Hey Ma

Secara historis, hubungan saya dengan Ibu saya sangat konfliktual. Ada yang bilang, dua individu dengan tanggal lahir yang sama memang sulit akur. Mendiang nenek saya bilang bahwa perseteruan itu sering terjadi mungkin karena Ibu saya melahirkan saya di usianya yang masih relatif muda, yakni 24 tahun. Kenyataan bahwa Ibu saya harus meninggalkan berbagai ambisi individualnya saat memutuskan untuk menikah dan memiliki seorang anak menyimpan begitu banyak tekanan yang terakumulasi dan tak dapat selalu ditahannya sendiri. Either way, they don’t matter. Terlalu banyak asumsi yang tidak dapat saya kuasai.

Entah karena kami dilahirkan di tanggal yang sama atau apa, namun saya dan Ibu saya memiliki berbagai persamaan sifat. Salah satunya adalah kami sulit mengalah – even with one another. Dan menurut saya hal inilah yang membuat hubungan kami begitu meledak-ledak beberapa tahun ke belakang.

Terdapat banyak momen ketika saya merasa bahwa Ibu saya adalah sosok antagonis sinetron yang begitu tipikal, yang terwujud di dunia nyata. Ibu saya seringkali meributkan hal-hal kecil seperti pendingin kamar saya yang jarang saya matikan, kondisi kasur yang tidak rapih ketika saya berangkat sekolah, atau bahkan lemari baju yang – menurut standarnya – terlalu penuh. Begitupun Ibu saya tidak jarang meributkan hal-hal yang tidak sama sekali pernah terlintas di benak saya mampu menjadi sumber konflik, seperti tidak mengucapkan “I love you” di penghujung pembicaraan kami melalui voice call. I was like, “What the hell?” Sering kali saya terkejut dengan alasan-alasan kemarahan Ibu saya. Dan, seperti yang sudah saya sebutkan di paragraf sebelumnya, saya tidak pernah tinggal diam.

Saya selalu melawan balik. Saya selalu memberikan counter-argument yang saya selalu pikirkan dengan hati-hati dan rasional. Merasa bahwa setiap argumen yang saya keluarkan memiliki basis logika yang tertata rapih, saya akan selalu melawan balik. Sempat ada titik dimana saya menjadikan Ibu saya sebagai sparring partner dalam berargumen. Literally, she was my sandbag and I’m a boxing gloves ready to hit, hit, hit, and not miss.

Our terms were that bad.

Don’t even get me to start talking about her refusal about my decision to become an entrepreneur. Momen dimana Ibu saya selalu memandang saya dengan penuh amarah, kebingungan, dan kekecewaan yang secara konsisten tercampur aduk belum dapat saya lupakan hingga detik ini. Marah karena saya tidak menepati janji saya untuk kembali ke Indonesia dan mendaftarkan diri sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Luar Negeri; bingung karena apa yang saya jalani saat ini tidak sesuai dengan ilmu yang saya dalami saat S1 maupun S2; kecewa karena saya tidak lagi dinaungi oleh sebuah institusi atau pencapaian yang mampu dibanggakannya ke banyak orang. And I could still feel that those feelings still linger underneath those aging frame.

But yet, the more mature we get, the less argument we are going through.

Dari sini, lanjutkanlah membaca artikel ini sambil mendengarkan sebuah lagu dari rapper favorit saya saat ini, Chance the Rapper:

Saya sedang mengalami “gencatan senjata” terlama sepanjang sejarah hubungan saya dengan Ibu saya. Dapat saya pastikan bahwa perbaikan hubungan ini diawali pada tanggal 22 Oktober 2016. Di hari dimana March diperkenalkan kepada publik untuk pertama kalinya, di hari yang sama itu pula gumpalan hitam sejarah kelam hubungan saya dengan Ibu saya memudar. Jangan tanya apa hubungannya antara soft-launching startup saya dengan menghilangnya rasa kekesalan saya terhadap Ibu saya, karena saya juga tidak tahu. Yang jelas, sejak hari itu, saya menyadari bahwa saya tidak akan mampu menjalani kehidupan hingga sejauh ini tanpa Ibu saya. Sebuah hubungan yang awalnya merupakan zero-sum game, secara drastis berubah menjadi positive-sum game.

Argumen saya begini: tingkat kompromi saya demi merekonsiliasi hubungan yang konfliktual ini meningkat dikarenakan pemahaman saya yang semakin terang benderang tentang apa yang telah dilalui oleh Ibu saya demi menghantarkan saya sampai sejauh ini. Mengapa saya pada akhirnya mampu memberikan ruang terhadap peningkatan toleransi tersebut? Jujur saja, soft-launching March mengangkat begitu banyak beban yang selama ini saya tanggung sendiri; beban atas pertanyaan banyak orang akan arah kehidupan saya. Terangkatnya beban tersebut secara seketika mampu membuat saya mengalihkan perhatian saya kepada upaya untuk memperbaiki hubungan saya dengan Ibu saya. And I am relieved.

Entah kapan terakhir kali saya pulang ke rumah, memeluk Ibu saya dari belakang, dan mencium pipinya. Namun hal itu saya lakukan sekitar 2 atau 3 minggu silam. Tidak ingat kapan saya terakhir rela untuk memundurkan jadwal pribadi saya hanya demi mengantarkan Ibu saya ke pasar di dekat rumah. Dan kemarin baru saja saya melakukannya. Don’t even ask me, when did the last time we had a quality talk between each other. Tapi kini, dalam beberapa kesempatan saya akan dengan antusias bercerita kepadanya perihal pekerjaan saya dan bagaimana perkembangan March.

At this point of time, I love my mother more than I have ever did.

Anda mungkin familiar dengan adegan di dalam sebuah film, dimana jika seseorang mendekati kematiannya, ia seakan memainkan ulang kehidupannya di dalam kepalanya? I did that when I’m about to reconcile my inner self to improve my relationship with my mom. Bukan, saya (sepertinya) belum akan mati, dan begitupun dengan Ibu saya, (God, please don’t) yang tidak akan mati dalam waktu dekat. Saya membayangkan betapa sulitnya memutuskan untuk menikah di usia yang sangat muda, memiliki anak tidak lama kemudian, dan bercerai tidak juga lama setelah anak yang dikandungnya lahir ke dunia. Ibu saya harus menjual segala ambisi pribadinya untuk meraih pendidikan tinggi, melanjutkan sekolah ke luar negeri, dan melanjutkan karir sebagai seorang model demi mengurus keluarga yang tingkat kerapuhannya tidak lebih kuat dibanding susunan tulang Whitney Houston dipenghujung karirnya. Saya membayangkan perjuangan Ibu saya untuk memastikan bahwa nenek saya, paman saya yang merupakan Orang Dengan Skizofrenia (ODS), suami keduanya, anak laki-laki pertamanya, dan anak perempuannya satu-satunya mampu memiliki kehidupan yang lebih baik dari apa yang pernah ia jalani.

And the point when I decided to open up my mind, it opens up a possibility that I could’ve never imagine; an opportunity to love myself in a form of a woman whom I’m calling ‘Mother’.

Mama, if you’re reading this, my favourite rapper said this:

Hey Ma, hey Ma I know I never did behave a lot
Never got good grades a lot
And turned your hairs to grays a lot
And go in stores and take a lot
And never shopped but saved a lot
So you ain’t gotta shop at Save A Lot

Love you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s