Vlog-ing?

Sudah cukup lama saya tidak menulis. Entah karena saya terlalu malas berpikir keras, atau karena fasilitas yang kurang memadai (baca: komputer jinjing yang sudah uzur), atau karena tidak ada permasalahan yang patut mendapatkan perhatian saya – which, I suppose, is highly unlikely. Namun hipotesis saya adalah karena dalam beberapa bulan terakhir tidak merasa tertekan. Not necessarily, saya tidak memiliki permasalahan apapun, hanya saja belum ada permasalahan yang … Continue reading Vlog-ing?

BES(/n)AR

Terlalu sederhana bagi saya untuk sekedar bersedih, terdiam melihat tragedi kemanusiaan yang terjadi di Baghdad, Medinah, Istanbul, Solo, dan kota-kota lainnya selama beberapa hari terakhir. Menjadi terlalu sederhana jika saya hanya bersimpati, menulis risalah sederhana terkait dilema yang saya alami saat ini tanpa adanya keputusan nyata yang dapat saya lakukan untuk menghentikan keseluruhan tragedi ini. Tidak adil rasanya untuk kemudian saya hanya menyebarkan headlines terkait bom bunuh … Continue reading BES(/n)AR

H;DUP

“After a throughout review and a discussion with our partner, we have decided that we are going to pass this opportunity.” Selama ini banyak yang mengatakan bahwa saya memiliki karakter yang sangat keras. Tidak sedikit yang melabeli saya sebagai individu yang tidak bisa berkompromi, sulit diajak bekerjasama, dan menolak kritik dalam bentuk apapun. Saya mungkin mengidap phobia tertentu terhadap penolakan, saya tidak tahu. Yang jelas, … Continue reading H;DUP

IT’S VANDALISM, PEOPLE!

Jujur, saya tidak mengikuti perkembangan apapun terkait layanan angkutan umum berbasis daring. Ketika banyak pengguna media sosial yang menyebarluaskan artikel perihal status hukum Gojek atau Grab Bike, pertikaian yang terjadi antara penyedia jasa transportasi umum konvensional dengan Uber, atau hal lain yang terkait, apa yang saya lakukan? Scroll, scroll, dan terus scroll sampai saya menemukan meme kucing atau artikel dari Buzzfeed. Sama halnya dengan apa … Continue reading IT’S VANDALISM, PEOPLE!

Manusia di bawah awan

“Sibuk apa lo Do sekarang?” Sebelum anda membaca lebih jauh tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan bahwa akan sangat banyak narasi-narasi reflektif, kritik yang saya tujukan tak lain dan tak bukan bagi diri saya sendiri, serta rangkaian paragraf yang begitu satire yang mewakili kegundahan saya selama beberapa bulan terakhir. Jika pada akhir tulisan ini anda memutuskan untuk melabeli saya dengan penilaian-penilaian negatif, maka saya sarankan … Continue reading Manusia di bawah awan

Pada Suatu Malam

ia  pun berjalan ke barat, selamat malam, solo, katanya sambil menunduk. seperti didengarnya sendiri suara sepatunya satu persatu. barangkali lampu-lampu ini masih menyala buatku, pikirnya. kemudian gambar-gambar yang kabur dalam cahaya, hampir-hampir tak ia kenal lagi dirinya, menengadah kemudian sambil menarik nafas panjang ia sendiri saja, sahut menyahut dengan malam, sedang dibayangkannya sebuah kapal di tengah lautan yang memberontak terhadap kesunyian. sunyi adalah minuman keras, … Continue reading Pada Suatu Malam

Dunia

Ketika manusia lain merayakan dunia, aku merayakanmu. Aku akan selalu merayakan hari ini untukmu sejak tiga belas tahun silam. Ika Natassa menulis: “Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.” “It’s when the aircraft is … Continue reading Dunia

Curtain Call

Sebelumnya saya selalu menekankan, kepada diri saya sendiri dan teman-teman saya, bahwa terdapat satu individu yang patut diberikan penghargaan setinggi-tingginya atas segala jerih payah yang masing-masing dari kita keluarkan: diri kita sendiri. Saya yang paling mengerti seluk-beluk perjuangan saya hingga dapat berdiri di sini (apapun definisi dari ‘sini’ itu sendiri); begitupun dengan anda yang paling memahami detil perjalanan anda, segala butir keringat yang jatuh, hingga … Continue reading Curtain Call

Cinta, Rangga, and the lucky number thirteen

In approximately five months, Indonesian movie lovers will be pampered, be reminded on how good the country’s motion picture industry was during the early reformation era. We, the people, will be presented with a sequel of one of the finest Indonesian movies of all time. We will dive deep into the reminiscence, the memory, the strong impression left by the first movie, when we eventually … Continue reading Cinta, Rangga, and the lucky number thirteen