Putus

Hari ini saya kehilangan seseorang. Bukan, seseorang yang saya maksud tidak meninggal dunia – trust me, this person is god damn *healthy*. Bukan jarak geografis dan long distance relationship yang menjadi faktor pemisah kami, bukan pula alasan klise seperti “it’s not you, it’s me” yang membuat hubungan ini tak lagi satu.

Bukan, saya bukan sedang membicarakan hubungan saya dengan Dara Ninggarwati Gumawang, sahabat perempuan saya selama tiga tahun terakhir. Saya sedang berbicara tentang seseorang yang – first and foremost – saya anggap sebagai kakak saya, kemudian teman saya, dan rekan kerja saya. Saya membicarakan seorang Fikri Rahman.

Tanggal 2 Januari 2017, Fikri menghubungi saya dan mengajak saya bertemu di hari ini, Kamis, 5 Januari 2017. Fikri bilang bahwa pertemuan ini akan membahas seputar “website march dan sekitarnya.” I was clearly under the impression that today’s meeting was going to be technical and fun, as always.

Until it’s not.

Setelah sub-domain [untuk H;DUP] selesai, mungkin itu akan menjadi project terakhir gue di March, Do.”

Entah mengapa saya memilih untuk mendengarkan lagu ini saat sedang menuliskan artikel ini. You might wanna do it to.

Pertama-tama, jika ada satu kata yang dapat menggambarkan metode kepemimpinan saya di March, maka kata itu adalah ‘personal’. March diawali oleh hasrat yang sangat emosional dan akan selalu begitu. March diisi oleh pribadi yang saya kenal selama bertahun-tahun, yang saya pahami dan memahami saya, dan saya tidak tahu cara lain yang lebih menenangkan dibandingkan itu. Thus, every decisions that affect the company will forever be personal.

Saya akan selalu mengingat kutipan dari Richard Webber – seorang tokoh fiktif dari serial Grey’s Anatomy – ketika ia memberikan nasihat kepada Miranda Bailey yang menjabat sebagai Chief of Surgery. Webber berkata,

“Bailey, we reach into people’s bodies and hold their lives and their futures in our hands. There’s nothing more personal than this job, in how we treat a patient, in how we raise our doctors and teach them how to do this work. Every decision that you make should be a personal one. If it isn’t, then you have no business being chief.”

And therefore, I am taking this loss really, really personally.

2017-01-05 08.28.25 1.jpg

Rasanya seperti putus cinta dan tidak kurang dari itu. Rasanya seperti dua insan yang telah lama menjalin kasih, kemudian terhenti di tengah jalan karena perbedaan visi. Rasanya sesakit itu.

I’m living my dream in my new workplace and I don’t think I will have the energy untuk membagi antara Traveloka dengan March. Daripada gue ngga efisien di dua-duanya, maka harus ada yang dikorbanin.

Jika anda bertanya apa yang saya rasakan ketika Fikri memaparkan alasannya meninggalkan March, bayangkan lah sebuah jus yang berisikan campuran bawang goreng yang-tidak-begitu-kering-dan-sedikit-lunak, ditambah dengan obat maag Mylanta, sedikit air dari lalapan yang tidak segar yang biasa disuguhkan oleh penjual nasi uduk dipinggir jalan menuju Danau Sunter, nasi basi dari desa Kolo, dan wajib anda minum ketika anda sedang typhus. Maafkan analogi yang buruk ini, namun setidaknya bahan-bahan itulah yang terlintas di kepala saya.

Kecewa, sedih, sakit, bahagia, semua berkecamuk tak beraturan.

Tapi saya tahu – bahkan kata ‘tahu’ is such an understatement – bahwa mempertahankan seorang yang tak lagi mencinta adalah salah satu cara paling bodoh untuk membuang waktu secara cuma-cuma. Di tengah perasaan yang berkecamuk itu, terdapat sela keikhlasan untuk saya melepaskan Fikri.

Berat memang. The fact that I even make this article shall show you how tough it is. Dalam upayanya merangkak dan mendewasakan diri, March harus ditinggal oleh salah satu punggawanya. Di tengah upaya kami meracik mimpi, terdapat elemen dalam diri kami yang harus direlakan.

Lucunya, saya tidak mendendam. Sama sekali tidak. Tidak terucap, bahkan tidak terlintas pemikiran untuk membalas dendam. “Awas lo ya, Kri. Kalau March sukses, imma rub it on your face.

Yang ada justru kewajiban membalas jasa.

I would never discourage people to grow. It is usual for a group of friends to outgrown each other and move on. And March will take the similar approach.

Cita kami bagi Fikri agar dirinya selalu berkembang dimanapun ia berada. Cita kami agar Fikri selalu mengingat March bukan hanya sebagai “mantan” yang menjadi portofolio, namun meletakkan kami dalam bingkai yang akan selalu ia kagumi dari waktu ke waktu.

And it is my honor to have worked with you in the past six months, mas Fikri.

Teruntuk punggawa March yang lain, jika kalian membaca tulisan ini, saya tidak ingin kalian mengalami mental breakdown. Justru kita harus bekerja lebih keras agar apa yang telah Fikri berikan kepada March selama ini tidak kemudian menjadi sia-sia. Selalu ingat bahwa masing-masing dari kalian adalah representasi dari diri saya. Masing-masing dari kalian adalah karakter diri saya yang Tuhan bentuk ke dalam individu lain. Dan, mengingatkan kembali tentang bagaimana March adalah kulminasi keputusan-keputusan yang personal, maka kalian adalah pilar yang menentukan apakah bangunan ini akan terus kokoh atau jatuh.

Untuk punggawa March yang lain, mengutip perkataan dari John Watson – seorang tokoh fiksi dari serial televisi Sherlock – izinkan saya mengatakan,

“The problems of your past are your business. The problems of your future are my privilege. That’s all I have to say. That’s all I need to know.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s