Relung Maaf

Hi, March.

Pagi buta begini mungkin sebagian dari kalian sudah memasuki lapangan mimpi yang tidak lagi kalian kuasai. Atau mungkin ada sebagian yang masih terbangun, melakukan sesuatu yang tidak seharusnya seseorang lakukan di jam 2 dini hari (yesI’m talking to you Afifa, Ilham, and probably Yusnia).

Saya tidak akan berpanjang lebar. Saya hanya ingin bilang bahwa saya lelah selelah-lelahnya manusia, namun pada saat yang bersamaan sangat menikmati sesenang-senangnya seorang hamba.

Masih sangat banyak pekerjaan rumah yang harus dihadapi, dimaknai, dan digapai untuk membuat dinasti mimpi ini menjadi kerajaan duniawi. Banyak video yang belum tuntas saya kerjakan, konsep website yang masih belum matang, penguasaan alat produksi yang belum begitu mumpuni, sampai mengantarkan tim produksi untuk menguasai Adobe Premiere Pro CC. Untuk segala keterlambatan ini, mohon beri saya relung maaf.

Namun pekerjaan rumah yang kadang membuat saya sakit kepala (dan sakit punggung, terutama pasca shooting) tidak lantas mendominasi rasa syukur saya; rasa syukur karena masih ada 8 orang yang bersedia membagi segala kesibukan mereka untuk terus menerus membesarkan March, ditambah dengan 1 amunisi baru yang berusaha keras mengenali asta tirthakara yang lain.

As promised, I’m just gonna keep this short. I only want you to know that, before anything, you are my end.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s