemain NBA yang lebih besar, dan para analis juga meragukan posisi Kobe Bryant – apakah dia seorang point guardshooting guard, atau small forward.

Bersaing dengan nama-nama besar seperti Allen Iverson, Marcus Camby, Stephon Marbury, dan Ray Allen, Kobe Bryant dipilih dengan urutan ke-13 oleh klub Charlotte Hornets. Namun, 15 hari setelah Kobe dipilih oleh Charlotte, Los Angeles Lakers memutuskan untuk menukarkan Vlade Divac – yang pada saat itu merupakan salah satu pemain inti di L.A. – dengan bocah berusia 17 tahun yang dianggap tidak siap menghadapi NBA. Hasilnya?

Kobe Bryant pensiun sebagai 5 kali juara NBA, 1 kali dinobatkan sebagai Most Valuable Player (MVP), 2 kali sebagai Finals MVP, 18 penampilan All-Stars, 33.643 poin, dan masih banyak penghargaan lainnya.

Lalu mengapa Rabu adalah Kobe Bryant?

Rabu akan menempatkan anda di dalam suatu limbo; suatu hari dimana mesin anda mulai “panas” untuk bekerja, namun dibalik itu semua anda tetap tidak sabar menungu kehadiran Jumat malam. Rabu akan menempatkan anda diposisi ke-13 dalam NBA Draft; posisi yang membuat anda meragukan kapasitas anda sebagai pemain basket, namun dititik yang sama membuat Kobe memiliki urgensi untuk membuat tim yang tidak memilihnya menyesali keputusan mereka.

Rabu will definitely leads you to a no man’s land.

Saat anda menjalani Rabu, permasalahan yang lebih besar sebenarnya bukan dari cara anda memulainya. Rabu adalah soal bagaimana anda menjalani dan mengakhirinya. Lagi, ilusi akan Jumat malam yang dibarengi dengan semangat untuk bekerja akan secara konsisten meliputi hari anda. Dan untungya, Rabu adalah anomali, sama seperti Kobe. Ketika banyak yang mengatakan bahwa anda tidak seharusnya memiliki lebih dari satu fokus dan mewajibkan anda menjadi spesialis di dalam satu tujuan saja, Rabu akan dengan lantang berkata: “Screw you.” Di hari Rabu anda bisa memutuskan untuk menikmati kinerja anda dan bersiap untuk menjalani akhir minggu yang anda rencanakan. Mengapa?

Mengutip dari tulisan Ananth Pandian, berikut adalah reaksi Kobe saat mengetahui bahwa pelatih Charlotte Hornets pada saat itu tidak menginginkan Kobe:

“Charlotte never wanted me,” Bryant said after scoring 20 points on 5-of-20 shooting during a 108-98 loss on Monday. “[Hornets coach Dave] Cowens told me he didn’t want me. It wasn’t a question of me even playing here. They had a couple of guards already, a couple small forwards already. So it wasn’t like I would be off the bench much. “

“I mean, I had grown up watching basketball,” Bryant said. “I knew who Dave Cowens was and [was] pretty excited [to play for him]. Then I was like, ‘Oh, all right.’ I quickly transitioned from smiley kid to killer instinct.”

Have that killer instinct. Be ferocious as Rabu will give you the best of both worlds.

Ada alasan mengapa Rabu adalah median di hari kerja. Dan saya cukup meyakini bahwa salah satu alasan tersebut adalah karena Rabu diyakini sebagai puncak produktivitas seseorang dalam menghadapi segala permasalahan. Rabu akan selalu menjadi akhir dari proses adaptasi anda untuk kembali bekerja, namun Rabu akan pula selalu mengantarkan anda untuk memiliki akhir minggu yang terencana.

Menjadi Rabu – menurut Ilham Dony – adalah soal menjadi lebih tangguh dari Selasa, dan menjadi yang terbaik. Menjadi Rabu adalah harapan, setidaknya bagi saya, untuk selalu menikmati ilusi kesuksesan yang saya rencanakan. Bukan, saya bukan berbicara hanya untuk Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu yang sukses, namun untuk cita yang lebih besar dari hitungan hari.

Oh, and by the way, the NBA Draft 1996 was held on June 26th, 1996. It was Wednesday.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s